Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jurnalistik dan Pilkada

Editor : Hendarmono Al S. • Sabtu, 29 Agustus 2020 | 12:50 WIB
Photo
Photo
Beberapa kawan minta agar saya kembali mengulas soal jurnalistik, meski sudah pernah saya ulas dua pekan lalu. Kali ini, ada yang bertanya soal bagaimana cara mengidentifikasi sebuah media massa, atau wartawan dari media massa, dalam menjalankan kaidah-kaidah jurnalistik secara profesional.

Untuk soal ini, kebetulan saya punya pengalaman. Suatu ketika seorang kawan memberi tahu kepada saya, bahwa ada salah satu media online di Malang yang menulis tentang saya. Menurut media online itu, saya disebut telah menjadi tim sukses salah satu pasangan calon yang akan berlaga pada pilkada Kabupaten Malang. ”Apakah ente sudah baca berita itu?” tanya teman saya. ”Belum… saya sudah cukup lama nggak baca media itu,” jawab saya. Teman-teman saya yang lain ketika saya tanya, juga tidak tahu tentang berita tersebut. Mungkin karena saking banyaknya media online di Malang.

Kawan saya tadi sekaligus mengonfirmasi kepada saya, soal kebenaran berita itu. Saya katakan kepada dia, selama bertugas di Malang, saya sudah menjumpai empat kali pilkada. Pilkada Kota Malang 2013, Pilkada Kabupaten Malang 2015, Pilkada Kota Batu 2017, Pilkada Kota Malang 2018, dan tahun ini yang kelima kalinya, yakni di Pilkada Kabupaten Malang. Dan hampir setiap menjelang pilkada, isu-isu seputar tentang saya, selalu berseliweran. Bahkan, saya pernah diisukan bakal digandeng salah satu figur untuk maju pilkada.
Dalam menghadapi setiap isu yang berseliweran seperti itu, yang saya lakukan adalah: Tetap bekerja seperti biasa, alias berusaha untuk tidak terpengaruh. Tetap profesional menjalankan tugas. Dan jika ada yang bertanya kepada saya (untuk tabayun), saya akan menjawabnya. Jika percaya dengan penjelasan saya, alhamdulillah. Jika tidak percaya dengan penjelasan saya, ya tidak apa-apa. Biarkan waktu yang akan menjawab dan membuktikannya.

Nyawa dari sebuah media massa, adalah berpihak pada kebenaran dan fakta. Dan pers haruslah independen. Jika kami tidak mampu menjaga itu, maka media yang kami pimpin pasti tidak akan dipercaya oleh masyarakat. Dan alhamdulillah, hingga kini, media kami masih dipercaya. Oplah dan readership kami masih kategori sehat. Program-program kami yang butuh keterlibatan masyarakat, masih sangat baik direspons. Dan kami masih dibutuhkan oleh masyarakat sebagai partner dalam mengembangkan bisnis dan usaha mereka. Masyarakat sekarang ini sudah semakin cerdas menilai, mana berita yang fakta, mana berita yang tendensius, dan mana berita yang ”sudah digoreng”.

Jadi, saya tegaskan kepada kawan saya, bahwa soal nama saya selalu diseret-seret menjelang musim pilkada, bukanlah hal yang baru. Apakah betul atau tidak saya ikut tim sukses pada pilkada tahun ini di Kabupaten Malang? Kembali saya katakan, bahwa ketika saya memutuskan untuk berpolitik, maka secara etika, saya harus keluar dari media yang saya pimpin. Etika di sini adalah etika jurnalistik yang berlaku di perusahaan kami. Dengan kata lain, jika saya masih tetap berada di media, berarti saya belum memutuskan untuk berpolitik. Dan sejak saya menjadi wartawan pada 1997, etika itu masih saya pegang sampai saat ini. Karena saya sadar, nilai saya sebagai seorang wartawan, sangat ditentukan dari seberapa saya menjunjung tinggi etika itu.

”Lantas, mengapa nama ente kok bisa masuk (di jajaran tim sukses)?” tanya kawan saya. Saya malah berterima kasih jika nama saya dimasukkan. Berarti, mereka menghargai kemampuan saya. Sebab, tidak semua pemimpin media, dimasukkan di tim sukses bersama dengan para kepala daerah kader dari partai itu, juga dengan para politisi senior dan berpengaruh, serta tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Bisa jadi, mereka belum memahami tentang kode etik yang berlaku di media tempat kami. Maka, saya pun menjelaskan soal ini kepada beberapa orang dari tim sukses yang telah mengapresiasi saya. Saya juga telah menjelaskan tentang ini kepada pasangan calon. Dan mereka bisa menerima dan memahaminya. Intinya, saya masih mencintai profesi saya sebagai wartawan.

Kawan saya terus bertanya, ”Media online itu kok nulis seperti itu? Tujuannya apa ya?” Saya jawab: ”Ya tanyakan sama media online-nya”. ”Kalau ada orang yang percaya dengan media online itu, bagaimana?” tanya dia lagi. Saya kembali menjawab: ”Iya nggak apa-apa. Kalau ada orang yang percaya dengan media online itu, berarti dia belum mengenal saya. Gitu aja kok repot.”

Dalam kaidah jurnalistik, sebuah berita atau informasi itu bisa ditulis, dimuat, atau ditayangkan, jika memiliki nilai berita (news value). Nilai berita itu, secara garis besar harus mengandung unsur ”penting” dan “menarik”. ”Penting” di sini maksudnya, harus menyangkut kepentingan publik (banyak orang). ”Menarik” di sini di antaranya mengandung unsur unik, menghibur, human interest, ketokohan, kontroversial, dramatis, dan tragis.

Lantas, apa ”penting”-nya ya (bagi masyarakat) menulis tentang saya dan dikait-kaitkan dengan pilkada?
Mungkin media online itu menulis tentang saya, karena saya dianggap tokoh (padahal saya sama sekali merasa belum memenuhi kriteria untuk disebut tokoh). Jika ini memang benar, saya malah berterima kasih, karena sudah di-tokoh-kan. Jarang lho, ada media menokohkan pimpinan media lain?

Atau, bisa jadi, karena dianggap kontroversial. Karena seorang pemimpin media ikut terlibat dalam tim sukses. Jika ”frame” ini yang ingin dibangun, dalam menulis berita harusnya komprehensif. Untuk standar komprehensif, dalam jurnalistik itu ada kaidah: ”Satu informasi, banyak sumber”. Artinya, dalam satu informasi atau dalam sebuah berita, harus terdiri dari banyak narasumber. Banyak di sini, menurut saya, minimal 3-5 narasumber. Ini penting, sebagai bagian dari menjalankan prinsip ”cek dan ricek” dalam menguji kesahihan sebuah informasi. Dan ini adalah bagian dari menjalankan kaidah jurnalistik secara profesional.

Almarhum Sabam Leo Batubara, tokoh pers nasional yang pernah duduk di Dewan Pers pernah mengatakan: ”Alat ukur wartawan adalah dari karya jurnalistik yang dihasilkan. Bukan diukur dari kartu pers-nya”. Dengan kata lain, kualitas wartawan bisa dilihat dari berita-berita yang dia tulis. Berita yang berkualitas, adalah berita yang tinggi nilai kemanfaatannya. Sebaliknya, kalau berita itu dibuat hanya bertujuan untuk memojokkan seseorang atau mendiskreditkan instansi tertentu, tanpa diimbangi dengan nilai kemanfaatannya, dan tanpa diimbangi dengan pembahasan yang komprehensif, maka kualitas dari wartawan atau media-nya patut dipertanyakan. Wartawan dan media yang tak berkualitas, saya yakin, pada akhirnya akan tergilas. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Editor : Hendarmono Al S.
#jawa pos radar malang #Jurnalistik dan Pilkada #Kurniawan Muhammad #catatan akhir pekan #opini