RADAR MALANG - Liam Rosenior akhirnya dipecat dari kursi kepelatihan Chelsea dini hari tadi (23/4). Pelatih 41 tahun itu harus mengakhiri kariernya dengan tim London Biru lebih cepat Menggantikan Enzo Maresca sejak awal 2026 lalu, Rosenior yang sebenarnya punya kontrak jangka panjang dinilai tak berhasil mengangkat performa skuad The Blues. Bahkan hasil buruk dalam beberapa laga terakhir membuat manajemen tak punya pilihan lain selain mendepak mantan pelatih Strasbourg ini.
Di Liga Inggris, Chelsea mengalami 5 kekalahan beruntun. Mulai dari kekalahan 0-1 saat menjamu Newcastle United di Stamford Bridge (15/3), dua hasil memalukan dari Everton (22/3) dan Manchester City (12/4) dengan skor masing-masing 3-0. Juga dua kekalahan saat melawan Manchester United 0-1 (19/4) dan 3-0 ketika melawat ke kandang Brighton & Hove Albion, Rabu lalu (22/4).
Bahkan jika menilik hasil di Liga Champions, maka 'dosa' Rosenior pun makin besar. Mereka kalah dalam dua laga menghadapi PSG di babak 16 besar dengan agregat 8-2 sehingga harus tersingkir lebih cepat.
Hasil positif Rosenior dalam dua bulan terakhir hanyalah di laga Piala FA. Itu pun Chelsea menang saat menghadapi Wrexham, yang merupakan klub Championship League dan Port Vale, klub League One EFL atau kasta ketiga Liga Inggris.
Tak ayal, manajemen yang makin terdesak oleh tekanan suporter mereka akhirnya memilih memecat Rosenior.
"Ini bukan keputusan yang diambil klub dengan mudah. Namun, hasil dan performa belakangan ini berada di bawah standar. Padahal masih banyak pertandingan yang harus diperjuangkan musim ini," tulis Chelsea dalam pernyataan resmi klub yang diposting di akun instagram mereka (23/4).
Dalam pernyataan tersebut, manajemen juga berharap yang terbaik untuk karier Rosenior selanjutnya. "Semua orang di Chelsea mendoakan Liam sukses di masa depan."
Sejak awal penunjukkannya, Liam Rosenior sendiri sebenarnya kerap diragukan bisa mengemban tugas sebagai pelatih klub besar sekaliber Chelsea. Dia dianggap terlalu minim pengalaman untuk mengarungi kerasnya Liga Inggris.
Walau dianggap sukses kala membesut Strasbourg di Ligue 1, namun pelatih kelahiran Wandsworth, London ini belum pernah teruji di level tertinggi.
Alih-alih keputusan brilian, penunjukkan sang pelatih justru dinilai sebagai perjudian yang punya risiko sangat besar.
Apalagi, kontrak Rosenior juga jadi beban tersendiri. Dia dikontrak hingga 2032. Dengan kontrak sepanjang itu, Chelsea dikabarkan harus mengucurkan dana besar bila memutus kontrak di tengah jalan. Nominalnya mencapai 24 juta pounds atau setara 557 miliar rupiah.
Hanya saja, Chelsea tampaknya tak harus membayar kompensasi sebesar itu. Kabarnya, karena tak ingin mengulang kesalahan dalam merekrut pelatih-pelatih sebelumnya, ada celah dalam kontrak Rosenior yang menguntungkan Chelsea. Dimana dengan rincian target dan performa tertentu, klub bisa saja memutus kontrak pelatih tersebut tanpa harus mengucurkan jutaan pounds.
Dari pernyataan resmi klub yang sama, Chelsea kini mempercayakan nahkoda tim pada Calum McFarlane sebagai pelatih interim.
Tugasnya tak mudah. Selain masih berkompetisi di Piala FA, Chelsea masih harus berjuang untuk mendapatka jatah Eropa musim depan di liga. Posisi mereka di peringkat 7 rawan tergusur oleh tim lain seperti Brentford, Everton, hingga Sunderland.
McFarlane sendiri bukan nama asing di Chelsea. Dia sudah menjadi bagian dari klub sejak era kepelatihan Enzo Maresca. Termasuk sempat menjadi pelatih tim muda mereka.
Sebelumnya, Chelsea memang dilatih oleh Enzo Maresca. Pelatih asal Italia ini menjadi pelatih Chelsea sejak Juli 2024. Saat itu, eks asisten Pep Guardiola ini dianggap berhasil mengangkat performa Leicester City.
Maresca pun punya statistik yang cukup baik. Dia mampu meramu bakat-bakat muda Chelsea untuk menjadi tim yang solid.
Prosesnya mulai menunjukkan hasil tahun lalu. Mereka berhasil menjuarai Liga Konferensi Eropa dan Piala Dunia Antarklub 2025.
Namun manajemen Chelsea tampaknya punya pandangan lain. Awal 2026, mereka malah memutus kontrak Maresca.
Masalahnya, keputusan Chelsea berpisah dengan Maresca, sejatinya lebih banyak dipengaruhi unsur politis daripada alasan teknis semata.
Bersama Maresca, Chelsea yang mengadopsi formasi 4-2-3-1 mulai nyaman bermain dan menemukan bentuk terbaiknya. Hanya saja, Maresca kabarnya terlibat friksi dengan manajemen berkenaan dengan strategi klub menjalankan bisnisnya. (rm)
Editor : A. Nugroho