KEPANJEN – Musim penghujan biasanya menjadi masa sulit bagi petani garam. Proses kristalisasi garam tradisional sangat bergantung pada panas matahari, sehingga produksi kerap terhenti berbulan-bulan.
Namun, teknologi garam tunnel yang mulai dikembangkan di Kabupaten Malang memberi harapan baru. Per unit teknologi tunnel ini bisa memproduksi 350–800 kilogram (kg) garam per bulan.
Hingga September 2025, tercatat ada 62 tunnel garam di Kabupaten Malang. Lokasinya tersebar di empat titik. Masing-masing di Pantai Modangan Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo (30 tunnel); Pantai Ngantep Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan (10 tunnel); Pantai Bajulmati Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan (12 tunnel); serta Pantai Perawan Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (10 tunnel).
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, menyebut bahwa sejak uji coba hingga Agustus lalu, total produksi garam tunnel telah mencapai sekitar 25 ton. Dengan kontribusi terbesar berasal dari Pantai Modangan.
Berbeda dengan metode konvensional, garam tunnel memanfaatkan rumah plastik menyerupai greenhouse yang melindungi air laut dari hujan dan kontaminasi. Hal ini membuat proses kristalisasi tetap berjalan meski cuaca mendung atau hujan.
“Dengan teknologi tunnel, petani garam tidak perlu berhenti produksi di musim hujan. Mereka tetap bisa panen dan memperoleh penghasilan ketika tidak bisa melaut,” ujar Victor Sembiring.
Rata-rata kapasitas produksi tunnel di Malang berkisar 350–800 kg per bulan per unit, tergantung cuaca dan kondisi tunnel. Dari sisi kualitas, garam yang dihasilkan lebih putih, bersih, serta memiliki kadar NaCl lebih tinggi dibandingkan metode tradisional.
Bagi nelayan setempat, teknologi ini menjadi alternatif mata pencarian ketika ombak besar membuat mereka tidak bisa melaut. Dengan produksi yang berkesinambungan, pendapatan mereka lebih stabil. “Kalau dulu nelayan berhenti total saat musim hujan, sekarang bisa tetap jalan. Memang pasarnya masih perlu diperluas, tapi setidaknya ada pemasukan,” ujar Victor.
Harga jual garam tunnel saat ini masih berada di kisaran Rp 3.500 – Rp 5.000 per kg, bergantung kualitas dan pembeli. Meski belum ideal, prospek ke depan dinilai cukup menjanjikan, terutama jika bisa menembus pasar industri dan wisata edukasi.
Meski menjanjikan, pengembangan garam tunnel masih menghadapi sejumlah tantangan. Modal awal untuk membangun tunnel cukup tinggi, pemasaran belum stabil, serta perlu dukungan sertifikasi agar bisa masuk pasar industri atau bahkan ekspor.
Namun demikian, pemerintah daerah optimistis. Selain membina KUGAR, Dinas Perikanan juga tengah mendorong pengembangan wisata edukasi garam di kawasan pesisir Malang.
“Teknologi tunnel bisa jadi solusi ketahanan produksi garam di tengah perubahan iklim. Harapannya, nelayan dan petani garam di Malang bisa lebih sejahtera,” pungkas Victor Sembiring.
Editor : A. Nugroho