RADAR MALANG - Meski sudah empat tahun berlalu, ingatan akan Tragedi Kanjuruhan masih terpatri dalam elemen tim Arema FC. Baik anggota skuad yang merasakan langsung peristiwa kelam itu terjadi dan yang tidak, menjadikan momen 1 Oktober sebagai refleksi. Selain menolak lupa, mereka juga belajar dari kejadian yang merenggut nyawa Aremania itu.
Salah satu penggawa Singo Edan yang menjadikan momen 1 Oktober sebagai bagian refleksi adalah Achmad Maulana Syarif. Fullback Kanan berusia 23 tahun itu mengaku masih merasakan kesedihan saat mengingat kembali tragedi Kanjuruhan. Menurutnya, para korban merupakan bagian dari keluarga besar Singo Edan.
Aremania merupakan sosok pemain ke-12 yang memberikan dukungan luar biasa sebelum malam kejadian. Sepanjang 90 menit pertandingan terus memotivasi pemain. ”Meski sudah cukup lama (kejadian tragedi Kanjuruhan), tetapi jika mengingatnya lagi pastinya kami bersedih atas tragedi tersebut,” ujarnya.
Menurut mantan pemain Persija Jakarta itu, salah satu cara terbaik untuk mengenang peristiwa tersebut adalah mengirim doa kepada para korban. Mendoakan mereka yang berpulang agar mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Lalu, juga mengirim doa kepada keluarga korban supaya mereka diberikan kekuatan dan ketabahan.
Achmad menjelaskan, kalau sampai kapan pun skuad Arema FC tidak akan pernah melupakan tragedi tersebut. Baik itu pemain anyar atau lama. Hal itu dibuktikan setiap kali hendak melakoni laga kandang di Stadion Kanjuruhan, selalu mendatangi dan meminta doa kepada para korban di depan gate 13.
”Kami selalu meminta restu dan doa kepada para korban agar pertandingan kami (di kandang) diberikan kelancaran,” imbuh pemain bernomor punggung 19 itu. Dia menilai, kalau tragedi tersebut harus bisa menjadi pelajaran berharga, agar tidak terulang di Indonesia maupun di negara lain. Selain itu, setiap pertandingan dirasa Achmad perlu meningkatkan aspek keamanan dan kenyamanan penonton. (zan/gp)
Editor : Galih R Prasetyo