Dan soal rasa, jan tidak kalah jauh dengan warung Padang yang mahalan. Sama-sama enaknya. Sehingga ini bisa menjadi solusi bagi siapa saja yang kantongnya tipis, tapi bisa merasakan lezatnya masakan Padang.
Sebagai orang yang pekerjaannya keluyuran ke sana ke mari, salah satu hal yang sering saya cari ketika lapar di jalan adalah warung makan murah tapi bersih. Maka salah satu pilihannya adalah warung Padang serba Rp 10 ribu. Beberapa kali mampir ke warung Padang serba Rp 10 ribu ini baik di Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang. Dan benar, rasa masakan warung Padang sepuluh ribuan itu bagi lidah Jawa seperti saya hampir sama dengan yang Rp 20 ribuan atau lebih untuk porsi yang mirip, nyaris tidak bisa membedakan. Enak pokok e.
Tetapi memang tetap ada bedanya, daging rendang di warung Padang serba Rp 10 ribu lebih kecil dibanding di Warung Padang yang mahalan. Tapi bagi kami, kecil saja sudah cukup, apalagi sayur daun singkong dan sayur nangkanya juga dibanjiri kuah. Lahap.
Dulu, sebelum ada serbuan pasukan warung Padang serba Rp 10 ribu, warung Padang yang ada kesannya rumah makan elit. Warung khusus orang berduit, yang mahasiswa minggir. Benar, di tahun 2000 an, para mahasiswa di kos-kosan saya (utamanya saya), jarang sekali makan di warung Padang. Paling setahun bisa dihitung dengan jari, bahkan jari tangan kiri saja. Sisanya makan di warung Mak Yah, Mbok Nem yang tak jauh dari tempat kos, kadang utang pisan. Atau bagi yang juara bertahan, dia akan bertahan dengan mi instan sampai tanggal muda menjelang.
Selanjutnya warung Tegal. Warung ini juga nggak kalah jago dalam menggaet pelanggan. Soal sejarah warung Tegal, ada beberapa versi yang menceritakan tentang awal mula munculnya. Ada yang menyebut, Warteg lahir ketika banyaknya proyek pembangunan infrastruktur di Jakarta pada 1950-an dan 1960-an. Kala itu, pendatang asal Tegal, Jawa Tengah di ibu kota mulai menyediakan layanan kuliner di lokasi proyek berbentuk bedeng proyek hingga muncul istilah Warteg.
Versi lain menyebut, Warteg bermula dari gegeran dengan setting Mataram-Batavia antara Sultan Agung dan VOC. Saat itu, terjadi pengerahan warga Tegal sebagai prajurit penggempur VOC di Batavia. Nah di sana warga Tegal banyak yang mendirikan warung atau tempat makan ala kadarnya yang kemudian disebut Warteg. Mana yang benar, saya tidak tahu.
Yang jelas, meski penampilannya sederhana Warteg ini nyaman sekali untuk tempat makan. Dan yang lebih utama, Warteg buka 24 jam bro. Selain itu harganya juga bisa menyesuaikan kantong. Bahkan jika ingin pesan nasi, sayur dengan lauk tahu tempe atau gorengan saja juga boleh. Dan tentu saja harganya sangat harum, bisa kurang dari Rp 10 ribu.
Apalagi biar nggak ada yang tahu lauknya apa, belinya dibungkus saja, pas lagi warung agak sepi. Nasi, sayur tewel lauk tempe, dijamin tidak sampai 10 ribu. Cocok kan untuk yang pas lagi bokek. Tak heran jika Warteg ini bisa dibilang selalu ramai dan rata-rata di Kota Malang pembelinya adalah anak muda atau mahasiswa. Warung Padang serba Rp 10 ribu dan Warteg sungguh bisa menjadi idola para mahasiswa di tanggal tua, termasuk idola karyawan yang seringkali gajinya habis sebelum waktunya.
Oiya, untuk Warteg, sementara yang saya amati dan pernah coba adalah yang berada di seputaran kampus. Beli makan di Warteg cukup nyaman, kita tinggal nunjuk lauknya, sang penjual akan dengan cekatan mengambilkan. Yang membedakan Warteg dengan warung Padang adalah menunya. Di Malang jangan tanya menu tahu tempe di warung Padang, sebaliknya di Warteg tahu tempe begitu melimpah.
Cerita warung Padang serba Rp 10 ribu dan Warteg di atas bisa dijadikan contoh bagaimana cara mempromosikan sebuah produk. Sama-sama punya kekhasan dalam hal menu. Warung Padang yang dulunya dikenal sebagai warungnya orang berduit, rela menurunkan grade-nya untuk menyasar pelanggan yang tidak begitu berduit. Warung Padang menurunkah harga hingga sama dengan nasi goreng pinggir jalan yang menjamur di Kota Malang.
Dan cara ini sangat jitu untuk mengundang pelanggan baru. Hampir setiap saat warung Padang serba Rp 10 ribu selalu ramai, pembeli datang dan pergi. Jika warung Padang datang dari image warung yang elit, tidak demikian dengan Warteg. Sejak lahirnya Warteg sudah dipersepsikan sebagai warung rakyat yang harga menunya sangat ramah di kantong dengan menu yang lengkap. Dari dulu yang hanya menempati tenda ala kadarnya kini sudah semakin tertata dan seakan naik kelas. Karena tempatnya selalu bersih dan lampunya bersinar terang.
Harga terjangaku, rasa yang lezat dan menu yang bervariasi benar-benar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena itu tak heran jika usaha warung Padang dan Warteg terus eksis dalam kondisi seperti apapun. Mau pandemi, tidak pandemi, atau krisis moneter tidak krisis moneter, saya yakin warung Padang serba Rp 10 ribuan dan Warteg akan tetap berdiri kokoh dan dikerubungi para pembeli. Asalkan kontrak tempatnya tidak dinaikkan sundul langit. (*) Editor : Indra Andi