”Selain itu, latihan Cross Country (XC) sering digelar siang hari. Dalam kondisi panas, atlet membutuhkan banyak cairan dan energi untuk menghindari dehidrasi,” katanya. Kondisi tersebut semakin sulit karena faktor gravitasi mengakibatkan tubuh lebih cepat lelah dan haus. Terlebih lagi, semua atlet Paralayang Kota Malang beragama Islam dan menjalankan ibadah puasa.
Dari pertimbangan tersebut, selama bulan Ramadan diputuskan untuk para atlet menjalani latihan mandiri di rumah masing-masing. Fokusnya menjaga kebugaran. Latihan tersebut dilakukan selama satu sampai dua jam dalam sehari. Itu bertujuan agar kekuatan otot mereka tidak menurun secara signifikan setelah Ramadan dan Libur Lebaran.
Menurutnya, meski beraktivitas secara mandiri, sejumlah atlet berinisiatif berlatih terbang. Itu biasanya dilakukan di Pantai Modangan, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. ”Kalau cuaca memungkinkan, biasanya atlet akan berlatih di tempat itu untuk melakukan satu kali terbang per hari,” tandasnya.
Lantas, bagaimana program latihan setelah libur Lebaran? Samsul Hadi mengatakan, akan ada peningkatan jumlah repetisi terbang. Bisa lebih dari 5-10 kali. ”Intinya, kami akan mengasah pekerjaan rumah atlet secara bertahap saat ini,” katanya. (zan/gp)
Editor : Galih R Prasetyo