Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Empat Attitude Asli Nusantara

Indra Andi • Rabu, 3 Februari 2021 | 12:32 WIB
Photo
Photo
INDONESIA merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, garis pantai Indonesia sepanjang 108.000 kilometer. Lokasinya terpencar di 17.504 pulau. Dari total luas teritorial yang mencapai 8,3 juta kilometer persegi itu, 6,4 juta kilometer persegi di antaranya berupa perairan.

Luasnya wilayah kemaritiman Indonesia itu sudah berlangsung sejak berabad-abad silam. Pada zaman Kerajaan Sriwijaya misalnya, wilayah kekuasan maritimnya hampir meliputi sebagian besar Asia Tenggara.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, Kerajaan Sriwijaya memiliki kapal sepanjang 60 meter dengan kapasitas 1.000 awak. Ini wujud dari kemajuan berpikir manusia kala itu. Di zaman keterbatasan teknologi itu, Sriwijaya mampu membangun kapal raksasa. Selain wilayahnya luas, Kerajaan Sriwijaya juga mampu meluaskan pengaruhnya baik di bidang politik, ekonomi, dan budaya.

Di Nusantara ini pernah ada ratusan kerajaan dan kesultanan. Ini sekaligus mengindikasikan bahwa fondasi dan eksistensi Indonesia sudah terinisiasi sejak zaman kerajaan dan kesultanan. Kerajaan Kutai Kertanegara misalnya, kerajaan ini boleh dibilang sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Sejak abad ke-4 kerajaan ini sudah eksis di bawah kepemimpinan Maharaja Kudungga.

Jika kita berbicara resources, Indonesia ini gudangnya resources. Gudangnya sumber daya, baik sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM), dalam hal karakteristik, moral, attitude, dan etosnya (pandangan hidup).

Dengan wilayah yang hampir 75 persen berupa perairan, ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara maritim. Terlebih lagi posisi geografis Indonesia yang semua wilayahmya berada pada iklim tropis, di mana iklim tropis ini sangat cocok untuk pertanian. Jadi, dari sudut pandang geografis saja, Nusantara ini gudangnya sumber daya, baik di wilayah maritim ataupun agraris.

Berbeda lagi dengan sumber daya manusianya. Banyak referensi yang mengungkap kegemilangan Nusantara pada zamannya tidak lepas dari peran manusianya. Misalnya memiliki warrior ethos, agility, competency, knowledge, dan narasi yang kesemuanya mempresentasikan hasrat dan aksinya untuk membangun negaranya.

Terlepas dari terpisahkannya Nusantara akibat menonjolkan kesukuan yang menjadi pemicu masuknya penjajahan, kemajuan nusantara kala itu patut diapresiasi. Setidaknya, SDM di zaman kerajaan mampu memanfaatkan hasil bumi untuk kemajuan bangsa. Hasil bumi itulah yang menjadi daya tarik utama Nusantara sehingga menjadi rebutan penjajah. Karena itu, bangsa Indonesia harus memiliki karakteristik attitude mendasar.

Setidaknya ada beberapa attitude mendasar yang dimiliki oleh manusia Nusantara kala itu. Jika ingin mengembalikan kejayaan Nusantara, beberapa kunci itu patut dijadikan model untuk kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di masa kini.

Attitude pertama adalah ”respect”. Respect merupakan sikap menghormati dan menghargai. Attitude ini banyak dicontohkan oleh para pendahulu bangsa ini dalam menghargai sesama, bahkan kepada musuh sekalipun harus dihormati. Teringat kisah Sunan Kalijaga, putra adipati Tuban ketika bertemu Sunan Bonang.

Pertemuan keduanya saat Sunan Kalijaga merampok Sunan Bonang. Bukan melawan, menghardik, atau mencela, Sunan Bonang justru menunjukkan ”respect value”. Akhirnya, Sunan Kalijaga yang bernama Raden Syahid itu menjadi murid Sunan Bonang.

Attitude kedua adalah ”responsible”. Responsible ini adalah bertanggung jawab. Sikap ini terlihat ketika Maharaja Sriwijaya mengirimkan surat khusus kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada abad ke-7. Isi suratnya adalah Maharaja Sriwijaya meminta sang khalifah mengirimkan guru mengaji ajaran Islam ke Nusantara. Ini bentuk responsible sang raja kepada rakyatnya, bahwa dia merasa terpanggil untuk memberikan seuatu yang terbaik kepada rakyat dan bangsanya.

Attitude ketiga adalah ”dicipline”. Yang membuat ratusan kesultanan dan kerajaan eksis di Nusantara, salah satunya adalah pemimpin dan masyarakatnya disiplin. Mereka berkomitmen mengeksekusi semua yang sudah direncanakan dengan presisi.

Misalnya Pangeran Banten (Pangeran Hasanuddin) yang juga putra Sunan Gunung Jati komitmen dan kedisiplin mengembangkan Kesultanan Banten. Kedisiplinan itu terekam dalam dokumen The British Museum di London dengan ditemukannya koin-koin di pinggiran Sungai Thames yang bertuliskan Kesultanan Banten.

Attitude keempat adalah ”faithful”. Faithful adalah kesetiaan dan loyalitas. Ketika berbicara tentang manusia Nusantara, maka kita akan menemukan karakter attitude yang melekat berupa kesetiaan dan loyalitas. Loyalitas kepada negara dan kesetiaan kepada pemimpin.

Seluruh kekayaan dan resources bangsa Indonesia ini menjadi tanggung jawab bersama. Model keteladanan yang sudah dipresentasikan oleh para pendahulu di Nusantara ini menjadi acuan. Pada intinya menjadi 100 persen manusia Indonesia adalah kunci dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*) Editor : Indra Andi
#Puguh Wiji Pamungkas #Nusantara Gilang Gemilang #Spirit Gemilang