RADAR MALANG - Hasil manis kembali ditorehkan LOSC Lille di Liga Europa UEFA. Klub Prancis yang diperkuat Calvin Verdonk, bek kiri andalan Timnas Indonesia itu, tampil ciamik dan sukses mengalahkan Serigala Ibukota AS Roma. Klub Serie A yang bertindak sebagai tuan rumah.
Digelar di Stadion Olimpico, Roma, Lille justru tampil percaya diri. Mereka bahkan bisa mencuri gol lewat tendangan keras Heraldsson di menit ke-6.
Gol itu berawal dari bola direct yang diarahkan ke lini pertahanan Roma. Mendapat bola kedua, Tsimikas melakukan kesalahan konyol dan bola berhasil dikuasai pemain Lille. Mendapat bola saat pertahanan Roma belum solid, baaaang! Tendangan Heraldsson meluncur deras Mile Svilar. Skor 1-0 bertahan sampai turun minum.
Masuk babak kedua, Roma coba meningkatkan intensitas serangan. Namun Olivier Giroud dkk tampil spartan. Atmosfer stadion yang luar biasa malah membuat mereka bersemangat.
Harapan bagi Roma sempat muncul di akhir pertandingan. Roma mendapat penalti usai bek Lille handsball. Di sinilah drama terjadi. Artem Dovbyk tampil sebagai penendang. Berhadapan dengan kiper Lille Berke Ozer, striker Ukraina melakukan tendangan yang sangat buruk ke sudut kiri kiper. Namun tendangannya sangat lemah. Ozer berhasil menepisnya, sebelum bek Lille membuang bola.
Tapi priiiit! Wasit Erik Lambrechts menganggap ada pelanggaran encroachmet karena ada pemain Lille yang masuk kotak penalti sebelum bola ditendang. Penalti harus diulang, Dovbyk kembali jadi algojo.
Sayangnya, dia kembali mengulangi hal yang sama. Menendang lemah ke sisi kiri kiper. Ozer kembali menepis dan bola keluar. Drama berlanjut. Penalti kembali diberikan ke Roma. Kali ini Soule yang maju. Tapi winger asal Argentina ini juga gagal.
Mental pemain Roma pun jatuh. Lille mampu mempertahankan skor 1-0 sampai peluit akhir dibunyikan.
Gian Piero Gasperini sampai geleng-geleng kepala menanggapi kegagalan timnya mendapat hasil maksimal. Apalagi sampai diwarnai dengan kegagalan tiga penalti beruntun dalam waktu yang singkat. “Belum pernah saya lihat sebelumnya kegagalan seperti itu,” ujarnya.
Namun Gasperini masih punya asa karena Liga Europa baru masuk matchday kedua. Masih ada delapan pertandingan lagi di fase ini.
Verdonk Kembali Dapat Saingan
Penampilan Calvin Verdonk sendiri layak diacungi jempol. Meski tampaknya lebih ditugaskan bertahan dan jarang membantu serangan, Verdonk bisa membuat sisi kiri Lille nyaris tanpa ancaman berarti. Dia bisa menjinakkan gladiator-gladiator Roma, seperti Soule dan Evan Ferguson.
Namun Verdonk yang mendapat panggilan untuk memperkuat Timnas saat melawan Arab Saudi (9/10) dan Irak (12/10) di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, mendapat pesaing baru. Romain Perraud sudah fit dan kembali dimainkan menggantikan Verdonk jelang akhir pertandingan.
Dengan fakta ini, artinya Verdonk harus semakin meningkatkan kualitasnya. Bek berusia 28 tahun ini tak hanya wajib selalu tampil konsisten, tetapi juga mesti memberikan kontribusi, baik saat bertahan maupun menyerang.
Sejauh ini, aspek bertahan seperti tekel dan intersep, masih dominan. Verdonk jarang naik dan memberikan suplai crossing bagi penyerang-penyerang Lille. Namun jika startegi berubah, bukan tak mungkin, dia akan ditugaskan lebih ke depan. Mengingat pemain kelahiran Dordrecht, Belanda ini juga memiliki umpan yang bagus dan tendangan kaki kiri yang keras.
Editor : A. Nugroho