RADAR MALANG- Hasil negatif melawan Persebaya Surabaya (28/4) menjadi alarm bagi skuad Arema FC. Baik pemain dan pelatih mendapat ultimatum untuk memperbaiki performa di sisa laga BRI Super League. Saat gagal melakukannya, manajemen klub sudah menyiapkan evaluasi besar.
General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi menjelaskan, kekalahan dalam laga krusial melawan Persebaya menjadi bahan evaluasi. Apalagi hasil itu memperpanjang rekor Singo Edan tak pernah menang melawan Green Force. Kekalahan yang dirasakan saat itu, juga jadi terbesar musim ini.
Berangkat dari itu, manajemen klub tidak bisa untuk tinggal diam. Perbaikan harus dilakukan sebagai komitmen tim jadi lebih baik. Selain itu, meminta tanggung jawab elemen tim agar menunjukkan performa maksimal sampai akhir musim.
”Kami menginstruksikan secara tegas kepada elemen tim agar empat laga terakhir harus menghasilkan poin maksimal,” ujar pria kerap disapa Inal itu. Manajemen akan memantau bagaimana kesungguhan pemain atau pelatih selama periode tersebut. Lalu, melakukan penilaian secara menyeluruh.
Siapa saja yang masih bisa mengenakan kostum Singo Edan musim depan. Menurutnya, target finish posisi lima besar disepakati anggota skuad pada awal musim. ”Fokus utama kami saat ini adalah introspeksi (diri), perbaikan kualitas, dan bangkit demi nama besar Arema FC dan Aremania,” katanya.
Meski begitu, pria asal Bogor tersebut tidak memungkiri adanya faktor di luar lapangan yang mengakibatkan Arema FC tidak bisa tampil maksimal di laga lawan Persebaya. Seperti jadwal padat yang mengakibatkan kondisi fisik pemain menurun. Faktor ketidakpastian venue pertandingan juga menjadi tantangan dalam mempersiapkan tim.
Seperti diketahui, Arema FC hanya menggelar latihan di lapangan pada H-1 sebelum laga. Itu menyusul, pada 24 April atau tiga hari sebelum Derbi Jatim melawan Persib Bandung. Jayus Hariono melakukan perjalanan ke Bali pada 25 April.
Selain itu, bermain di Bali membuat Arema FC tak dapat dukungan dari Aremania. Laga yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta berlangsung tanpa penonton. ”Kepastian venue atau kepastian lokasi pertandingan laga sangat krusial bagi kesiapan mental dan logistik klub,” papar Inal. (zan/gp)
Editor : Galih R Prasetyo