RADAR MALANG - Timnas Brasil dan Carlo Ancelotti masih punya banyak pekerjaan rumah. Hal ini usai Selecao takluk 1-2 saat melawan Prancis di Stadion Gillette, Massachusetts, AS, dini hari ini (27/3). Gol bek Juventus Gleison Bremer pada menit 78, memanfaatkan kemelut di depan gawang Prancis, tak mampu menghindarkan Brasil dari kekalahan.
Tampil di hadapan puluhan ribu suporter, kedua tim bermain dengan intensitas tinggi. Prancis yang mengusung skema 4-2-3-1 awalnya lebih banyak menginisiasi serangan. Anak asuh Didier Deschamps ini benar-benar melakukan permainan yang dewasa dan elegan. Hasilnya, di menit 32 mereka sudah unggul via gol Kylian Mbappe. Sang kapten sukses melesakkan gol ke gawang Ederson usai menerima umpan terobosan dari lini kedua.
Di babak kedua, Prancis melakukan pendekatan yang lebih reaktif. Menarik sejumlah penyerang utamanya seperti Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele, mereka justru mampu kembali mencetak gol lewat Hugo Ekitike di menit 65.
Sodoran bola matang dari Michael Olise sukses dikonversi sang penyerang menjadi gol. Ekitike yang memang tampil tajam di Liga Inggris bersama Liverpool seolah ingin membuktikan bahwa dirinya berhak menempati posisi starting eleven di tengah ketatnya persaingan di Timnas Prancis.
Usai kebobolan dua gol, Brasil tampak makin kedodoran. Penyerang mereka kalah fisik dari bek-bek tinggi besar Prancis. Karenanya, Don Carlo memasukkan nama-nama seperti Joao Pedro dan Igor Thiago yang lebih bertenaga.
Sayangnya, konektivitas keduanya ke dalam tim belum maksimal. Gelandang Brasil kerap kesulitan mendistribusikan bola ke sepertiga akhir lapangan akibat terisolirnya dua penyerang mereka itu.
Jangan Lupakan Kante
Bermain dengan kedalaman skuad yang mempuni membuat Prancis tetap stabil meski melakukan rotasi. Termasuk ketika pada pertengahan babak kedua, Aurelien Tchouameni ditarik keluar.
Gelandang 34 tahun, N'Golo Kante masuk. Pemain berjuluk Mr Nice Guy gara-gara senyum lebarnya ini tampil cukup baik.
Bila Tchouameni lebih berfungsi sebagai deep lying midfielder, Kante yang bertinggi 1,68 meter menjalankan tugasnya sebagai breaker dengan baik.
Dia melakukan pressing dan pergerakan yang membuat gelandang-gelandang Brasil tertekan.
Bahkan gol kedua Prancis yang dicetak Hugo Ekitike berasal dari pergerakannya. Melakukan kombinasi dengan Theo Hernandez di sisi kiri pertahanan Prancis, Kante sukses mengelabuhi pressing beberapa Brasil. Alhasil, lini tengah pun kosong. Prancis mampu memanfaatkan moment serangan balik itu dengan baik.
Kante yang bermain sekitar setengah jam juga mampu memberikan keseimbangan.
Dia seperti tak pernah kehilangan sentuhan terbaiknya. Gelandang energik ini juga mampu membuat lini tengah Les Bleus terjaga.
Bermain untuk Fenerbahce usai melanglang buana di Arab Saudi, Kante masih bisa menjadi elemen penting dalam skuad Ayam Jantan hingga beberapa tahun mendatang. Apalagi performa gelandang yang pernah membawa Leicester juara Premier League ini masih sangat konsisten. (rm)
Editor : A. Nugroho