Jadi Atlet Gulat Termuda, Mahasiswi UM Sabet Perak
KENANGAN di Pacific Park Sriracha, Chonburi, Thailand, 18 sampai 19 Desember lalu masih melekat di ingatan Mutoharoh. Dalam debut pertamanya di cabang olahraga (cabor) gulat SEA Games 2025 itu, dia langsung mendapat prestasi apik. Yakni medali perak.
Seharusnya, cabor gulat dipertandingkan di Bangkok. Namun karena waktu itu ada banjir besar, venue-nya dipindah ke Chonburi. Dalam laga gulat kelas 57 kilogram freestyle itu, dia harus menghadapi empat petarung-petarung tangguh asal Myanmar, tuan rumah Thailand, dan dua atlet Vietnam.
Mutoharoh bertarung pada 18 Desember lalu. Diawali dengan melawan Thae Thaint Thaint Thu asal Myanmar di fase knock out. Mutoharoh menang telak dengan skor 14 - 4. Lolos ke babak selanjutnya yang sekaligus menjadi semifinal, dia menghadapi Nguyen Thi My Trang asal Vietnam.
Pada pertandingan itu dia kalah. Secara otomatis dia masuk ke babak perolehan juara 2 melawan Siprapa Tho Kaew asal negeri Gajah Putih. Melawan kontingen tuan rumah, tekanannya jelas berbeda.
”Babak pertama saya unggul poin 4-1. Habis itu saya diserang habis-habisan sampai 30 detik terakhir baru membalikkan keadaan. Poin akhirnya 6-5,” kenang Mutoharoh.
Unggul selisih satu poin membawa alumnus Sekolah Menengah Atas Negeri Olah Raga (SMANOR) Jawa Timur di Sidoarjo tersebut meraih medali perak. Pada 20 Desember lalu dia kembali ke tanah air dengan semringah.
Prestasi tersebut cukup baik untuk debut pertamanya di ajang internasional. Terlebih, dia merupakan atlet gulat termuda dari Indonesia yang diberangkatkan ke SEA Games 2025. ”Total ada 18 orang yang berangkat saat itu,” kata dia.
Rata-rata, usia atlet yang dikirim yakni 22 sampai 39 tahun. ”Teman-teman saya sudah menikah semua, saya sendiri yang masih lajang,” kelakar dia. Selain itu, lawan Mutoharoh di SEA Games adalah atlet-atlet kawakan yang sudah beberapa kali ikut turnamen olahraga multi-cabor itu. Usianya juga lebih tua, antara 26 sampai 30-an tahun.
Itu jelas membedakan mentalitas antar-atlet yang bertanding. ”Lawan Vietnam itu yang paling terasa, sudah senior dan ikut SEA Games sejak 2018. Dia tidak agresif, lebih banyak bertahan, tapi main timing untuk menyerang saya,” ujar dia. Sedangkan atlet Thailand benar-benar agresif dan lebih banyak main dorong.
Selain itu, pemindahan venue dari Bangkok ke Chonburi juga memengaruhi persiapannya. Mereka harus melakukan penyesuaian ulang terhadap cuaca dan venue.
Walaupun SEA Games lebih bergengsi, mahasiswi semester 7 Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Malang (UM) itu mengaku kalau ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) lebih banyak tekanannya.
”Kalau PON itu ada target harus dapat medali, kalau SEA Games itu yang penting main apik saja,” imbuh perempuan yang sudah berkecimpung di dunia gulat sejak SMP itu. Sedikit dia mengenang ketika bertanding di PON Aceh-Sumut tahun lalu. Saat itu Mutoharoh meraih medali emas untuk Jawa Timur setelah mengalahkan Desya, atlet asal DKI Jakarta di babak final.
Itu sesuai target, tapi agak melenceng dari perkiraan dia sebelumnya. Sebab, saat itu yang digadang-gadang meraih tempat terbaik antara kontingen Jatim atau Kalimantan Timur (Kaltim). Kini, sepulang Mutoharoh di Indonesia, dia sedang bersiap-siap untuk ujian skripsi.
Di saat yang bersamaan, dia juga tengah berlatih untuk mengikuti ajang PON XXII di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) 2028 mendatang. ”Kalau untuk skala provinsi saya sudah tidak ikut. Ini tinggal menunggu PON NTB-NTT nanti,” kata dia. (*/by)
Editor : A. Nugroho