Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengenali ’Wajah’ Alzheimer dari Perubahan Perilaku

Ahmad Yani • Rabu, 22 September 2021 | 16:29 WIB
Zuhrotun Ulya
Zuhrotun Ulya
Alzheimer telah dikenal luas oleh masyarakat sebagai salah satu jenis demensia atau pikun. Pikun dianggap lazim ketika seseorang masuk fase lanjut usia, yang secara bertahap akan mengalami penurunan fungsi daya ingat. Di tahun 2021 tercatat sekitar 55 juta manusia mengalami demensia di seluruh dunia, dengan estimasi prevalensi di Indonesia mencapai 518.000 jiwa di tahun 2024.

TINGGINYA angka harapan hidup manusia membawa pada konsekuensi permasalahan kesehatan yang terus menjadi tugas bersama untuk dapat dituntaskan. Kondisi pikun menjadi suatu kepala dengan banyak wajah yang membawa pada beberapa gejala terkait seperti berkurangnya fungsi memori, gangguan persepsi, gangguan fungsi pikir, gangguan pertimbangan, gangguan bahasa, gangguan perhatian hingga konsentrasi yang apabila kondisi tersebut memberat akan menjadikan lansia membutuhkan perawatan total dari anggota keluarga terdekat atau caregiver.

Mengenal Alzheimer membawa diri kita pada suatu pemahaman kompleks terkait manfaat dan peran fungsi otak dalam kehidupan sehari-hari. Setiap struktur fungsi otak berperan dan bertanggung jawab pada peran fungsi pikir, rasa dan perilaku. Apabila salah satu struktur tersebut terganggu akibat adanya penyakit fisik medis yang mendasari maka perlahan fungsi otak akan terganggu. Demikian halnya dengan perjalanan Alzheimer yang bersifat lambat namun progresif pada lanjut usia, sering kali tidak dikenali hingga akhirnya seseorang mengalami perburukan dalam fungsi ingatan.

Alzheimer tidak tiba-tiba muncul begitu saja tanpa suatu pertanda berarti. Pembaca dapat mengenali kejadian Alzheimer pada orang terkasih atau keluarga melalui adanya perubahan perilaku dan manifestasi gejala psikiatrik (kejiwaan) yang dapat muncul mendahului atau bersamaan dengan kejadian Alzheimer tersebut.

Setidaknya hampir 95% orang dengan masalah pikun akan mengalami perubahan perilaku dan masalah kejiwaan yang juga dikenal dengan istilah behavioral and
psychological symptoms of dementia (BPSD). Pengenalan terhadap gejala inilah yang perlu dilakukan karena sering kali tidak muncul bersama, melainkan menjadi gejala kejiwaan yang tidak spesifik.

Secara normatif, lansia telah mencapai kesatuan fungsi utuh struktur mental yang berangkat dari pengalaman kehidupannya. Apabila lansia tidak cukup mampu meraih kondisi integritas, maka lansia akan jatuh pada fase despair atau keputusasaan. Lansia akan cenderung mengalami kecemasan, pikiran gagal dalam kehidupan, berandai-andai dan penuh penyesalan. Tidak jarang dalam perkembangan fase perkembangan mental tersebut, kondisi lansia akan tumpang tindih dengan permasalahan fisik atau medis bermakna atau gejala yang mengarah pada kondisi pikun.


Perubahan fungsi sosial lansia dengan kecenderungan Alzheimer ditunjukkan pada pola perilaku menarik diri dari lingkungan, berkurangnya minat terhadap aktivitas yang rutin dilakukan hingga tidak memiliki motivasi sama sekali. Penurunan suasana perasaan yang ditunjukkan lansia dapat berupa rasa sedih, sensitif, mudah menangis, muncul rasa bersalah secara berlebihan, sering cemas, hingga apabila dalam kondisi berat mengarah pada keinginan atau pikiran bunuh diri.

Sekilas kondisi ini menyerupai keadaan depresi, namun sesungguhnya bisa menjadi bagian dari Alzheimer. Pengenalan gejala perubahan perilaku lansia dengan Alzheimer juga mengarah pada adanya sikap menyerang secara fisik ataupun verbal, tidak peduli pada orang lain, gelisah, mondar-mandir, selalu curiga.

Pengalaman klinis penulis sebelum ini, mendapati lansia dengan kecenderungan perubahan pola isi pikir yang selalu curiga berlebihan pada pasangannya yang
mengarah pada tema ketidaksetiaan. Hal ini menjadikan seseorang cemburu berlebihan, sering melarang pasangannya bertemu dengan anggota keluarga tanpa alasan spesifik, selalu ingin diperhatikan, menuduh pasangan berselingkuh yang dalam proses pembuktian hal tersebut tidak benar hingga akhirnya tercipta konflik terhadap anak kandung ataupun saudara yang lain. Hal inilah yang sering kali memicu adanya permasalahan komunikasi hingga konflik internal dalam keluarga.

Pembaca perlu waspada apabila gejala tersebut tampak berat, mengganggu aktivitas harian, hingga muncul ketidakmampuan penilaian realitas, maka lansia perlu diajak untuk melakukan pengobatan profesional. Sekali lagi, Alzheimer tidak hanya menjadi masalah dalam fungsi memori atau ingatan (pikun), melainkan memiliki bagian wajah berbeda dalam hal perubahan perilaku dan gejala psikiatrik yang bermakna.

’Wajah’ Alzheimer inilah yang perlu dikenali, sehingga menjadi langkah awal deteksi dini dan melakukan koreksi apabila sudah merasakan adanya perubahan yang dialami dengan cara yang tepat. Apabila pembaca adalah seorang caregiver yang melayani lansia dengan Alzheimer, pembaca dapat melakukan evaluasi terhadap progress keadaan Alzheimer yang dialami.

Evaluasi melalui pengamatan berkala dari fungsi harian, kemampuan lansia dalam merespons emosi (tersenyum spontan, tampak sedih, kuantitas menangis, kemampuan lansia merespons rasa tidak nyaman terhadap rasa tidak senang atau nyeri yang dirasakan, intensitas sikap mudah marah atau menyerang dan berinteraksi dengan orang lain). Hal ini penting untuk dilakukan sebagai upaya bersama menjaga lansia dalam kondisi optimal.

Lansia dengan Alzheimer tetap perlu diajak melakukan komunikasi dua arah, mengenal orientasi terhadap waktu, tempat orang dan situasi dengan baik. Apabila sebelumnya lansia sudah mendapatkan layanan terapi terkait kondisi medis yang rutin dilakukan, tetap dapat dilanjutkan seperti biasanya.

Caregivers perlu meluangkan waktu menjadi pendengar, menciptakan lingkungan yang aman, melatih fungsi fisik terapi laksana dan fungsi mental yang masih bisa dioptimalkan. Sehingga akhirnya lansia merasa bahwa dirinya masih sangat dicintai oleh lingkungan sekitar.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk kembali sadar dan hadir bersama lansia di sekitar kita. Bahwa Alzheimer tidak hanya sekadar menjadi sebuah perayaan rutin di tiap tahunnya, tidak menjadi antrean panjang kontrol pengobatan di tiap bulannya, tidak menjadi sumber konflik internal keluarga di tiap harinya, namun sadar untuk membangun dan mengarahkan lansia menjadi lebih sehat dari aspek fisik dan mental.

Menciptakan lingkungan yang ramah lansia dan menghadirkan rasa cinta pada lansia menjadikan kebermaknaan hidup lebih berarti hingga akhirnya kita semua akan berakhir pada fase integritas yang sempurna.

*) Penulis adalah staf pengajar Dept. Psikiatri FKUB/ RSSA dan Ketua KSM Jiwa & Medikolegal RS Universitas Brawijaya


Editor : Ahmad Yani
#pikun #alzheimer #malang #dimensia #Perubahan Perilaku