RADAR MALANG - Determinasi tinggi. Visi jempolan. Skema andalan. Hingga soliditas tim yang terjaga selama 90 menit. Banyak hal positif yang bisa diambil dalam pertandingan pertama FIFA Series 2026 antara Timnas Indonesia melawan Saint Kitts and Nevis, malam ini (27/3).
Selain dominasi telak, 4-0 di hadapan puluhan ribu suporter di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) skuad Garuda benar-benar menjelma menjadi tim yang lebih kompak.
Mengusung formasi 4-4-2 racikan coach John Herdman, Timnas Indonesia kerap memberikan umpan-umpan 'kejutan' untuk Saint Kitts and Nevis.
Bergerak sangat cair, empat gelandang di lini tengah ibarat api yang terus menyala. Jordi Amat, Calvin Verdonk, Kevin Diks, hingga Beckham Putra menjadi kuartet kokoh yang menjadi inti permainan tim.
Sementara Ole Romeny bertransformasi seperti nomor 10. Sedikit menarik lawan ke belakang, lalu memberikan umpan kunci ke ruang kosong di depan.
Umpan terobosan langsung ke belakang pertahanan lawan menjadi kunci efektivitas serangan tim Garuda. Berkali-kali, Beckham Putra dkk mampu menghasilkan peluang dari cara seperti ini.
Beckham yang akhirnya menjadi Man of The Match sukses mencetak dua gol. Sedangkan Ole menambahkan satu gol dan dua assist. Sementara Mauro Zijlstra sebagai pemain pengganti mencetak satu gol.
Tak hanya itu, meski coach Herdman mengganti nyaris seluruh pemain di babak kedua, permainan tim tak goyah. Jay Idzes ditarik keluar. Rizky Ridho, jadi pengganti yang pantas.
Bila di babak pertama Ridho menjadi bek kanan, begitu sang kapten yang merupakan pemain Sassuolo itu keluar, Ridho yang memimpin sektor pertahanan.
Berduet dengan Elkan Baggott, oke. Ganti partner Justin Hubner juga tak masalah.
Sangat menarik pula melihat bagaimana Dony Tri Pamungkas menjalankan perannya. Stamina dan visi bermain full back Persija Jakarta ini tampak begitu maksimal.
Bermain penuh sepanjang pertandingan, tak hanya naik turun membantu serangan, Dony juga kebagian tugas mengambil sepak pojok.
Tak heran, selain Ole Romeny yang tampil ciamik di laga ini, kredit layak diberikan pada pemain 21 tahun ini.
Mauro Zijlstra yang kebagian menit bermain juga tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan coach Herdman.
Walau sempat gagal dua kali mengontrol bola, di menit 75, Zijlstra mampu lolos dari jebakan offside pada percobaan ketiga dan melesakkan gol pamungkas ke gawang Saint Kitts and Nevis.
Skor 4-0 cukup untuk mengantarkan Timnas Indonesia menantang Bulgaria di final. Beberapa jam sebelumnya, Bulgaria pesta gol ke gawang Kepulauan Salomon, 10-2.
Penyesuaian Taktik di Laga Final
Apakah coach Herdman bakal melakukan pendekatan yang sama? Menilik kebiasaan mantan pelatih Timnas Kanada itu, tampaknya strategi berbeda bakal diterapkan.
Berbeda dengan Saint Kitts and Nevis yang punya transisi cepat, Bulgaria justru unggul dalam built up serangan. Makanya, dibutuhkan agresivitas lini tengah yang lebih baik.
Alih-alih memasang Jordi Amat, menempatkan Joey Pelupessy yang lebih dinamis bisa menjadi pilihan. Oratmangoen juga bisa dicoba bila penetrasi di tengah permainan macet dalam pertandingan yang akan berlangsung dua hari lagi, tepatnya Senin, 30 Maret mendatang. (rm)
Editor : A. Nugroho