MALANG KOTA –RADAR MALANG- Ingatan kolektif terkait tragedi Kanjuruhan terus dijaga di Bumi Arema. Semangat menyuarakan dan mengenang peristiwa kelam itu muncul di berbagai wilayah di Malang Raya, kemarin. Salah satunya, di depan Balai Kota Malang dan Alun-Alun Tugu.
Puluhan masa yang tergabung dalam aksi Kamisan itu membawa spanduk dan flyer dengan pesan mengenai tragedi Kanjuruhan. Mereka menyuarakan, empat tahun tanpa keadilan, jangan berhenti membicarakan tragedi Kanjuruhan.
Fasilitator Aksi Kamisan Malang Muhammad Eko menjelaskan, selama empat tahun lamanya banyak hal yang terjadi pasca insiden kelam tersebut. Salah satunya, upaya memperjuangkan keadilan terus dilakukan. Baik itu melalui jalur litigasi, non litigasi, sampai berbagai tuntutan.
”Maka dari itu, aksi hari ini (1 Oktober) kami memaknai sebagai Don’t stop talking about Kanjuruhan,” ujarnya. Menurutnya, waktu empat tahun ini digunakan untuk terus menyuarakan terkait keadilan. Tujuannya, supaya aksi menolak lupa terkait tragedi Kanjuruhan bisa terus ada pada tahun-tahun mendatang.
Dia mengungkapkan, proses peradilan sudah dilakukan negara dengan adanya pembagian restitusi, dan berbagai bantuan. Namun, restitusi tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi tuntutan. Baik itu keluarga korban dan korban itu sendiri.
Dalam peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan, peserta Kamisan menggelar berbagai aksi. Mulai dari aksi diam, refleksi dan orasi di depan Balai Kota Malang, kemudian berpindah ke depan Gate 13 Stadion Kanjuruhan untuk melakukan doa bersama pukul 19.00 WIB.
Eko mengungkapkan, kalau aksi tersebut memang kebanyakan datang dari para peserta yang sering ikut Kamisan. Namun, dia tidak memungkiri kalau ada beberapa elemen yang juga ikut. Seperti pihak yang aktif ikut mengusut tuntas tragedi Kanjuruhan dan Aremania.
Meski sudah empat tahun berlalu, Eko berharap aksi dan tuntutan tragedi Kanjuruhan tidak berhenti. Agar keadilan yang diinginkan para korban dan keluarga korban bisa segera terpenuhi. ”Tajuk tentang tragedi Kanjuruhan juga tetap kami teruskan setiap Kamis, harapannya ini bukan menjadi yang terakhir dan bisa dilakukan tidak hanya satu kelompok namun banyak orang juga,” jelasnya.
Daffa salah satu peserta yang ikut aksi kemarin mengatakan, kalau selalu hadir di peringatan 1 Oktober. Dia merupakan korban selamat dari tragedi Kanjuruhan. ”Saya beruntung bisa keluar karena pintu gate delapan terbuka dengan waktu 15 menit, sedangkan teman-teman lain kesulitan keluar,” ujar pria asal Donomulyo itu. (zan/gp)
Editor : Galih R Prasetyo