STUNTING masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, termasuk di Kota Malang.
Meski jumlahnya terus menurun, Kota Malang belum sepenuhnya terbebas dari masalah gizi buruk itu.
Menurut Survei Kesehatan Indonesia, prevalensi stunting di Kota Malang pada 2021 berada di kisaran 25,7 persen.
Kemudian turun menjadi 18,4 persen pada 2022, dan semakin berkurang hingga 17,3 persen pada 2023.
Begitu pula berdasar hasil pemantauan bulan timbang, angka stunting terus menurun dari 9,4 persen pada 2021, menjadi 8,1 persen pada September 2024.
Meski menurun, ancaman stunting tetap perlu perhatian lebih.
Sebab, banyak masyarakat yang menganggap stunting hanya sebatas masalah tinggi badan yang tidak optimal.
Padahal, dampaknya jauh lebih luas.
Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami keterlambatan perkembangan kognitif, kesulitan belajar, daya saing rendah di dunia pendidikan maupun pekerjaan, serta lebih rentan terhadap penyakit tidak menular saat berusia dewasa.
Penyebab utama stunting cukup kompleks.
Salah satu faktor utamanya adalah kurangnya asupan gizi pada ibu hamil.
Serta, kurang optimalnya pemberian makanan bergizi selama 1.000 hari pertama kehidupan anak.
Selain itu, kondisi sanitasi yang kurang baik juga menjadi penyebab tidak langsung.
Beberapa wilayah di Kota Malang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih dan sanitasi itu.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi serta gangguan pencernaan pada anak.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting.
Salah satunya yakni edukasi melalui Posyandu dan Puskesmas.
Namun, masih ada anak-anak yang mengalami stunting.
Menunjukkan bahwa program yang ada perlu ditingkatkan efektivitasnya.
Edukasi gizi perlu diperluas dan lebih fokus pada ibu-ibu muda.
Tujuannya agar mereka paham pentingnya pola makan sehat sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Dengan pemahaman yang baik, ibu dapat memberikan asupan gizi yang cukup bagi anaknya, sehingga risiko stunting bisa dicegah sejak dini.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa setiap program intervensi gizi berjalan secara berkelanjutan.
Bukan hanya sekadar program jangka pendek.
Saya percaya bahwa peran masyarakat juga penting dalam menekan angka stunting.
Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, namun harus ada kesadaran dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Orang tua harus lebih proaktif dalam mencari informasi tentang gizi anak.
Masyarakat juga harus peduli terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.
Terutama dalam hal kebersihan dan akses makanan bergizi.
Jika semua memiliki komitmen bersama, saya yakin stunting bisa benar-benar hilang dari Kota Malang.
Pada dasarnya stunting adalah masalah yang bisa dicegah.
Dengan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Mencegah stunting berarti menyelamatkan generasi masa depan.
Memastikan setiap anak mendapatkan gizi yang cukup serta lingkungan yang sehat adalah langkah yang tidak bisa ditawar. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana