Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Trump Rogan

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 11 November 2024 | 01:45 WIB
Photo
Photo

Donald Trump menang.

Keunggulannya atas Kamala Harris pun mutlak.

Suara elektoralnya 295. Suara populernya 74 juta.

Sementara, Harris kalah jauh, baik dalam suara elektoral maupun suara populer.

Jika tak ada kejutan, maka politisi partai Republik itu bakal menjadi Presiden ke-47 Amerika Serikat.

Ada dua faktor yang mungkin berpengaruh besar pada kemenangannya.

Satu, insiden percobaan pembunuhannya.

Dua, Joe Rogan Insiden percobaan pembunuhan Donald Trump memang menjadi titik balik kampanyenya.

Foto Trump yang berdarah-darah sambil mengepalkan tangan memenangkan hati rakyat Amerika.

Sejak insiden penembakan itu, tren Kamala Harris dan Demokrat seperti tanah longsor.

Ditambah lagi, publik Amerika jengah terhadap propaganda kaum LGBTQ di sekolah-sekolah dasar.

Faktor kedua, yang menurut saya paling krusial, adalah kesediaan Donald Trump tampil 3 jam di podcast Joe Rogan Experience.

Dalam wawancara itu, sosok Donald Trump ditunjukkan dengan gamblang.

Ke-random-an Joe Rogan dalam memberi pertanyaan juga menunjukkan kepiawaian Trump membahas banyak isu.

Secara terbuka, Trump mengutarakan pendapatnya tentang berbagai hal.

Dia juga menunjukkan nilainilai kehidupan yang dipegangnya.

Dalam wawancara 3 jam itu, Trump menunjukkan pula bahwa dia punya rasa humor tinggi.

Secara otomatis, publik Amerika jatuh cinta lagi pada pria berambut oranye itu.

Dukungan membanjiri Trump.

Apalagi, dalam podcast tersebut, Joe Rogan sebenarnya sudah mengundang Kamala Harris juga. Sayangnya, hingga pemilihan, Kamala Harris tidak pernah menanggapi permintaan Joe Rogan untuk wawancara 3 jam seperti Trump.

Belum lagi, Trump juga hadir di berbagai podcast terkenal dengan host para komedian.

Misalnya podcast Theo Von dan Flagrant milik Andrew Schulz.

Dua standup comedian itu terkenal kritis dan satir dalam membahas politik Amerika.

Trump dengan gagah, tenang dan santai, berani datang ke podcast-podcast tersebut.

Publik Amerika pun akhirnya bisa melihat Trump secara utuh, tidak sepotong-potong.

Dalam teori komunikasi, tindakan Trump yang berani tampil 3 jam di podcast Joe Rogan itu merupakan fenomena komunikasi penetrasi sosial.

Teori ini dikembangkan Irwin Altman dan Dalmas Taylor pada tahun 1973.

Pada prinsipnya, komunikasi penetrasi sosial menggambarkan bagaimana proses pembukaan diri (self-disclosure) terjadi dalam hubungan antara individu.

Secara bertahap, individu membuka lapisan-lapisan identitas mereka.

Dalam konteks pencitraan publik politisi, maka teori ini dapat menjelaskan cara politisi membangun dan mempertahankan citra positif di mata publik.

Kejujuran dalam komunikasi politisi adalah kunci utama menciptakan hubungan autentik dengan masyarakat.

Politisi yang terbuka dan transparan dalam menyampaikan informasi pribadi, pemikiran, atau pandangannya akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari publik.

Masyarakat cenderung melihat mereka lebih manusiawi dan dapat didekati.

Kemauan membuka diri juga berperan penting.

Anggaplah seorang politisi menunjukkan kesediaan untuk berbicara secara terbuka tentang hal-hal yang lebih pribadi atau sensitif.

Misalnya seperti masalah keluarga atau pengalaman pribadi.

Menurut teori itu, informasi pribadi itu menciptakan kedekatan emosional dengan audiens mereka.

Hal ini membuat politisi tampak lebih manusiawi dan tidak hanya sebagai figur yang jauh dari kehidupan nyata rakyat.

Komunikasi terbuka memang dapat meningkatkan citra publik politisi.

Tetapi ada risiko lain.

Terlalu banyak pembukaan diri atau informasi yang tidak tepat waktu dapat digunakan oleh pihak oposisi untuk menyerang atau mendiskreditkan politisi.

Bagi Donald Trump, risiko itu hampir nol. Karena, selama ini dia selalu diserang politisi Demokrat di berbagai platform media. Penampilannya di podcast Joe Rogan, malah menjadi kartu truf.

Sebaliknya, diduga Harris memang tidak akan pernah menerima undangan podcast Joe Rogan.

Karena, banyak pihak menganggap citra publik Harris terlalu dibuat-buat.

Sehingga, tampil jujur selama 3 jam di podcast Joe Rogan malah akan menghancurkan topengnya.

Pemilik Space X dan X, Elon Musk pun menyebut podcast panjang Trump dan JD Vance, calon wakil presiden AS, sangat berdampak.

Dia menilai podcast Joe Rogan, Theo Von, Andrew Schulz dan Lex Fridman, adalah podcast akal sehat.

Para podcasternya merupakan orang cerdas dengan pandangan yang tidak ekstrem.

“Mereka hanya mendengarkan orang berbicara selama beberapa jam. Dan dari situlah mereka menentukan apakah anda orang baik, apakah mereka akan menyukai anda,” kicau Elon Musk.

Maka dari itu, Elon berpendapat bahwa kampanye Kamala Harris akan rontok bila tampil di podcast Joe Rogan.

Jangankan 3 jam, tampil 45 menit saja sudah akan merontokkan pencitraan yang selama ini dibangun.

“Sebaliknya, Donald Trump hanya menjadi dirinya sendiri, ngobrol tiga jam dengan Joe Rogan, dan tidak ada masalah,” tutupnya.(*)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Trump Rogan