ESI Kota Batu Kesulitan Cari Atlet di Game Populer

M. Affan Fauzan • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:00 WIB
KOMPAK: Lima remaja duduk membentuk lingkaran di lantai dasar Cyber Mall Malang Minggu lalu (14/1). Mereka bermain game free fire.
KOMPAK: Lima remaja duduk membentuk lingkaran di lantai dasar Cyber Mall Malang. Mereka bermain game free fire.

 RADAR MALANG-Popularitas game tidak selalu berbanding lurus dengan ketersediaan atlet. Situasi itu dirasakan cabor ESI (Esports Indonesia) Kota Batu saat berusaha melakukan regenerasi atlet di game Free Fire. Mereka harus bekerja ekstra untuk menemukan atlet yang memiliki kemampuan sesuai standar kompetisi.

 Ketua ESI Kota Batu Azariel menjelaskan, pengguna game Free Fire sejatinya cukup banyak tersebar di Kota Batu. Usia penggunanya juga terbilang muda, mulai dari bangku SD sampai SMA. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak memiliki minat untuk menekuni game tersebut ke jenjang profesional.

 ”Kebanyakan dari mereka hanya memandang game tersebut untuk bersenang-senang,” ujarnya. Kondisi tersebut membuat ESI Kota Batu kesulitan untuk menjaring atlet baru.  Sekaligus tak bisa menerapkan standar khusus yang menjadi patokan mendapatkan atlet kompetitif.

 Agar regenerasi atlet Free Fire tetap berlanjut, pria yang akrab disapa Ari tersebut harus melakukan strategi jemput bola. Seperti melakukan sosialisasi kepada siswa-siswa di sekolah agar bisa memandang game itu jadi suatu hal yang kompetitif dan bisa bermuara ke prestasi. Termasuk mengirimkan pelatih bersertifikasi Esport ke sekolah.

 ”Selain itu, kami juga berencana untuk menggelar turnamen yang melibatkan game Free Fire,” ungkap Ari. Harapannya, dari ajang tersebut ESI Kota Batu bisa menemukan talenta-talenta baru dari pertandingan regional. Agar nantinya bisa diproyeksikan untuk tampil di berbagai kejuaraan bergengsi. (zan/gp)

Editor : Galih R Prasetyo
ESI Kota Batu Esports Indonesia Free Fire