Mahasiswa FILKOM UB Raih Emas dan Dua Perak di Keparprov Jatim 2026

Kholid Amrullah • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 15:13 WIB
Arzi saat mengikuti Kejuaraan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur (Keparprov Jatim) 2026 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 19–20 September 2026.
Arzi saat mengikuti Kejuaraan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur (Keparprov Jatim) 2026 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 19–20 September 2026.

MALANG - Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), Muhammad Rizki Arzi, yang biasa disapa Arzi, dari Program Studi Teknik Informatika angkatan 2025 asal Nusa Tenggara Barat (NTB), berhasil meraih satu medali emas dan dua medali perak pada Kejuaraan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur (Keparprov Jatim) 2026. Kompetisi olahraga bagi atlet disabilitas ini diselenggarakan oleh National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jawa Timur pada 19–20 September 2026 di lingkungan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan diikuti oleh atlet serta ofisial dari 35 kabupaten/kota di Jawa Timur. Di sisi lain, Arzi juga aktif di UKM Atletik Universitas Brawijaya dan saat ini dipercaya sebagai Ketua Umum periode 2026/2027. Arzi merupakan penyandang disabilitas daksa dengan impairment pada anggota gerak atas. Dalam para-atletik, ia masuk dalam klasifikasi T45–47.

“Klasifikasi ini bukan menjadi batasan untuk menentukan apa yang bisa saya lakukan. Justru melalui klasifikasi tersebut saya mendapatkan ruang untuk berkompetisi secara adil dengan atlet yang memiliki tingkat dampak impairment yang relatif sesuai. Bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana saya bisa terus mengembangkan kemampuan yang saya miliki, baik sebagai atlet maupun sebagai mahasiswa,” ujarnya.

Keparprov Jatim 2026 menjadi pengalaman pertama Arzi mengikuti ajang paralimpiade. Ia datang bukan sebagai atlet unggulan, melainkan sebagai penantang yang ingin menguji kemampuan setelah sebelumnya lebih banyak mengikuti kompetisi atletik umum. Sejak berada di lokasi pertandingan, atmosfernya sudah terasa berbeda. Ia bertemu dengan banyak atlet yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman di para-atletik, termasuk beberapa atlet yang pernah menjadi juara.

Pada nomor 200 meter dan 400 meter, Arzi harus beradaptasi dengan karakter perlombaan yang lebih cepat, padahal ia sendiri berasal dari pelari middle distance. Salah satu momen yang paling menguras fisik terjadi ketika ia harus menjalani 800 meter dan hanya sekitar 10 menit setelahnya kembali turun di nomor 400 meter.

“Setelah menyelesaikan 800 meter, tubuh tentu masih dalam kondisi sangat lelah, sementara waktu untuk melakukan recovery sangat terbatas. Di situ tantangannya bukan hanya soal kemampuan berlari, tetapi juga bagaimana saya bisa memulihkan napas, menenangkan tubuh, mengatur kembali fokus, dan mempersiapkan mental untuk kembali masuk ke lintasan dalam waktu yang sangat singkat,” tuturnya.

Arzi di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), Rabu, 30 September 2026.
Arzi di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), Rabu, 30 September 2026.

Menurutnya situasi tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya selama kejuaraan. Hasilnya, dari tiga nomor yang diikuti, Arzi berhasil meraih medali emas pada nomor 800 meter serta dua medali perak pada nomor 400 meter dan 200 meter. Medali emas di nomor 800 meter memiliki arti tersendiri karena merupakan debutnya di ajang paralimpiade. Keparprov Jatim 2026 menjadi titik awal perjalanan Arzi di para-atletik. Ia datang sebagai penantang, tanpa mengetahui secara pasti seperti apa hasil yang akan didapatkan. Tetapi dari lintasan inilah ia mendapatkan pengalaman yang membuatnya semakin percaya diri untuk terus berkembang dan menghadapi kompetisi berikutnya.

Sebelum bergabung dengan NPCI Kota Malang, Arzi cukup sering mengikuti kompetisi umum yang memberinya banyak pengalaman. Saat berada di Malang, ia sedang mencari informasi mengenai NPCI Kota Malang dan justru mendapat tawaran untuk bergabung melalui DM Instagram. Keparprov Jatim 2026 pun menjadi event pertamanya bersama NPCI Kota Malang.

Menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus atlet bukan hal yang mudah. Arzi memulai rutinitasnya sejak pagi: sekitar pukul 05.00 ia berangkat latihan, pukul 07.00 sudah berada di kampus untuk mengikuti perkuliahan atau mengerjakan praktikum, memanfaatkan waktu kosong di sela mata kuliah untuk belajar, kembali berlatih pada sore hari, dan melanjutkan belajar pada malam hari. Menurutnya, kuncinya adalah memprioritaskan, disiplin, dan memanfaatkan waktu sekecil apa pun. Ia berusaha tidak menunda tugas agar tidak menumpuk ketika jadwal latihan sedang padat. Meski sibuk, Arzi tetap mengikuti kegiatan seperti lomba Karya Tulis Ilmiah, business plan, hingga menyusun jurnal atau artikel. Ia menegaskan bahwa kuliah dan olahraga bukan dua hal yang harus dipilih salah satunya, melainkan bisa berjalan bersama.

Sebagai mahasiswa FILKOM UB, Arzi merasakan dukungan kampus, terutama ketika harus mengikuti perlombaan sebagai atlet. Salah satu dukungan yang sangat membantu adalah kemudahan dalam proses dispensasi ketika jadwal pertandingan berbenturan dengan jadwal perkuliahan, praktikum, atau kegiatan akademik lainnya.

“Dukungan dari pihak fakultas dan universitas sangat membantu saya untuk tetap bisa menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa sekaligus memenuhi tanggung jawab sebagai atlet,” ungkapnya.

Prestasi Arzi ini menjadi bukti bahwa semangat, disiplin, dan dukungan lingkungan kampus mampu mendorong mahasiswa untuk berprestasi di tingkat provinsi maupun nasional, sekaligus memperkuat nilai inklusivitas di lingkungan Universitas Brawijaya. (rr)

Editor : Kholid Amrullah
UniversitasBrawijaya_SDG10 UniversitasBrawijaya_SDG3