Mampu Tunjukkan Adaptasi Cepat Jadi Pemain Futsal
SUARA decit sol sepatu itu datang dari seorang perempuan berambut hitam yang terikat rapi. Tubuhnya tak terlalu tinggi, namun sorot matanya tajam. Memindai ruang permainan seperti sedang membaca peta.
Dialah Sabrina Mutiara Firdaus. Setiap kali kakinya menyentuh lantai GOR Among Rogo, Jogjakarta, ritme pertandingan berubah. Gerakannya cepat, ringan, dan penuh presisi.
Di posisi flank, Sabrina terus menusuk pertahanan lawan. Sesekali ia masuk dari sisi kanan, kadang memutar dari kiri dan memancing lawan keluar dari zona nyaman. Keberaniannya itu menjadi salah satu alasan Kuda Laut Nusantara (KLN) Angels mampu menutup Women Pro Futsal League (WPFL) 2024/2025 sebagai runner-up.
Dari bangku penonton, tepuk tangan dan sorak itu bukan hanya untuk permainan cepatnya. Melainkan untuk sosok perempuan yang bertahun-tahun membuktikan bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati arah.
Perjalanan Sabrina bukan kisah yang mulus sejak awal. Dunia futsal dan sepak bola ia masuki bersamaan ketika masih mengikuti SSB Futsal Banteng Muda Putri pada 2018. Saat itu, rambutnya masih sering jatuh menutupi dahi ketika berlari. Tapi semangatnya tak pernah turun.
Ia membawa tim itu promosi dari Liga Nusantara Futsal sebelum akhirnya bergabung dengan Kebumen United pada 2019. Hanya berselang setahun, dia hijrah ke Persiba Female FC. Di dua klub itu, Sabrina selalu berhasil mempersembahkan gelar WPFL. Namun setelah pandemi Covid-19, ia tak langsung kembali ke panggung liga futsal.
Saat itu kesibukan Timnas Putri dan Arema FC Women menyita perhatiannya. Dia pergi ke Turki untuk pemusatan latihan, lalu terlibat dalam AFF 2019, Kualifikasi Piala Asia 2021, hingga tampil di Piala Asia 2022 di India.
Meski begitu, kerinduannya pada intensitas futsal tidak padam. Pada 2023, ia kembali ke WPFL bersama Alive FC dan membawa klub itu finis di posisi kelima. Penampilan stabilnya membuat seorang rekan yang kini manajer KLN Angels mengajaknya bergabung musim berikutnya. Dari sana, petualangannya sebagai ”dua dunia” dimulai kembali.
Menjalani dua cabang olahraga sekaligus menuntut adaptasi luar biasa. Sabrina mengakui bahwa futsal memaksanya berpikir dan bergerak lebih cepat. Ruangnya lebih sempit, waktu mengambil keputusan lebih pendek, dan duel lebih intens.
”Secara posisi tidak jauh berbeda. Di sepak bola saya winger, di futsal saya flank. Tapi ritme futsal jelas jauh lebih cepat,” ujarnya.
Untuk menjaga kualitasnya, ia latihan privat tiga kali seminggu. Lalu masih meluangkan waktu ke gym. Ketika teman-temannya beristirahat, Sabrina biasanya masih berlari kecil atau melatih first touch.
Keputusan untuk aktif di WPFL juga dipicu kondisi sepak bola putri Indonesia yang belum punya kompetisi reguler. Turnamen-turnamen seperti Piala Pertiwi, Kajati Cup, sampai ASBWI Cup tidak cukup untuk menjaga level permainan pemain profesional.
Pada masa awalnya di Arema FC Women tahun 2021, Sabrina bahkan sempat rutin mengikuti turnamen antarkampung (tarkam) di berbagai provinsi. Dari Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Kalimantan, ia berpindah setiap bulan.
Cara itu memang membantu menjaga kondisi fisik. Namun kualitas lawan yang tidak merata membuatnya khawatir kemampuan teknisnya berhenti berkembang. Itulah alasan dirinya sempat ingin pergi ke luar negeri. Tawaran dari Eropa pernah mampir.
Begitu pula ajakan dari Kelana United Malaysia. Namun kontraknya dengan KLN Angels saat itu belum selesai. Ditambah klub tersebut sedang bersiap menuju AFC Championship sehingga mereka memilih mempertahankannya sampai seri berakhir.
Karena itu, WPFL menjadi ruang paling logis bagi Sabrina tetap berkembang. Kompetisinya jelas, lawan-lawan setara, dan banyak pemain timnas yang juga berlaga. Untuk urusan jadwal, Arema FC Women cukup fleksibel. Bila Sabrina tampil di WPFL, tim Ongis Kodew akan menyesuaikan.
Meski berprestasi di futsal, hatinya tetap pada sepak bola. Sabrina berharap Liga Sepak Bola Wanita benar-benar hadir sebagai kompetisi rutin. Menurutnya, hanya dengan liga yang jelas pemain Indonesia bisa bersaing di level internasional.
”Kalau ada kompetisi reguler, mental dan kualitas pemain akan jauh meningkat dan ketika masuk timnas kita lebih siap,” ujarnya. Usianya kini 25 tahun, masa emas bagi pesepak bola. Gelar demi gelar sudah ia kantongi bersama Arema FC Women.
Peringkat tiga Piala Pertiwi 2022, juara Piala GSWI Jatim 2022, Kajati Cup dan ASBWI Cup 2024, hingga lima kali berturut-turut juara Regional Pertiwi Cup. Namun Sabrina belum berhenti. Ia masih ingin mengangkat trofi Liga Wanita bersama Ongis Kodew. (*/adn)
Editor : A. Nugroho