Pemuda asal Sidoarjo itu menjelaskan, mengikuti rombongan dari Aksi Kamisan sejak berada di Balai Wali Kota Malang. Awalnya dia sedikit takut karena akan mendapat penolakan. Setelah berjumpa dengan salah satu Aremania, Fanda Hardianto ( Ambon Fanda) dan mendapatkan sambutan hangat, dia percaya diri untuk mengikuti rangkaian kegiatan sampai ke museum gate 13.
”Ini pertama kali saya datang ke sini setelah sebelumnya sempat tidak bisa,” ujar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang itu. Andre merasakan suasana yang sangat berbeda di Stadion Kanjuruhan. Sebelumnya, dia hanya mengetahui kondisi fisik venue itu sebelum direnovasi.
Dia bercerita, rasa prihatin dalam dirinya muncul setelah mengetahui adanya korban jiwa seusai laga Arema FC kontra Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022. Andre yang semula ikut euforia kemenangan Green Force dalam laga itu langsung terkejut setelah mengetahui kabar banyak korban luka dan jiwa.
Sejak saat itu, dia mulai mengikuti perkembangan Tragedi Kanjuruhan dari berbagai sumber. Berbagai cerita yang diterimanya kemudian menumbuhkan rasa respek kepada Aremania. Menurutnya, untuk memahami tragedi Kanjuruhan tidak harus berasal dari kalangan Aremania. ”Kalau membahas tentang Tragedi Kanjuruhan, rivalitas saya buang. Karena menurut saya kemanusiaan jauh lebih penting,” tandasnya. (zan/gp)
Editor : Galih R Prasetyo