Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Harta Yang Paling Berharga Adalah Keluarga

Mardi Sampurno • Rabu, 13 April 2022 | 13:25 WIB
Agus Maimun  (Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam dan Ketua LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
Agus Maimun (Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam dan Ketua LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
KATA-KATA dalam judul tersebut merupakan salah satu lirik lagu dari sinetron paling fenomenal pada zamannya “Keluarga Cemara”, sekitar pertengahan tahun 90an sampai pertengahan tahun 2000an. Sinetron ini mengisahkan suatu keluarga yang kaya raya kemudian jatuh miskin. Meskipun jatuh miskin, tidak mengurangi kebersamaan dan kehangatan mereka sebagai keluarga yang harmonis. Mereka menerima keadaan dengan lapang dada, tanpa ada pihak yang disalahkan. Keutuhan keluarga tidak boleh terkoyak oleh apapun juga yang bersifat materi dan duniawi.  Karena mereka berprinsip, harta yang paling berharga adalah keluarga.

Andaikan menjadi suatu realitas, kisah ini akan menyayat hati dan semua orang ingin berlepas dari persoalan ini. Namun kisah ini dapat diambil pelajaran dalam kehidupan dan dapat ditarik benang merah dengan konsep keagamaan. Kalau kita cermati secara seksama, kisah ini merupakan cerminan dari sikap sabar dan qonaah dalam keluarga. Dua sikap tersebut merupakan pilar penyangga untuk keutuhan keluarga sekaligus kehormatan keluarga. Tanpa dilandasi sikap sabar, seringkali keluarga menjadi tama’ atau ambisius. Karena sabar pada dasarnya adalah perasaan untuk menahan atau menunda keinginan yang berlebihan. Jika menuruti keinginan, setiap anggota keluarga mempunyai keinginan yang beragam dan ini seringkali menjadi beban bagi keluarga. Disinilah diperlukan visi keluarga yang sama, sehingga lahir perilaku saling menghargai antar anggota keluarga. Mereka saling menjaga lisannya untuk tidak saling menyakiti, tetapi dibangun atas dasar penghormatan dengan kata-kata yang menyejukkan.

Jika megacu pada firman Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 153 “… sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” menunjukkan betapa pentingnya kesabaran itu dalam kehidupan. Prof. Quraisy Shihab memaknai kesabaran ini dengan sabar dalam menghadapi ejekan dan rayuan, sabar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, sabar dalam petaka dan kesulitan, dan sabar dalam berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Keluarga yang dibangun atas dasar kesabaran, akan mendapatkan kehormatan dalam hidupnya.

Banyak orang yang gagal memahami konsep kehormatan keluarga sebagai dasar tradisi masyarakat Indonesia. Beberapa budaya menghargai kehormatan keluarga lebih dari yang lain. Banyak nilai kehormatan keluarga dapat mengalahkan tindakan atau keyakinan individu. Kehormatan keluarga mempengaruhi status sosial seseorang. Keluarga dipandang sebagai sumber utama kehormatan dan masyarakat sangat menghargai hubungan antara kehormatan dan keluarga. Perilaku anggota keluarga yang penuh kesabaran mencerminkan kehormatan keluarga dan cara keluarga memandang dirinya sendiri dan dirasakan oleh orang lain sebagai sesuatu yang simpatik. Lebih dari itu, kehormatan keluarga dapat bergantung pada banyak faktor, antara lain status sosial, pendidikan, pekerjaan atau karier, kepemilikan harta, dan rumah serta mobil yang dimiliki.

Banyak orang yang hidup dalam budaya kehormatan yang tinggi, dengan memandang keluarga sebagai institusi sentral dalam kehidupan masyarakat dan identitas sosial seseorang sangat bergantung pada kondisi keluarga. Oleh karena itu, penting bagi anggota keluarga untuk memenuhi harapan keluarga dan masyarakat agar dapat diterima dengan penuh penghormatan. Dalam beberapa pendapat ahli, menjaga kehormatan keluarga dianggap lebih penting daripada kebebasan individu atau pencapaian karir. Apalah artinya pangkat yang hebat, karir yang cepat, rumah tingkat empat, mobil mengkilat, dan isteri memikat serta jumlahnya empat sekalipun, kalau dalam keluarga penuh dengan kegalauan, tidak akan menjamin ketenangan, bahkan akan menjadi bencana kehidupan. Untuk itu menjaga keluarga yang damai, sebuah keniscayaan. Suatu nuansa keluarga yang selalu didambakan oleh setiap insan yang beriman.

Disamping sikap sabar, sikap qonaah merupakan pilar penyangga ketahanan keluarga. Qanaah dalam Islam merupakan cerminan menerima seberapapun rezeki yang diberikan oleh Allah atas semua usaha yang sudah dlakukan dan merasa cukup tanpa adanya sikap suudzan kepada Allah atas nikmat yang diterima. Rezeki sebagai pilar keluarga, seringkali menjadi pemicu keretakan keluarga. Bahkan faktor yang paling dominan dari perceraian suatu perkawinan adalah masalah ekonomi atau rezeki. Mengapa ini terjadi ? Karena rezeki berpengaruh pada harapan keluarga akan masa depan anggota keluarga. Keluarga dengan rezeki yang relatif kurang menganggap anggota keluarga (khususnya anak) sebagai beban. Sedangkan keluarga dengan rezeki yang relatif melimpah dapat memenuhi semua kebutuhan, meskipun hal ini  tidak menjamin lahirnya kebahagiaan lahir dan batin.

Dalam masyarakat modern, konsep keluarga telah berubah secara drastis dari keluarga yang patternalistik menjadi keluarga yang materialistik. Peran keluarga berputar di sekitar ekonomi yang ujung-ujungnya rezeki. Seakan-akan rezeki menjadikan semua urusan keluarga selesai. Padahal rezeki hanya sebagian kecil kontribusinya pada keutuhan keluarga. Lebih penting dari itu adalah kemampuan anggota keluarga mengelola hati dan pikirannya untuk menghasilkan konsep diri yang positif dan kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan dan pencapaian keluarga apapun rezeki yang diperoleh. Kemampuan membangun kesabaran dan mengelola emosi atas apa yang diterima, menjadi kunci dalam menghadapi masalah-masalah keluarga yang bersifat materi. Untuk itu, keutuhan keluarga hanya bisa terjamin kalau dibangun atas dasar sikap sabar dan qonaah.

Sabar dan qonaah sebagai faktor yang menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis tidak lengkap kalau tidak didasari dengan perasaan “cinta” yang dalam. Cinta sangat penting untuk membangun keharmonisan keluarga. Kata cinta memang tidak bisa didefinisikan secara operasional, tetapi bisa dirasakan dengan penuh penghayatan. Ketika seseorang lelah, stress, pusing mikir pekerjaan, dan perilaku kecemasan lainnya muncul, kalau keluarga inti penuh dengan rasa cinta semua akan sirna. Orangtua memainkan peran penting dalam membentuk cinta dalam keluarga. Wujud cinta itu adalah orangtua menyayangi anaknya dan anak menghormati orangtua. Tidak ada saling menuntut, mengeluh, bahkan merasa ada yang salah dalam keluarga. Mereka membangun satu visi kehidupan yang didasari nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah yang dalam. Inilah pilar penyangga keluarga, harta yang paling berharga dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Mudah-mudahan di bulan ramadhan 1443 H ini kita bisa menghiasi keluarga dengan sikap sabar, qonaah, dan cinta. Amiin. Editor : Mardi Sampurno
#UIN Maulana Malik Ibrahim Malang #LP2M UIN #Ramadan 1443 H #radar malang #opini