Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

3T-3M

Tauhid Wijaya • Minggu, 29 Agustus 2021 - 12:00 WIB
Photo
Photo
Ini soal 3T. Bukan 2T yang baru bikin heboh di Sumatra itu. Yang sampai memaksa kapoldanya meminta maaf kepada publik. Meskipun, yang bersangkutan sebenarnya tidak bersalah. Bahkan boleh disebut sebagai korban. Dari orang yang mengaku akan memberikan sumbangan penanggulangan Covid-19. Yang rupiahnya senilai nol berjajar dua belas itu.

Tapi, ini juga bukan soal 3T yang belakangan jadi sorotan Pemerintah Pusat. Hingga Menteri Luhut merasa harus turun sendiri ke Malang Raya. Untuk melihat langsung keadaannya. Soal testing, tracing, dan treatment dalam penanganan virus korona yang lebih dari setahun terakhir membikin babak belur. Bukan hanya menghajar kesehatan masyarakat Bumi Arema ini. Tapi, juga perekonomiannya.

Yang bikin sesak, akibat 3T itu, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) terus menerus diperpanjang. Dari bertajuk darurat menjadi level 4. Dan, belum kunjung turun level hingga kini.

Lha kok bisa? Karena, meski sudah cukup serius, pemerintah daerahnya dinilai kurang ngegas untuk mengejar target 3T. Rasionya belum sepadan dengan standar yang ditetapkan oleh We-Ha-O. Karena itu, tiga pemerintah daerah di Malang Raya lantas segera tancap gas. Salah satunya dengan ‘memaksa’ warga yang melakukan isolasi mandiri (isoman) untuk segera pindah ke isolasi terpadu (isoter).

Sebelumnya, 3T sulit dilakukan salah satunya karena hal itu. Warga lebih memilih isoman di rumah. Dan, tidak melapor ke RT maupun satgas. Mereka seolah memegang erat pepatah: dibanding hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Padahal, hujan batu bukan hanya bisa bikin genting rumah pecah berantakan. Tapi, juga bikin kepala mrempul. Begitu pula isoman yang tak terpantau. Bisa ketam sewaktu-waktu. Tanpa sempat ada pertolongan medis apa pun. Selain itu, bisa nulari para penghuni rumah yang lain.

Ini terjadi karena sosialisasi tentang isoter tak mampu menjangkau batin mereka. Sehingga, selengkap dan sebagus apa pun fasilitasnya, tidak mampu mengubah persepsi warga. Bahwa isoter adalah ‘penjara’. Yang menjauhkan diri dari keluarga dan sanak saudara.

Karena itu, mereka tetap menjadikan isoman sebagai pilihan terbaik. Kalapun toh harus menyabung nyawa di rumah, tetap ada anggota keluarga dan saudara yang menunggu. Sekalipun itu berarti juga sangat mungkin memindahkan virus di tubuhnya ke tubuh sanak saudara.

Coba bandingkan dengan fenomena di kota sebelah, misalnya. Ada salah satu warga yang justru enggan pulang dari isoter. Meskipun dirinya dinyatakan sudah sembuh dari covid-19. Hasil tes usapnya menunjukkan negatif. Masa tinggalnya di isoter pun telah habis dan harus kembali ke rumah. Bisa pula bergaul dengan tetangga meskipun tetap harus menjalankan prokes secara ketat. “Enak di sini,” katanya.

Bagaimana nggak enak, lha wong kebutuhan makan selalu tercukupi tiga kali sehari. Dengan menu gizi yang seimbang. Masih pula ada buah-buahan. Juga vitamin yang tidak pernah terlambat di samping obat-obatan. Kalau bosan, bisa bermain pingpong atau yang lain. Semua gratis dan belum tentu bisa didapat di rumah. “Sampeyan sudah tidak perlu lagi di sini, sudah sembuh,” kata kepala dinas kesehatannya bingung menghadapi pasien yang ngeyel minta tambah sebulan untuk tinggal di isoter itu.

Begitulah jika warga bukan sekadar sudah bisa diyakinkan. Tapi, juga bisa membuktikan sendiri tentang keterjaminan fasilitas di tempat isoter. Inilah yang mestinya dijamin dan disosialisasikan kepada warga sejak awal.

Dengan demikian, mereka bukan hanya tidak ragu untuk datang. Namun, bahkan, meminta sendiri untuk ‘dirawat’ di isoter seperti cerita warga kota sebelah di atas. Para tenaga kesehatan (nakes) pun bisa dipermudah dalam melakukan testing, tracing, dan treatment. Inilah yang disebut sebagai komunikasi efektif oleh pakar komunikasi almarhum Jalaluddin Rakhmat.

Tapi, sekali lagi, ini bukan hendak membahas 3T yang itu. Melainkan 3T yang dijamin bisa membuat awak tetap bergas dan waras di tengah kesulitan ekonomi akibat PPKM yang tak kunjung berakhir seperti sekarang. Harganya dijamin terjangkau. Dibanding harus beli ayam, bebek, lele, atau aneka seafood yang banyak terdapat di warung-warung lalapan pinggir jalan kota Ngalam.

Dengan 3T yang ini, kita bisa pilih tahu, tempe, telur. Atau, tahu, tempe, terong jika yang pertama masih bikin berat di kantong. Ditambah sambal korek atau sambal tomat lalu dipenyet, 3T yang ini dijamin bisa menambah imunitas. Sehingga, menjauhkan diri dari korona. Apalagi, dengan senantiasa menerapkan prinsip 3M: mongan, mangan, maneh... Hidup 3T! (*)

 

  Editor : Indra Andi
#Perspektif #COVID-19 #ppkm #radar malang #tauhid wijaya