RADAR MALANG - Berapa kali Anda membeli baju baru di luar momentum Lebaran? Jika lebih dari satu kali, barangkali, sudah waktunya melakukan ini secara rutin. Serutin Anda membeli pakaian-pakaian baru itu. Baju, celana, sepatu, sandal, dan aneka aksesorisnya.
Decluttering. Manusia memang punya watak untuk menyukai hal-hal baru. Sekalipun itu di luar kebutuhannya. Apalagi jika ia memang memiliki kemampuan untuk memenuhi. Maka, jika puluhan tahun lalu Lebaran masih menjadi satu-satunya momentum untuk membeli baju baru, belakangan sudah tidak lagi. Itu terjadi seiring dengan perbaikan ekonomi di masyarakat.
Kita bisa bandingkan, pada 1990 ketika masih banyak orang yang hanya mampu membeli baju setahun sekali, saat Lebaran, pendapatan per kapita masyarakat kita adalah USD 583. Mundur sepuluh tahun sebelumnya, 1980, hanya USD 489. Apalagi dua puluh tahun sebelumnya, 1970, hanya USD 79.
Pada 2000, tiga tahun setelah krisis ekonomi 1997, angkanya naik menjadi USD 771. Lalu, pada 2010, meloncat menjadi USD 3.094 dan 2020 ketika anjlok dihantam pandemi masih USD 3.894. Setahun kemudian, 2021, sudah membaik menjadi USD 4.333. Setidaknya itu data yang disajikan macrotrends yang bersumber Bank Dunia.
Melihat profil di atas, bisa dipahami jika kini Lebaran bukan lagi satu-satunya momentum untuk membeli baju baru. Berbeda dengan tahun 1990-an ke bawah, di mana masih banyak anak-anak yang menggunakan celana seragam sekolahnya sekaligus sebagai pakaian Lebaran dan pakaian sehari-harinya. Celana seragam bisa difungsikan ganda sebagai celana sehari-hari karena tidak ada badge sekolah yang terpasang. Itu lazim dijumpai 30-40 tahun lalu.
Pada era otonomi pascareformasi, daerah lebih punya keleluasaan untuk mengatur anggarannya. Di situ, banyak kepala daerah atas persetujuan legislatifnya yang kemudian membuat program seragam gratis, tas gratis, sepatu gratis, dan buku gratis untuk seluruh warganya yang bersekolah. Karena itu, warga bisa mengalihkan bujet pembelian seragam untuk anak-anaknya ke kebutuhan yang lain. Termasuk membelikan pakaian baru untuk mereka.
Sejak itu, rasanya, semakin banyak yang menggunakan seragam sekolah ya hanya untuk bersekolah. Tas sekolah hanya untuk bersekolah. Sepatu sekolah hanya untuk pergi ke sekolah. Sementara, pakaian untuk bermain sendiri. Begitu pula tas dan sepatunya. Sendiri-sendiri.
Maka, di lemari pakaian, seragam sekolah dan pakaian non-sekolah disendirikan. Di rak sepatu, tak cukup sepasang yang dipajang. Sepatu bola, sepatu basket, dan sepatu hang out harus pula disendirikan di luar sepatu yang dipakai ke sekolah.
Apalagi bagi yang sudah bisa bekerja dan menghasilkan duit sendiri. Tak jarang membujetkan belanja bulanan untuk itu semua. Bukan hanya untuk atasan dan bawahan. Tapi, juga penutup kepala hingga alas kaki. Ada jadwal periodik untuk menggantikannya.
Berbeda dengan orang kebanyakan 30-40 tahun lalu yang baju Lebarannya masih bisa dipakai hingga lima Lebaran ke depan, usia pakai pakaian kelompok ini jauh lebih pendek. Bahkan, banyak yang tak sampai hitungan tahun. Maksimal tiga kali pakai di tempat umum, harus sudah berganti.
Kelompok inilah yang kerap punya problem dengan ruangan. Ruang lemari, rak, juga ruang kamar. Tiba-tiba saja semua ruang yang tersedia terasa penuh. Oleh pakaian baru dan aneka aksesorisnya yang datang untuk menggantikan yang sudah dianggap lama.
Barangkali, meski tak seekstrem itu, kita juga begitu. Baru sadar ketika lemari, rak, dan ruangan penuh oleh barang-barang yang satu demi satu kita beli tanpa terasa. Sementara, untuk menyingkirkannya, eman-eman. Lha wong masih bagus. Masih bisa dipakai lagi, entah kapan.
Di situlah kita perlu melakukan apa yang disebut di atas: decluttering. Menyingkirkan barang-barang yang sudah tidak dibutuhkan dan hanya menyimpan yang benar-benar dibutuhkan. Misalnya, kalaupun dalam seminggu yang berjumlah tujuh hari harus selalu berganti pakaian, untuk apa harus menyimpan 30 pasang pakaian di lemari? Demikian pula dengan sepatu, tas, peralatan dapur, dan barang-barang kebutuhan lain di dalam rumah.
Kebutuhan dan keinginan. Sering kali kita susah membedakannya. Decluttering adalah bagian dari gaya hidup minimalis. Hidup secukupnya. Urip sak madya. Seringkali kita tidak menjadi sak madya karena orang lain. Kata almarhum kiai di kampung saya, kita lebih sering hidup untuk orang lain daripada untuk diri sendiri. Demi mendapat pujian dan khawatir cacian orang lain, kita tak berkeberatan bergaya melebihi kewajaran. Sekalipun itu membuat kita sendiri gerah dan tak nyaman -bahkan berutang, misalnya.
Lebaran adalah momentum tepat untuk melakukan itu. Decluttering. Cuci gudang. Mengeluarkan barang-barang yang tak dibutuhkan dari dalam rumah. Yang nilai gunanya kecil. Jarang dipakai. Sekalipun masih bagus dan kita sayang. Salurkan kepada mereka yang membutuhkan sambil mudik ke kampung halaman.
Sebab, walaupun gross domestic product (GDP) kita sudah melesat dibanding puluhan tahun lalu dan angka kemiskinan bisa terus ditekan, secara riil jumlah penduduk miskin kita masih mencapai puluhan juta orang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut 26 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan pada tahun lalu. Secara spasial, tingkat kemiskinan di perkotaan maupun pedesaan juga sempat naik tipis pada September tahun lalu. Masing-masing menjadi 7,53 persen dan 12,36 persen.
Di kalangan mereka, barang-barang yang kita “cuci gudang” masih akan sangat berguna. Jauh lebih berguna daripada mendekam dan memenuhi lemari maupun ruang-ruang rumah kita.
So, jika di kalangan anak-anak muda kini sedang ngehits fenomena thrifting, berburu pakaian bekas impor, mengapa Lebaran ini tidak kita semarakkan dengan decluttering? Inilah saatnya hidup untuk membahagiakan diri sendiri. Dengan menjadi perantara kebahagiaan orang lain. (*) Editor : Indra Andi