General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi tidak menampik masih ada trauma yang membekas dari peristiwa tersebut meski sudah empat tahun berlalu. Terutama dialami dari sisi korban maupun keluarga korban. Menurutnya, dampaknya besar. Tidak hanya dari suporter dan klub, namun juga masyarakat Malang Raya.
Melihat kondisi tersebut, Arema FC ingin perlahan bangkit dengan menunjukkan kalau klub sanggup bertahan dan memperbaiki diri. ”Ini sudah empat tahun (pasca Tragedi Kanjuruhan), sudah waktunya kami bergerak, berjalan dan berlari lagi untuk Malang Raya,” ujarnya.
Dia menjelaskan, untuk bisa pulih sedikit demi sedikit, diperlukan banyak persiapan. Seperti melakukan sosialisasi ke pihak keamanan dan pemerintah daerah untuk meningkatkan sistem keamanan saat bertanding di Stadion Kanjuruhan. Sekaligus memberikan bantuan kepada para korban agar bisa pulih secara fisik maupun psikis.
Pria yang akrab disapa Inal itu mengungkapkan, waktu empat tahun seharusnya menjadi momentum yang tepat untuk bisa kembali menggelar berbagai aktivitas di stadion. Arema FC ingin mengelola stadion Kanjuruhan secara penuh. ”Terkait dengan pengelolaan kami sudah memiliki beberapa program untuk bisa menggerakkan semua (lini di Malang Raya) lagi,” imbuhnya.
Gelar Pengajian Sederhana
Manajemen Arema FC mengenang Tragedi Kanjuruhan dengan menggelar pengajian sederhana. Khataman Alquran dan tahlil tersebut berlangsung di Kandang Singa, Kantor Arema FC, hari ini (1/10). Agenda tersebut rutin digelar manajemen setiap 1 Oktober sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada para korban.
Inal menjelaskan, agenda tersebut sudah rutin digelar selama bertahun-tahun. Manajemen ingin khataman dan tahlil berlangsung secara khidmat dengan melibatkan warga sekitar serta seluruh elemen Singo Edan. Mulai dari karyawan sampai manajemen hadir dalam kegiatan tersebut.
"Kami memilih untuk tetap menggelar pengajian di kantor saja, sama seperti sebelum-sebelumnya,” ujar dia. Menurutnya, serangkaian kegiatan tersebut penting digelar setiap tahun. Itu karena, menjadi pengingat dan pembelajaran. Sekaligus memberikan doa terbaik untuk para korban dan menguatkan keluarga korban yang ditinggalkan. (zan/gp)
Editor : Galih R Prasetyo