Purwo adalah permulaan. Seperti dalam bagian cerita, parwa. Sari berarti bunga. Memang pemudi kan berbunga-bunga jika diajak pemuda ke sini, jika merasa cocok perjalanan pun menanjak ke Purwodadi. Dadi tentunya jadi. Keluarga si pemuda memberikan pengikat sebagai tanda bahwa pemudi sudah jadi bagian keluarga dengan pernikahan.
Sebelum Lawang dari utara, sebelah kiri berdiri gapura bertuliskan RSJ dr. Radjiman Wedyodiningrat. Beliau (1905-1906) adalah dokter pribumi pertama di Rumah Sakit Jiwa Lawang. 14 Juli 1945 sebagai Ketua BPUPKI beliau mengusulkan pajak harus diatur dengan Undang-Undang ketika kelak Indonesia merdeka. Jadilah Pasal 23 UUD ”Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undangundang.” Saat ini tanggal 14 Juli diperingati sebagai Hari Pajak. Bagi orang pajak usulan seorang dokter diperingati sebagai Hari Pajak. Maka nasehat-nasehat dokter sudah seharusnya ditaati, terlebih saat pandemi.
Lawang tidak hanya pintu, melainkan gerbang perjalanan panjang pasangan. Setelah melalui Lawang, pasangan akan sampai di Bedali. Ketika seseorang akan mengurai jahitan, ia akan berhatihati membuka satu per satu benang dan ikatannya, inilah bedeli selanjutnya Bedali. Maka ketika pasangan sudah melewati pintu, saling membukalah dengan hati-hati sampai Randuagung.
Buah randu isinya disebut kapuk. Agung artinya besar. Orang lama menyebut phalus lelaki dengan randu. Tunggulah hingga randu-nya menjadi agung. Kalau bapak-bapak memasuki pintu (rumah), ber-bedali, tunggulah hingga randu njenengan agung. Baru setelah itu: Singosari.
Di sinilah berpadu Singo dan Sari. Singo, singa bertaring dan berkumis perlambang lakilaki. Sari – bunga perlambang perempuan. Inilah saatnya pasangan saling melengkapi kelelakian dan keperempuanan. Saatnya tak ada halangan. Setelahnya dunia peran, Mondoroko.
Mondo artinya dunia dalam artian tidak secara fisik. Raka artinya kakanda. Bersiaplah berbagi peran: ketika yang satu jadi kanda yang lain jadi dinda. Ketika yang satu bicara, yang lain mendengar. Ketika yang satu bersedih, yang lain menghibur. Itulah Mondoroko dan nikmatilah berdua karena setelahnya Banjararum. Seterbuka apapun, di Banjar atau kampungharuslah tetap Harum. Tidak menceritakan semua (rahasia) pasangan di Banjar. Untuk refleksi diri cukuplah ke selatan lagi, Karanglo. Seperti dalam Karang Taruna, Karang adalah tempat. Lo merupakan ungkapan gumun untuk diri karena menyaksikan sesuatu. Jadi untuk kegumunan kita ke pasangan cukuplan ke Karanglo untuk bergumam: Lo, tibake...
Patung Ken Dedes yang bergelar Ardana Riswari (harfiah: gua garbanya bersinar). KONON saat dibuat, patung berbusana. Setiap malam, si patung sering menghilang untuk mandi di kali, demikian berkali-kali. Hingga suatu malam, di hulu sungai hujan lebat, luapan air kali menghanyutkan pakaiannya. Si patung pun menangis dengan lirih, mewek. Suaranya terdengan orang-orang Arjosari, dan sejak itu mereka menamai sungai ini Kali Mewek. Sebab busananya kinyut, maka hinga kini patung Ken Dedes pun tak berbusana.
Sampailah di Arjosari, di mana saat ini pengarang berkhidmat mengabdi. Demikian penguasaan wilayah kami sampaikan sengawur-ngawurnya. Atas perhatian dan Kerjasama Saudara, kami ucapkan terima kasih. *) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja Editor : Mardi Sampurno