Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sumpah 'Serapah' Pemuda

Farik Fajarwati • Minggu, 31 Oktober 2021 | 14:00 WIB
Photo
Photo
Momentum Sumpah Pemuda harusnya menjadi momen revolusi akhlak bagi kalangan millennial. Bukan lagi sekadar momentum perbaikan, revolusi mental harusnya menjadi harga mati. Perusahaan multinasional yang bergerak di bidang komunikasi, Microsoft, bahkan turut angkat suara.

Perusahaan rintisan Bill Gates itu melakukan survei terkait dengan adab berselancar di dunia maya terhadap 32 negara. Indonesia salah satunya. Hasilnya, Indonesia menempati posisi 29. Alias posisi keempat dari belakang. Yang artinya, dari segi attitude atau kesopanan netizen Indonesia sangatlah rendah. Utamanya di kalangan pemuda.

Survei bertajuk Digital Civility Index tersebut melibatkan 16 ribu partisipan. Meski dilakukan sejak April sampai Mei 2020, pernyataan tersebut sebenarnya sudah pernah menjadi trending di Februari 2021 lalu. Dibanding negara serumpun seperti Malaysia dan Singapura, Indonesia tertinggal jauh. Singapura menempati peringkat pertama di Asia Tenggara. Sementara secara global negara berjuluk The Lion City itu menempati posisi keempat.

Di momen sumpah pemuda ini, tidak ada salahnya jika refolusi akhlak ini kembali menjadi refleksi. Bahwa, tidak semua yang muncul di dunia maya itu harus direspon dengan agresif. Toh, nyatanya tidak semua orang paham alasan seseorang terekam dan menjadi viral di media sosial (medsos). Terlepas dari framing yang diatur sedemikian rupa dari pihak tertentu, tidak jarang respons yang diberikan netizen timpang dengan niat awal pengunggahnya.

Tidak cukup sampai di situ, segala bentuk sumpah serapah pun dengan entengnya menghiasi kolom komentar dari konten-konten 'lezat' tersebut. Mulai dari caci maki, ejekan, sarcasm, hingga pujian dan pembelaan, semuanya lengkap.

Masih ingat dengan kasus hilangnya akun official All England 2021 Maret lalu? Akun resmi tersebut menghilang setelah warganet Indonesia beramai-ramai memprotes kebijakan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) atas dilarangnya pemain asal Tanah Air untuk bermain dalam kompetisi tersebut.

Terlepas dari indikasi ketimpangan aturan oleh Satgas Covid-19 setempat, hal itu lagi-lagi menjadi salah satu catatan merah bagi netizen Indonesia. Tak berselang lama, nama netizen Indonesia kembali naik daun setelah muncul skandal YouTuber blasteran Korea Selatan - Indonesia Sunny Dahye.

Dari berbagai kontroversi lulusan Universitas Gadjah Mada itu, nama warganet Indonesia juga kembali menjadi perbincangan dikalangan Korean Netizen (KNetz). Dalam kabar yang beredar, banyak YouTuber asal negeri gingseng tersebut yang ternyata hanya mencari keuntungan dari warganet Indonesia. Mereka menganggap bahwa netizen asal Indonesia sangat mudah dibodohi dengan konten-konten yang menarik simpati.

Dalam hal ini, banyak YouTuber Korsel yang memanfaatkan hal tersebut demi meraih adsense yang menjadi keuntungan bagi mereka. Hallyu wave atau demam Korea yang mendarah daging di Indonesia membuat para oknum 'penghibur' tersebut tertarik untuk memanfaatkan kepolosan netizen Indonesia.

Tak lagi melulu berdebat kusir soal operasi plastik, sepertinya tidak ada salahnya jika netizen belajar tentang nilai moral dari Korea Selatan. Negara yang terkenal dengan hallyu wave atau gelombang Korea-nya tersebut belakangan kembali membuat geger dengan berita skandal salah satu pekerja seninya.

Adalah aktor Kim Seon Ho yang muncul dengan kabar mengejutkan yakni skandal aborsi antara dirinya dan sang mantan kekasih. Aktor kelahiran 1986 itu kedapatan pernah memaksa mantan kekasihnya untuk menggugurkan kandungan dari hasil hubungan keduanya.

Sang mantan yang diketahui juga menggeluti dunia broadcasting itu menceritakan kisah tersebut lewat sebuah platform online yang kemudian mendapat tanggapan dari Korean Netizen (Knetz). Seorang aktor berinisial K disebut-sebut sebagai sosok pria yang terlibat dalam skandal tersebut.

Berbagai spekulasi pun bermunculan sampai mozaik foto seorang aktor yang tengah naik daun muncul di beberapa situs berita. Sempat muncul sebagai karakter yang disembunyikan, pihak agensi Kim Seon Ho dan artisnya pun akhirnya mengakui bahwa sosok tersebut adalah sang artis.

Tak hanya menjadi buah bibir di Negeri Gingseng, skandal aktor utama Drama Hometown Cha Cha Cha itu bahkan juga menjadi trending di Indonesia. Karakter 'orang baik' yang melekat dalam image Kim Seon Ho sedang hangat-hangatnya sebab drama yang dibawakannya baru saja tamat pekan lalu.

Ini menjadi bukti bahwa menjadi seorang publik figur di Korea Selatan harus sempurna. Harus bersih, tanpa cela sedikitpun. Setampan atau secantik juga sekaya apa pun, tidak ada kata maaf bagi pelanggar nilai moral di negeri tersebut.

Padahal, tindak aborsi di Korea Selatan sebenarnya adalah hal yang legal. Syaratnya, usia kandungan masih di bawah 14 minggu. Dalam kasus aborsi yang melibatkan pemain Start-Up tersebut, usia kandungan mantan kekasihnya masih 6 minggu.

Namun bagaimana pun, Kim Seon Ho adalah seorang publik figur. Lagi-lagi sesuai dengan 'hukum Knetz' seorang publik figur akan berakhir karirnya ketika terlibat skandal. Sejumlah sponsor pun berbondong-bondong memutuskan hubungan kerja sama. Mereka juga tak perlu waktu lama untuk menghapus segala bentuk media promosi yang menampilkan aktor tersebut.

Karir 'Hong Banjang' -karakter yang dimainkan oleh Kim Seon Ho di Hometown Cha Cha Cha pun hancur saat di puncak-puncaknya. Meski belakangan banyak pihak yang menyanggah skandal Kim Seon Ho, namun karirnya tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya.

Kim Seon Ho bukan satu-satunya artis Korea Selatan yang mengalami nasib tragis akibat 'karma' di masa lalunya. Ada nama aktor Jisoo yang meredup karirnya pasca isu bullying dan pelecehan seksual, juga Kim Jung Hyun yang berselisih kontrak dengan agensi atas kemundurannya dalam drama yang dibintangi. Saat itu Junghyun tiba-tiba mundur dari proyek drama "Time" tanpa alasan yang dapat diterima oleh seluruh pihak. Akibatnya, nama pemain utama Drama Mr Queen itu pun langsung meredup tak lama setelah serialnya berakhir.

Masih berkaitan dengan Jung Hyun, nama aktris cantik Seo Ye Ji turut terseret pasca percakapannya dengan sang mantan yang diduga Kim Jung Hyun terungkap oleh Dispatch. Akibatnya, lawan main Kim So Hyun di It's Okay To Not Be Okay itu harus didepak dari sejumlah proyek yang tengah dikerjakannya.

Tak hanya di kalangan artis, skandal tak termaafkan juga dialami seorang idol yakni anggota girl group Naeun April. Dia diduga menjadi pelaku bullying rekan satu grupnya. Tak jauh berbeda dengan So Ye Ji, Naeun juga didepak dari drama Taxi Driver yang tengah dikerjakannya.

Netizen di Korea Selatan tidak pernah memberi pemakluman atas sebuah kesalahan sekecil apapun yang pernah dilakukan publik figurnya. Sangat berbeda dengan di Tanah Air ya.

Di Indonesia, belakangan juga ramai dibicarakan soal pelanggaran karantina yang dilakukan oleh seorang influencer bernama Rachel Vennya. Wanita dengan 6,7 juta pengikut di Instagram itu belakangan ketahuan netizen telah mangkir dari kewajiban karantina pasca melakukan perjalanan ke negara dengan risiko penularan Covid-19 yang tinggi. Tepatnya di Amerika Serikat.

Tak hanya mangkir dari karantina, Rachel juga diketahui menggelar pesta ulang tahun mewah dengan memboyong sahabat serta tim kerjanya berlibur di Pulau Bali. Sejumlah tanggapan baik yang pro dan kontra pun bermunculan.

Ungkapan 'Buna Berhak Bahagia' yang sebelumnya menjadi pembelaan netizen atas skandal sang mantan suami, Niko Al Hakim, terkuak, kini justru menjadi boomerang. Istilah tersebut justru menjadi bahan ejekan dan ungkapan kekecewaan bagi sejumlah warganet bagi wanita kelahiran 1995 itu.

Secara hukum, Rachel Vennya jelas-jelas melanggar Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan dan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit. Ancaman hukumannya jelas, yakni satu tahun penjara.

Pemanggilan terhadap Rachel Vennya dan sang kekasih Salim Nauderer juga manajernya Maulida Khairunnisa telah dilakukan Polda Metro Jaya pada Kamis (20/10) lalu. Arah mau dibawa ke mana kasus hukum influencer tersebut paling ditunggu-tunggu netizen. Tapi lagi dan lagi, netizen juga yang membuat akun ibu dua anak itu lenyap bagai ditelan bumi. Pasca kontroversi yang muncul, tidak terhitung ratusan dan bahkan ribuan ujaran kebencian yang bersarang di kolom komentar maupun direct massage Rachel.

Boleh jadi, putusan pihak terkait atas hukuman yang akan diterima Rachel bakal menjadi pertaruhan. Sejauh mana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ditegakkan. Juga sejauh mana privilage serta uang mampu membeli moral dan bahkan hukum.

Berapa banyak pedagang kaki lima (PKL) yang diangkut rombongnya oleh Satpol PP akibat melanggar jam malam pada momen Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)? Berapa banyak pengusaha yang gulung tikar karena usahanya mandek akibat terjegal aturan? Berapa banyak karyawan/buruh perusahaan yang harus berbesar hati melepas pekerjaan karena PHK? Dan berapa hati yang tercerai berai pasca kehilangan orang-orang terdekat dan tercinta akibat pandemi Covid-19?

Jangan sampai prediksi organisasi kesehatan dunia (WHO) yang menyebut bahwa gelombang ketiga Covid-19 akan kembali muncul pada 2022 mendatang menjadi kenyataan. Hanya karena keegoisan segelintir orang yang merasa istimewa.

Terlepas dari gemah ripah loh jinawi Indonesia, secara moral tidak ada salahnya jika Indonesia belajar dari Korea Selatan. Negeri yang meletakkan nilai-nilai budaya dan sosial di atas ego. Negeri yang terlalu mahal untuk dibayar dengan privilege. Editor : Farik Fajarwati
#Sumpah pemuda #rachel vennya #Kim Seon Ho #opini