Dari Balapan Elit ke Fenomena Anak Muda, Apa yang Berubah dari F1?

Khansa Kamila • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:30 WIB
Sergio Perez dan Max Verstappen di podium GP Monaco 2022. Foto: Reuters. Sumber: https://sports.okezone.com/read/2022/05/30/37/2602462/sergio-perez-dan-max-verstappen-finis-podium-di-f1-gp-monaco-2022-strategi-red-bull-racing-tuai-pujian
Sergio Perez dan Max Verstappen di podium GP Monaco 2022. Foto: Reuters. Sumber: https://sports.okezone.com/read/2022/05/30/37/2602462/sergio-perez-dan-max-verstappen-finis-podium-di-f1-gp-monaco-2022-strategi-red-bull-racing-tuai-pujian

MALANG, RADAR MALANG - Merajai keluarga motorsport, sedikit yang tidak mengetahui FIA Formula One World Championship atau F1, ajang balapan berkelas dengan mobil gepeng super cepat. Data Nielsen tahun 2025 menunjukkan bahwa penggemar F1 mencapai 831 juta di seluruh dunia, dengan angka yang terbanyak dari kalangan pemuda, membuktikan olahraga ini telah kembali bangkit setelah keredupannya di tahun 2017.  

 

Setelah diakuisisi Liberty Media, Formula 1 mengalami lonjakan pertumbuhan yang pesat dibandingkan dengan olahraga lain. Lambang Ferrari, Mclaren, dan Red Bull bersama mobil gepengnya kini sangat mudah ditemukan melalui berbagai kolaborasi produk dan kampanye. 

 

Kesuksesan ini bukan lahir tanpa strategi. F1 mengubah cara penggemar menikmati ajang balap dengan memperluas akses penayangan. 

 

Selain meraup penggemar baru melalui serial dokumenter di Netflix, F1: Drive to Survive, F1 sangat gencar bermedia sosial pada berbagai platform. Tayangan dan konten menghibur tentang kehidupan dibalik perlombaan sukses memunculkan penggemar baru dari kalangan generasi muda. Podcast, wawancara, dan game juga menjadi program acara ramai penonton yang dapat diakses dengan mudah melalui YouTube.

 

Sebelum tahun 2017, Formula 1 hanya dapat diakses melalui televisi. Media sosial sebagai jangkauan ke anak muda dihindari karena  dianggap tidak menguntungkan. Bernie Ecclestone pemimpin komersial F1 lebih memilih menjangkau generasi usia 70-an yang lebih memiliki daya beli.  

 

Di sisi lain pandangan tersebut terlihat masuk akal mengingat F1 adalah olahraga yang lekat dengan eksklusivitas dan kemewahan. Namun, kemerosotannya saat itu memang membutuhkan “sesuatu” yang lebih segar untuk mengembalikan dan menambah audiensnya. 

 

F1 juga menggandeng berbagai tim media bahkan para content creator untuk menghadirkan tayangan bagi para audiens. Konten yang dibagikan tidak hanya tentang balapan, tetapi juga memperlihatkan kehidupan di balik paddock, aktivitas pembalap, hingga keseharian masing-masing tim. Hal ini membuat F1 terasa lebih dekat dengan penggemar dan memberikan ruang di hati audiens dan mengenal olahraga tersebut dari sisi yang sebelumnya jarang terlihat.

 

Jika dahulu Bernie Ecclestone mempertanyakan alasan F1 harus mengejar generasi muda yang dianggap belum memiliki daya beli, pendekatan F1 kini tidak hanya mendapatkan penonton, tetapi juga komunitas yang secara sukarela ikut membicarakan dan memperkenalkannya.

Editor : Aditya Novrian
Olahraga f1 Balap Motorsport formula 1