KABUPATEN - Tugas Striker Arema FC Mauro Zijlstra dalam pertandingan BRI Super League tidak hanya sekadar mencetak gol. Dia mendapat tugas tambahan saat tim sedang dalam skema bertahan atau diserang lawan. Pemain pinjaman dari Persija Jakarta itu diharuskan membantu melakukan pressing dan menjaga kerapatan formasi.
Penyerang berusia 21 tahun itu menjelaskan, peran tersebut dijalankan saat Singo Edan kehilangan bola. Semetara pada waktu pemain belakang lawan sedang mencoba membangun serangan, dia diminta langsung melakukan pressing untuk membuat lawan tidak nyaman. Sekaligus mempersempit opsi umpan yang bisa dilakukan lawan.
”Dalam situasi itu, kami biasanya bertahan membentuk formasi menjadi 4-4-2,” ujarnya. Bersama satu gelandang serang di lini depan, dia harus menjaga pemain lawan. Tujuannya, supaya bisa melakukan counter pressing saat mendapat bola atau lakukan intersep.
Namun, saat harus bertahan dalam situasi bola mati seperti sepak pojok, dia juga diminta turun membantu lini belakang. Postur Mauro Zijlstra yang cukup tinggi dilihat jadi keuntungan untuk mengantisipasi ancaman bola-bola atas.
Menurutnya, tugas tersebut tidak menjadi beban untuknya. Justru, hal itu dilihat penting agar Arema FC lebih solid dan sulit alami kemasukan. Tugas tersebut juga dia jalankan bersama klub-klub sebelumnya.
Menurutnya, skema bertahan 4-4-2 tidak menjadi formasi pakem. Dalam beberapa situasi, dia juga harus bertahan seorang diri maupun ditemani dengan dua winger. ”Setiap pertandingan punya pendekatan yang berbeda- beda, tergantung dengan strategi yang dijalankan lawan,” jelasnya.
Contohnya pada laga melawan Persik. Para pemain Arema FC diminta bermain agresif saat tanpa bola. Satu tujuannya, tidak membiarkan lawan nyaman mengalirkan bola untuk membangun serangan. (zan/gp)
Editor : Aditya Novrian