Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

MLSC Menghidupkan Sepak Bola Putri Junior di Malang yang Mati Suri

Galih R Prasetyo • Minggu, 16 November 2025 | 02:15 WIB

KEMBALI BERLAGA: Para siswi berlaga dalam ajang MilkLife Soccer Challenge seri Malang di Stadion Gajayana, Sabtu (15/11).
KEMBALI BERLAGA: Para siswi berlaga dalam ajang MilkLife Soccer Challenge seri Malang di Stadion Gajayana, Sabtu (15/11).

MALANG KOTA- Stadion Gajayana kembali riuh suara suporter Sabtu (15/11). Suara dukungan itu menggema berbarengan dengan semangat para pemain mencetak gol dan mengolah bola. Aksi suporter itu datang bukan dari Aremania atau pendukung Persema Malang, tapi orang tua siswa dan para guru.

 Euforia sepak bola putri kelompok usia di Bumi Arema kembali menggaung dalam sepekan ini. Adalah kejuaraan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) yang menyulut bara semangat itu. Tidak bisa dimungkiri sepak bola putri junior di Malang Raya mati suri dalam beberapa tahun terakhir.

 Jika ada turnamen sepak bola putri bisa dibilang sangat minim. Akibat itu, banyak pemain putri atau sekolah di Malang yang punya tim putri harus ikut berlaga di kejuaraan yang mempertandingkan pemain putra. Langkah itu terpaksa ditempuh demi menjaga asa pesepak bola potensial di sekolah.

 Guru dan pelatih tim putri MI Al Ihsan Farid Bahroni bercerita kepada koran ini, saat pertama mendengar adanya ajang MLSC langsung ingin mendaftar. Meski harus bertanding jauh dari Jeru Turen, Kabupaten Malang, ke Kota Malang. Menurutnya, turnamen sepak bola putri tidak hanya minim jumlahnya di Malang Raya. Tapi juga jarang terselenggara.

 ”Karena itu hadirnya MilkLife Soccer Challenge ini kami lihat jadi jawaban dari problem itu (minimnya turnamen putri),” katanya. Apalagi, dari pihak penyelenggara ada komitmen untuk menyelenggarakan kejuaraan itu setiap tahun. Menurutnya, potensi pemain putri di Malang Raya tidak bisa dikesampingkan.

 Farid mencontohkan pemainnya Nagistha Bilqis. Mampu mengikuti program latihan di SSB yang berisi pemain putra. Sebelum mengikuti MLSC, Tim Sepak Bola Putri MI Al Ihsan sering berlaga di kejuaraan antar sekolah yang mempertandingkan siswa putra.

 Dia dan para pemain MI Al Ihsan memang enggan menyerah dengan kondisi sepak bola putri lokal dan nasional belum maksimal. Satu hal yang membuat mereka terus semangat adalah percaya akan mimpi. ”Kami bahagia, dua pemain kami dipantau untuk masuk tim All Stars MLSC Malang. Jika terpilih, itu akan menjadi jalan untuk pemain mengembangkan kemampuan,” paparnya.

 Sementara itu Nagistha Bilqis sangat bahagia bisa berlaga di Stadion Gajayana. Ajang seperti MLSC yang mempertandingkan pemain putri kelompok usia U-10 sudah dia nantikan dengan teman-temannya. ”Kami berlatih untuk ikut ajang ini sejak Agustus,” katanya.

 Di tempat terpisah, Pelatih MLSC Malang Heri melihat antusiasme sepak bola putri di Malang sangat luar biasa. Menurutnya, sekolah SD atau MI di Malang Raya yang ingin ambil bagian dalam ajang itu membeludak. Sampai harus dibatasi jumlah pesertanya.

”Ini menunjukkan sepak bola putri di Malang punya potensi yang besar,” katanya. Menurutnya, wajib diberi perhatian yang lebih supaya bisa dimaksimalkan. Karena itu, Bakti Olahraga Djarum Foundation punya komitmen menggelar ajang serupa tahun di Malang.

 Heru mengatakan, dalam ajang MLSC di Malang akan ada 14 pemain yang diambil untuk masuk tim All Stars. Setelah itu bertanding di Kudus. MLSC seri Malang diikuti 1.918 siswi dari 120 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Malang dan sekitarnya. Terbagi ke dalam 64 tim KU 10 dan 111 tim KU 12.

 

Editor : Galih R Prasetyo
#Sepak Bola Malang #Soccer Challenge 2025 #timnas putri #Sepak bola Putri