Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Empat Karakter Kebajikan

Indra Andi • Rabu, 21 April 2021 | 12:00 WIB
Photo
Photo
MENANAM kebaikan tidak mesti berbuah seperti yang kita harapkan. Hasil yang kita petik bergantung pada kesungguhan kita dalam merawat, menjaga, dan memastikan upaya kita sudah dengan sesuai rencana yang berlandaskan iman, ilmu, sejarah, dan sunatullah.

Banyak contoh perilaku di sekitar yang menunjukkan tidak adanya upaya merawat kebajikan. Misalnya, ada orang membeli rumah, tapi setelah dibeli, rumah tersebut tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Terkadang rumah itu malah dibiarkan kosong dan tidak terawat. Biasanya pemiliknya sudah mempunyai rumah sehingga pembelian rumah kedua atau ketiga itu diniatkan untuk investasi saja. Perilaku demikian menandakan tidak merawat kebajikan. Sebenarnya kalau dirawat dengan cara disewakan atau dikerjasamakan, aset berupa rumah ini akan semakin bermanfaat dan terawat.

Di sisi lain, kita juga mendapati beberapa orang yang belum punya rumah. Mereka masih mengontrak bulanan atau tahunan yang konsekuensinya setiap tahun harus memutar otak untuk memperpanjangnya. Itu karena mereka belum punya kesempatan untuk mendapatkan aset yang layak karena keterbatasan.

Jika kita rinci, tidak hanya aset berbentuk rumah yang kerap tidak dirawat oleh pemiliknya. Banyak karya hasil pembangunan yang juga tidak berfungsi maksimal karena keberadaannya belum menjawab kebutuhan atas keberadaan aset kebajikan.

Contoh lain yang sering kita temui adalah pembangunan selokan di kota-kota. Jika mengacu perencanaan, entah itu pembangunan menggunakan dana swadaya atau program pemerintah, selokan dibangun untuk aliran air. Tujuannya agar tidak terjadi banjir ketika musim penghujan. Sebab, air yang menggenang di ruas-ruas jalan itu bisa teralirkan melalui selokan tersebut.

Namun, faktanya tidak sedikit selokan yang sudah terbangun itu tersumbat sampah atau tanah. Dengan demikian, selokan tidak berfungsi mengalirkan air hujan. Solusinya ya harus dibongkar atau dibangun ulang sehingga pemerintah terpaksa mengeluarkan anggaran tambahan. Perilaku yang semacam ini mengindikasikan tidak merawat kebajikan.

Sikap-sikap yang mengindikasikan tidak merawat kebajikan itu sering kita lihat di fasilitas publik. Misalnya kamar mandi atau toilet di terminal. Juga sarana dan prasarana (sarpras) di taman-taman kota.

Dalam kajian mendalam, merawat kebijakan ini butuh anggaran. Karena itu, merawat kebajikan bisa berjalan bagus seiring dengan bertumbuhnya kemandirian ekonomi. Merawat kebajikan juga butuh energi besar. Merawat kebajikan juga perlu menghadirkan semangat bahwa aset publik adalah aset kita bersama sehingga wajib dirawat.

Kata yang pas untuk menghadirkan semangat merawat kebajikan dengan kemandirian ekonomi dengan kredo yang sering kita dengar, yakni respect, value, trust, dan love.

Respect adalah kondisi di mana kita memberi respons baik bagi sahabat dan lingkungan. Respect terlihat dari keseriusan merespons hasil kebajikan yang muncul dengan perwujudan kerja keras.

Kemudian value berkaitan dengan landasan nilai dalam setiap aset kebajikan sehingga menjadikan kita bersemangat untuk menjaganya. Nilai yang mengingatkan sesuatu yang melandasi hadirnya segala karya.

Setelah ada respect dan value, maka trust akan muncul. Karena kita telah mendasari aktivitas dengan nilai dan respect, maka timbul pula kepercayaan bahwa hadirnya aset adalah bentuk pelayanan terbaik bagi umat manusia dan bangsa sehingga memberikan hasil yang terbaik di tengah masyarakat

Kemudian yang terakhir adalah love atau cinta. Cinta adalah energi yang menjadikan kita mau melangkah tanpa ada imbalan yang terlihat kasatmata. Dengan cinta, kita bisa memberikan kontribusi terhadap terwujudnya aset kebajikan tanpa diminta, bahkan tanpa batas.

Kesimpulannya, kita sebagai bagian pemakmur bumi (khalifatul fil ard) wajib merawat kebajikan. Sikap merawat kebajikan ini seharusnya ada di setiap orang yang beriman dan bertakwa. Ramadan yang kita jalani sebagai bulan penempaan ini seharusnya menjadi tekad untuk merawat aset kebajikan. (*) Editor : Indra Andi
#Spirit Gilang Gemilang #Herman Ali Sadikin ST #karakter orang bijak #Nusantara Gilang Gemilang