Setidaknya sampai awal tahun 2020
Sejak pandemi C-19 melanda dunia, topik tersebut tenggelam kala masyarakat berfokus pada pemulihan kesehatan dan ekonomi. Optimisme dan semangat yang dipupuk satu dekade terakhir seakan hilang seiring dengan perginya orang-orang tersayang. Satu tahun lebih sejak pandemi melanda, belum ada yang tahu kapan situasi ini akan mereda. Berbagai kekhawatiran muncul akibat ketidakpastian. Di antara banyaknya kekhawatiran, perhatian saya kembali pada topik bonus demografi dan kewirausahaan.
Di antara berbagai faktor, pandemi adalah faktor yang paling akhir diperhitungkan dalam prediksi optimisme bonus demografi. Jumlah penduduk produktif, potensi sumber daya alam, potensi pasar, dan pendidikan merupakan isu-isu seksi yang menjadi fokus berbagai institusi dan politisi. Namun semua terlena. Saat pandemi melanda, kita tidak siap untuk mengatasinya. Untungnya, ada satu faktor yang saya yakini mampu menjadi kunci dalam pemulihan optimisme bonus demografi; faktor kewirausahaan.
Opportunity vs Necessity
Kewirausahaan dalam arti sempit dapat dimaknai sebagai aktivitas membangun bisnis yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Sedangkan dalam arti luas, kewirausahaan merupakan sebuah sikap seseorang yang berani mengambil risiko, berani berinovasi, dan pro-aktif dalam memanfaatkan kesempatan. Sikap-sikap ini lah yang sekarang perlu diperkuat pada generasi muda. Generasi yang saat ini berada di persimpangan jalan dengan penuh kekhawatiran. Generasi yang sedang berhadapan dengan jutaan peluang namun tertahan karena banyaknya ketidakpastian.
Bagaimana dengan kewirausahaan masa sebelumnya?. Sudah baik, tetapi tidak cukup lagi karena mayoritas sebelumnya masih kewirausahaan berbasis necessity. Kewirausahaan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dari hari ke hari. Kewirausahaan yang ditekuni karena tidak ada opsi lagi atau sekedar untuk memenuhi gengsi.
Di banyak negara berkembang, kewirausahaan berbasis necessity memang mendominasi. Kewirausahaan ini ditopang oleh kegigihan seseorang untuk berdikari atau untuk sekadar menghadapi sistem ekonomi yang tidak pasti. Sialnya, kewirausahaan jenis ini tumbang juga ketika berhadapan dengan pandemi.
Oleh karena itu, kewirausahaan pasca pandemi haruslah kewirausahaan berbasis opportunity. Kewirausahaan yang dilakukan dengan bekal ilmu yang mumpuni; lengkap dengan teori dan aplikasi. Kewirausahaan yang dilakukan karena melihat setiap tantangan sebagai sebuah peluang dan berorientasi jangka panjang. Kewirausahaan yang tidak hanya berdiri sendiri tetapi ditopang berbagai institusi.
Sayangnya, penerapan kewirausahaan berbasis opportunity tidak semudah menyeduh kopi instan. Bukan kewirausahaan yang lahir dari jargon-jargon dan peresmian. Melainkan terbentuk melalui proses jangka panjang dan terpatri di dalam diri seseorang. Ini adalah masalah bersama yang harus dihadapi sebagai sebuah bangsa. Banyak pihak harus turut terlibat di dalamnya. Setidaknya ada dua hal yang harus dipahami bersama.
Pertama, wirausaha tidak dilahirkan tetapi dibentuk oleh keadaan. Teori institusi mensyaratkan regulasi, kognisi, dan norma masyarakat untuk bersinergi. Pemerintah harus menjamin terciptanya iklim bisnis yang adil dan kompetitif dengan keterbukaan informasi dan penyederhanaan regulasi. Institusi pendidikan harus memperkuat kurikulum inklusif berbasis kompetensi agar lulusannya lebih siap untuk berkompetisi. Sedangkan masyarakat turut serta berperan dari lingkungan keluarga menanamkan sifat mandiri. Jika ada tetangga sukses berbisnis harusnya dipelajari, bukan malah dikomentari.
Kedua, pandemi ini tidak hanya membawa korban tetapi juga meninggalkan beban. Banyak generasi muda terutama anak-anak yang ditinggalkan orang tua dan kehilangan akses secara tiba-tiba. Negara dan masyarakat harus hadir bagi mereka. Rencana bantuan biaya hidup dan pendidikan bagi mereka yang menderita harus dikawal bersama. Negara maju dengan akses pendidikan dan kesehatan yang baik cenderung melahirkan wirausahawan yang berbasis opportunity.
Tidak ada yang tahu kapan pandemi akan selesai. Namun jalan ke tahun 2045 masih panjang. Belum terlambat untuk kembali berjuang karena banyak anak muda yang sudah melihat berbagai peluang. Dan semoga PPKM tidak perlu lagi diperpanjang. Editor : Indra Andi