CABOR Wushu Kota Malang memiliki cara berbeda dalam menjaring atlet Sanda atau bertarung. Mereka lebih memilih untuk mencari atlet yang tidak memiliki dasar bertarung sama sekali. Itu karena, tim pelatih merasa jauh lebih mudah dalam membentuk karakter dan tekniknya.
Pelatih Wushu Sanda Fandi Alfian Chaniago menyebut, atlet dengan latar belakang bela diri lain kerap membutuhkan waktu adaptasi saat beralih ke wushu sanda. Penyebabnya, ada aturan ketat dalam hal teknik serangan yang membedakan dengan seni bela diri lainnya. Alhasil, pukulan tidak bisa dilepaskan dengan kekuatan penuh.
”Kasus ini berbeda saat atlet yang belajar dari nol. Mereka bisa cepat memahami teknik-teknik yang diajarkan,” ungkap dia. Meski harus mengajari atlet dari tingkat dasar, proses latihan tersebut tidak membutuhkan waktu yang panjang. Fandi menjabarkan, atletnya bisa menguasai pengetahuan tentang wushu sanda selama satu sampai tiga bulan.
Menurutnya, sejatinya banyak dari atlet dari cabor bela diri lain yang bergabung dengan Wushu Kota Malang. Namun, seiring berjalannya waktu mereka tidak melanjutkan aktivitas latihan karena dianggap terlalu sulit. Akibat itu tim pelatih menyimpulkan, konsistensi latihan akan berefek ke performa atlet. Meski belum punya dasar bela diri.
Hal itu terbukti dari penampilan Wushu Kota Malang di berbagai kejuaraan. Seperti piala bupati dan kejuaraan tingkat provinsi. Mereka juga sering meraih kemenangan dalam pertandingan try out menghadapi daerah lain di Jawa Timur. Selain itu juga menambah pengalaman bertanding atlet. (zan/gp)
Disunting kembali oleh: Afida Rahma Tsabita
Editor : Aditya Novrian