”ANAK tunggal berkemungkinan menjadi beban di tempat kerja,” Itulah kalimat kontroversial yang pernah ditulis Mellissah Smith, founder Marketing Eye, firma konsultan pemasaran terkemuka di dunia.
Tentu banyak pro dan kontra menanggapi kalimat tersebut.
Sebab faktanya, stigma tentang anak tunggal yang beredar cukup beragam.
Sehingga akan terbentuk dua kubu.
Ada yang memaknai status anak tunggal adalah sebuah privilege.
Ada pula menganggapnya sebagai ’kutukan’.
Kubu yang meyakini sebagai privilege pasti memercayai stigma anak tunggal yang hidupnya tenang karena selalu mendapatkan kasih sayang penuh.
Tidak perlu ada kata berbagi dalam kamusnya.
Sehingga kebiasaan tenang dan santai umumnya mudah ditemui pada individu yang berstatus anak tunggal.
Seperti pada kasus kebiasaan makan.
Kebanyakan anak tunggal cenderung makan lebih lama ketimbang yang lain.
Itu diyakini karena mereka terbiasa dengan perasaan memiliki seutuhnya tanpa harus susah payah berbagi.
Kubu yang menganggap sebagai ’kutukan’ berkata lain.
Mereka umumnya berfokus pada kebiasaan manja yang cenderung dimiliki anak tunggal.
Perasaan memiliki seutuhnya dinilai berpotensi membentuk seseorang yang self centered atau terlalu memfokuskan perhatian pada diri sendiri.
Hal tersebut rawan berimplikasi pada kebiasaan mengabaikan kebutuhan dan perspektif orang lain.
Selaras dengan kalimat awal dari Mellissah Smith, yang beranggapan bahwa anak tunggal berkemungkinan menjadi beban di tempat kerja.
Ketika anak tunggal memasuki dunia kerja, mereka akan menyadari bahwa mereka tidak lagi ’istimewa’.
Mereka hanya bagian dari tim.
Bahkan mungkin akan sedikit terkejut dengan tantangan untuk menahan diri di lingkungan kerja.
Sebab, di rumah mereka mungkin sudah terbiasa menyuarakan pendapat tanpa konsekuensi.
Sederhananya, mereka cenderung hanya mau melakukan sesuatu yang mereka inginkan tanpa interupsi.
Para psikolog beranggapan bahwa anak tunggal biasanya lebih cocok menjadi pemimpin daripada bagian dari tim.
Hal tersebut tidak terlepas dari karakteristik mereka yang cenderung suka mendikte dan memberi tahu orang lain tentang apa yang harus dilakukan.
Cinta Laura Kiehl, yang dikenal sebagai entertainer, entrepreneur, dan aktivis sosial adalah seorang anak tunggal.
Dia adalah contoh klasik dari anak tunggal yang mengambil jalan sebagai pemimpin.
Cinta Laura memilih langkah hidupnya untuk membangun sederet bisnis dari platform digital hingga kuliner.
Yayasan Soekarseno Peduli juga merupakan salah satu organisasi penggalangan dana di bidang pendidikan yang didirikan Cinta Laura.
Itu menjadi bukti nyata bagaimana jalan seorang anak tunggal yang sukses sebagai pemimpin ketimbang sekadar menjadi karyawan.
Telah terbukti bahwa status dan urutan kelahiran memengaruhi peran dan pola interaksi dalam karier.
Meskipun tidak dapat dihindari kenyataan sebagai siapa seseorang dilahirkan, yang dapat dilakukan saat ini adalah mengembangkan kesadaran dan belajar beradaptasi di dunia kerja.
Kepercayaan diri yang biasanya dimiliki seorang anak tunggal bisa menjadi senjata dalam peran kepemimpinan.
Namun hal itu hanya berlaku jika orang itu mampu mengembangkan keterampilan kerja dalam tim dan toleran di tempat kerja.
Maka, silakan tentukan peran dalam memandang status anak tunggal.
Akankah sebagai privilege atau ’kutukan’? (*)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana