Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

BHA-Goal, Kunci Sukses Pengusaha

Indra Andi • Rabu, 10 Maret 2021 | 12:06 WIB
Photo
Photo
Siapa yang tidak mengenal Jack Ma? Konglomerat asal Hangzhou, Tiongkok, ini jadi pusat perhatian internasional setelah berhasil membawa Alibaba sebagai salah satu perusahaan raksasa. Alibaba tidak hanya berpengaruh di Tiongkok, tapi juga di dunia.

Dalam sebuah seminar, Jack Ma mengungkap rahasia suksesnya membawa Alibaba sebagai perusahaan raksasa. Setidaknya, dia membutuhkan waktu 18 tahun untuk menjadi perusahaan seperti sekarang ini. Waktu 18 tahun itu tergolong cepat jika dibandingkan umumnya perusahaan lain, yakni 70 tahun baru bisa sukses.

Pertanyaannya, kenapa Jack Ma bisa lebih cepat membangun korporasi bisnisnya dibandingkan pengusaha lain? Pengusaha 57 tahun itu memaparkan empat kunci keberhasilan Alibaba Group. Pertama, dia bekerja lebih keras dibandingkan manusia pada umunya. Kedua, Jack Ma jarang tidur demi menuntaskan pekerjaannya. Ketiga, dia lebih sering bepergian untuk menemukan peluang dan membangun ekosistem. Keempat, timnya bekerja lebih keras.

Di akhir kesempatan seminar itu, dia menyampaikan ”nothing is free, if you want to be successful, you have to pay the price”. Artinya, segala kesuksesan itu tidak gratis. Siapa pun yang ingin sukses harus membayarnya dengan kesungguhan dan punya kemauan keras.

Selain Jack Ma, hal serupa juga dilakukan oleh Henry Ford, pendiri Ford Motor Company. Pada abad-19, tepatnya 1903 lalu, Henry Ford memutuskan untuk membuat mobil jenis baru dengan harga yang lebih murah. Selain itu, juga mudah digunakan sehingga banyak orang Amerika yang bisa memilikinya.

Mulanya, ide itu dianggap aneh, mengada-ada, dan ide ”gila”. Maklum, di zaman itu biaya produksi mobil sangat mahal sehingga tidak memungkinkan untuk menjual mobil dengan harga murah. Idenya itu semakin disangsikan setelah Henry Ford menjelaskan bahwa dia membidik kalangan menengah ke bawah.

Mendengar ide Henry Ford, para investor skeptis. Bahkan, banyak investor yang mengambil langkah ekstrem, yakni menjual saham mereka di Ford Motor Company. Kondisi ini tidak membuat Henry Ford patah semangat. Justru dia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa idenya itu bisa diwujudkan.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya Henry Ford berhasil memproduksi mobil murah. Baru di-launching, mobil dengan model-T itu langsung laris manis. Kenyataan ini sekaligus menjawab keraguan para investornya, bahwa mobil dengan segmen baru ini justru menaikkan jumlah produksi mobil Ford. Henry Ford bukan hanya melakukan leverage dalam bisnisnya, tapi telah menciptakan segmentasi baru di negaranya.

Kisah yang dialami Henry Ford dan Jack Ma ini menunjukkan bahwa ada entitas paradigma yang melekat pada hampir semua pemimpin. Entitas paradigma itu dikenal dengan istilah BHA-Goal, yakni Big, Hairy, Audacious-Goal.

Hampir semua pemimpin yang saat ini menuai kesuksesan, sejatinya telah menanamkan belief system BHA-Goal sejak awal. Mereka telah meng-install sebuah tujuan, target, dan hasil yang besar, impossible, dan berani.

Ada tokoh lagi yang kesuksesannya tidak lepas dari BHA-Goal. Tokoh itu adalah Michael Jordan. Barangkali banyak yang tidak mengetahui perjuangan pemain bola basket profesional asal Amerika itu. Boleh jadi, orang mengenal dia sebagai pemain bola basket dengan kesempurnaan, baik secara fisik ataupun skill. Padahal jika kita melihat perjalanan karirnya, ada perjuangan keras yang membuat dia menjadi bintang di lapangan basket. Sebelum menjadi pemain kelas dunia, Michael Jordan pernah dikeluarkan dari tim basket sekolah. Alasannya sepele, pelatihnya menganggap Jordan tidak berbakat. Ketika di North Carolina University, dia juga tidak diterima. Tapi, penolakan itu tidak membuat dia putus asa. Sebaliknya, Jordan muda tetapi justru semakin terpacu.

Michael Jordan terbiasa meninggalkan rumah sejak jam 6 pagi untuk berlatih di depan sekolah. Dia terus memperbaiki kelemahan-kelemahannya. Suatu ketika, Michael Jordan melatih lemparannya sampai berjam-jam untuk mempersiapkan pertandingan perdananya.

Mantan asisten pelatih Chicago Bulls, John Bach, menyebut Jordan seorang genius. ”Seorang genius yang selalu ingin meningkatkan kegeniusannya,” kata John Bach

Bagi Jordan, kesuksesan berasal dari pikiran. Cita-cita yang tinggi, mental, dan kekuatan hati jauh lebih penting dibandingkan keunggulan-keunggulan fisik yang dimiliki.

Selain Jack Ma, Henry Ford, dan Michael Jordan, banyak kisah lain yang kegemilangannya didapatkan dengan jerih payah. Semua diawali dengan paradigma bahwa cita-cita yang ”Big, Hairy, dan Audacious” itu akan membawa seseorang pada kesuksesan. Bayarlah semua kesuksesan. (*) Editor : Indra Andi
#Spirit Gilang Gemilang #Puguh Wiji Pamungkas #Kunci Sukses Pengusaha #Nusantara Gilang Gemilang