Di mana dunia berada pada sebuah tahapan adu kecanggihan dan kekuatan militer yang terjadi hampir enam tahun sejak tahun 1939 hingga 1945. Perang yang pada akhirnya dimenangkan oleh pihak sekutu dengan dijatuhkannya bom di dua pusat kota Jepang yakni Hirosima dan Nagasaki ini, sekaligus menjadi episode akhir dari peperangan yang telah menelan kurang lebih 73 juta jiwa dari kalangan tentara dan warga sipil ini.
Salah satu kunci kemenangan sekutu atas perang yang terjadi saat itu adalah kekuatan dan kecanggihan armada pesawat perangnya, Adalah Abraham Wald seorang ahli statistika dan matematika yang telah berhasil menciptakan inovasi pesawat tempur Amerika dengan kemampuan bertahan yang memadai dari serangan lawan.
Abraham Wald berhasil melakukan sebuah riset yang dikemudian hari riset tersebut dinamai dengan teori "Survivor Bias", bahwa mesin dari pesawat tempur Amerika harus dilindungi dengan pelapis baja agar tidak mudah meledak jika terkena tembakan, dan inovasi manufaktur pesawat tempur sekutu ini yang akhirnya membuat seluruh pesawat sekutu tampil dengan digdaya di langit pertarungan saat itu.
Pada tahun 1980-an atau tahun 1990-an kita mungkin masih sering melihat mobil truk atau pickup yang mengangkut balok-balok es batu di pasar-pasar tradisional atau ke warung-warung bahkan ke rumah-rumah. Akan tetapi hari ini, pemandangan itu sudah sangat jarang sekali terlihat, peran pabrik - pabrik es batu saat itu sudah digantikan dengan inovasi teknologi berupa lemari es. Rumah dan warung sudah tidak perlu lagi membeli es balok dari pabrik, karena mereka sudah bisa memproduksi dari lemari es yang ada di rumahnya, seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman, semakin berubah juga tingkat kebutuhan manusia dalam memenuhi kebutuhannya.
Lahirnya Sebuah Penemuan
Dua puluh empat abad yang lalu seorang filsuf Yunani kuno bernama Plato menyampaikan sebuah gagasannya "Necessity is the mother of Invention", bahwa kebutuhan manusia itu akan menjadi pemicu bagi lahirnya sebuah penemuan. Sebagaimana Sekutu yang waktu itu memenangi perang dunia ke-2 karena kemampuannya menemukan cara dan inovasi agar pesawat tempurnya memiliki kekuatan digdaya di setiap pertempuran udara. Menutup mesin pesawat dengan lapis baja adalah salah satu penemuan dan strategi yang di lakukan oleh pihak Sekutu untuk menjadikan semua pesawatnya mampu bertahan dari serangan musuh dan memiliki kemampuan menyerang dengan maksimal.
Senada dengan Plato, Charles Darwin yang populer dengan teori Evolusi Darwin ini menyampaikan sebuah konsep bahwa "survival of the fittest", bahwa kunci untuk bisa survive itu adalah bukan karena yang paling kuat, besar, paling kaya dan paling pintar, akan tetapi mereka yang paling adaptif "fittest" dengan perubahan lingkungan dan zaman lah yang akan bisa bertahan dalam waktu yang lama dan meraih keberhasilan.
Sikapi Pandemi Sebagai Peluang
Hari ini, kita dan bangsa kita sedang menghadapai sebuah badai pandemi yang berujung pada resesi. Melemahnya daya dorong ekonomi bangsa kita disebabkan karena pandemi Covid-19 yang sudah berjalan 1,5 tahun ini juga menjadi pemicu melemahnya situasi perekonomian bangsa. Pandemi adalah sebuah musibah dan cobaan yang datangnya tidak bisa kita hindari, ia bisa menjadi ujian juga bisa menjadi peluang bagi kita semua.
Namun yang terpenting bagi kita, di situasi pandemi yang tidak ada satupun orang secara ilmiah bisa memastikan kapan akan berakhir, yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan adaptasi dan terus melakukan inovasi-inovasi, mindset adaptif dan inovatif adalah solusi bagi kita semua saat ini agar bisa terus bertahan dan bertumbuh.
Kemampuan untuk "fittest" ini seperti yang dilakukan oleh sopir taksi black cab di London, untuk menjadi sopir taksi mereka harus menjalani test "The Knowledge, mereka harus menghafal 25 ribu ruas jalan, 50 ribu persimpangan dan lebih dari 20 ribu gedung serta landmark yang tersebar di seantero London, mereka harus menghafalkan semua dan ternyata bisa meskipun rata-rata usia mereka sudah paruh baya.
Lumrahnya memang inovasi baru akan muncul ketika manusia dihadapkan pada sebuah kesulitan, sebagaimana kondisi wabah Covid-19 ini di mana kebanyakan manusia dan negara-negara besar meng underestimate bahwa wabah ini berbahaya dan bisa berdampak domino termasuk perekonomian, akan tetapi hari ini justru sebaliknya, padangan overestimate terhadap wabah ini justru mendominasi fikiran manusia, bahwa ekonomi akan hancur dan dunia akan kimiat.
Kita sebagai pelaku usaha di situasi yang tidak mudah sekarang ini dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi dan berinovasi, pola interaksi kita dengan lingkungan sosial dan pekerjaan yang di paksa berubah menuntut kita untuk bisa menyesuaikan diri. Tidak bisa melakukan transaksi secara offline bukan berarti bisnis kita tidak bisa berjalan, memanfaatkan dan memaksimalkan seluruh platform digital menjadi kompetensi baru yang harus dimiliki sebagai bagian dari cara kita beradaptasi.
Kemampuan kita beradaptasi akan muncul bersamaan dengan kemampuan inovasi kita, oleh karenanya dalam situasi krisis seperti ini sudah bukan waktunya lagi kita terjerembab dan memelihara pesismisme. Justru saat inilah saat yang tepat untuk menumbuhkan optimisme untuk terus bergerak, beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi dunia dan zaman yang terus berubah, karena adaptasi dan inovasi adalah solusi bagi kita semua agar bisa bertahan dan berhasil melewati krisis yang terjadi saat ini. (*/mas) Editor : Indra Andi