Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

AI: Teman atau Musuh di Masa Depan?

Aditya Novrian • Selasa, 7 Januari 2025 | 20:50 WIB

Photo
Photo

Oleh: Derrick Muhammad Hanif

ERA digital modern sekarang, banyak orang menggunakan artificial intelligence (AI) sebagai penunjang atau bantuan untuk memudahkan pekerjaan mereka. Selain memudahkan pekerjaan, AI juga menawarkan efisiensi waktu, maka dari itu banyak orang menggunakan AI.

Namun, penggunaan AI yang semakin luas di berbagai bidang mungkin membuat bertanya-tanya, apakah suatu hari nanti AI akan sepenuhnya menggantikan pekerjaan manusia. Perkembangan AI sudah membawa dampak signifikan di berbagai sektor. Menurut laporan McKinsey Global Institute, diperkirakan AI akan meningkatkan produktivitas global hingga $13 triliun pada tahun 2030.

Ada kekhawatiran tentang dampak negatifnya. Banyak pekerjaan berisiko tergantikan oleh otomatisasi. Studi Oxford University memperkirakan sekitar 47 persen pekerjaan di AS memiliki risiko tinggi untuk otomatisasi dalam dua dekade ke depan.  

Penting di masa modern ini untuk menyeimbangkan perkembangan AI dengan kebijakan yang memastikan pekerjaan manusia tetap relevan. Pendidikan berbasis teknologi terutama mengenai AI harus ditingkatkan agar masyarakat siap menghadapi perubahan besar di dunia kerja.

Pengembangan AI juga dapat mendorong inovasi di sektor kesehatan. Misalnya, penggunaan AI dalam menganalisis data medis memungkinkan diagnosa yang lebih cepat dan akurat, yang dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa. Selain itu, AI juga berperan dalam pengembangan obat-obatan baru dengan mempercepat proses penelitian.

Di bidang transportasi, teknologi seperti mobil otonom dapat mengurangi angka kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh kesalahan manusia. Namun, penting untuk memastikan bahwa inovasi ini tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi juga tersedia bagi masyarakat luas.

Selain sektor kesehatan dan transportasi, AI juga memiliki peran penting dalam mitigasi bencana. Teknologi AI dapat digunakan untuk memprediksi dan memantau potensi bencana alam seperti gempa bumi, banjir, atau kebakaran hutan. Misalnya, algoritma pembelajaran mesin dapat menganalisis data cuaca dan geologi untuk memberikan peringatan dini sehingga memungkinkan pemerintah dan masyarakat mengambil tindakan preventif yang lebih efektif.

Hal ini menunjukkan bagaimana AI dapat membantu menyelamatkan nyawa sekaligus meminimalkan kerugian ekonomi akibat bencana. Selain itu, masalah privasi dan keamanan data juga menjadi perhatian utama. Dengan meningkatnya penggunaan AI dalam pengolahan data, tentu terdapat risiko penyalahgunaan informasi pribadi yang semakin nyata.

Risiko  ini meliputi 1) pengangguran akibat otomatisasi, karena otomatisasi ini sangat besar kemungkinan menggantikan sektor yang membutuhkan keterampilan rendah. Contohnya, pekerjaan di lini produksi, layanan pelanggan, dan administrasi. 2) Privasi keamanan data akibat penyalahgunaan AI, karena AI membutuhkan kumpulan data sebagai learning media agar AI sendiri semakin pintar dengan sendirinya. Yang mana, pengumpulan data skala besar tersebut meningkatkan risiko pelanggaran privasi dan data pribadi dapat dieksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. 3) Menjadikan masyarakat ketergantungan berlebihan terhadap AI, yang mana dapat mengakibatkan hilangnya kemampuan manusia untuk berpikir kritis. 4) Banyak berita hoax akibat penyalahgunaan AI, seperti deepfake (mengubah foto seseorang dengan wajah orang lain).

Dari sudut pandang positif, AI bisa sangat berguna dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Baik di bidang pendidikan, bisnis, kesehatan, dan masih banyak lagi. Dari segi pendidikan, pemerintah bisa membuat sistem pembelajaran berbasis AI digunakan untuk menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa sehingga meningkatkan efektivitas pembelajaran. Dari segi bisnis dapat menggunakan AI sebagai sistem informasi manajemen yang memungkinkan pengambilan keputusan lebih cepat dan tepat.

Meskipun AI menawarkan berbagai manfaat, adopsi teknologi ini juga memunculkan tantangan baru di dunia kerja. Salah satu tantangan utamanya adalah perlunya peningkatan keahlian teknis pada tenaga kerja agar mereka dapat bersaing di era digital. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu bekerja sama dalam menyediakan program pelatihan berbasis teknologi untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi transformasi industri. Tanpa upaya ini, kesenjangan keterampilan dapat semakin melebar, yang berpotensi memperparah ketimpangan sosial.

Namun, meskipun begitu, tantangan yang dihadapi tidak bisa masyarakat abaikan, seperti tantangan teknologi akibat kurangnya keahlian teknis pada sebagian besar tenaga kerja. Kemudian, ada tantangan etika yang muncul karena potensi penyalahgunaan AI, seperti deepfake atau propaganda otomatis; tantangan regulasi akibat belum adanya regulasi global yang konsisten terkait pengembangan dan penggunaan AI; serta tantangan sosial dan ekonomi yang muncul karena kesenjangan antara mereka yang memiliki device untuk mengakses AI dan yang tidak.

Survei Pew Research Center tahun 2023 menunjukkan bahwa 72 persen responden percaya bahwa AI akan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak, dibanding yang akan dihilangkan. Namun 58 persen responden juga khawatir tentang dampak AI dari segi privasi. Meskipun data menunjukkan bahwa masyarakat optimis terhadap potensi AI dalam menciptakan lapangan kerja baru, penting untuk diingat bawah peluang tersebut tidak akan merata di seluruh sektor dan wilayah.

Oleh karena itu, pemerintah dan sektor swasta perlu bekerja sama untuk memastikan terlaksananya pelatihan keterampilan yang relevan bagi tenaga kerja. Untuk mengatasi tantangan regulasi dan privasi, pendekatan seperti GDPR di Uni Eropa dapat menjadi contoh dalam melindungi data masyarakat. Hanya dengan pendekatan yang terintegrasi masyarakat dapat memaksimalkan manfaat AI sembari meminimalkan risikonya.

Kecerdasan buatan berpotensi menjadi teman atau musuh manusia di masa depan, tergantung pada pengelolaan risiko, dan peluangnya. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan kerangka kerja yang etis serta bertanggung jawab. Investasi dalam pendidikan, pelatihan, serta regulasi ketat akan memastikan AI mendukung masa depan yang lebih baik bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali dan diskriminasi apa pun. (*)

Editor : Aditya Novrian
#AI #opini