MASIH banyak yang ber pikir bahwa antibiotik bisa menyembuhkan beberapa penyakit.
Masih banyak pula yang mengira bahwa jika sudah sembuh, antibiotik tidak perlu dihabiskan.
Pemahaman-pemahaman itu dipastikan tidak tepat dan bisa menimbulkan dampak serius.
Sebagian besar disebabkan oleh tantangan ilmiah yang kompleks.
Saat ini, menemukan senyawa antibiotik menjadi sangat sulit.
Sebab, sebagian besar penemuan telah terjadi pada 1960-an hing ga 1980-an.
Ironisnya, saat inovasi antibiotik berhenti, kasus resistensi bakteri justru meningkat.
Pada 2019, resistensi bakteri terhadap obat menyebabkan 1,27 juta kematian.
Dampak ekonominya diperkirakan akan melebihi $ 1 triliun pada 2030.
Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri mengalami mutasi genetik yang membuatnya kebal terhadap obat.
Semakin sering antibiotik digunakan dengan tidak tepat, semakin besar kemungkinan bakteri menjadi resisten.
Akibat nya, infeksi yang dulunya mudah diobati, kini menjadi lebih sulit disembuhkan.
Jika resistensi terus ber lanjut, kita bisa kembali ke era sebelum antibiotik di temukan.
Di mana infeksi ringan bisa berakibat fatal.
Rumah sakit akan kesulitan menangani pasien, operasi menjadi lebih berisiko, dan penyakit yang dulunya bisa diatasi kini menjadi ancaman serius.
Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk membunuh bakteri, bukan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus.
Sayangnya, kesalahan dalam penggunaannya bisa mempercepat resistensi bakteri.
Sedikitnya ada enam kesalahan yang harus dihindari.
Pertama, memberikan resep antibiotik yang berlebihan.
Berikutnya yakni pemakaian antibiotik untuk penyakit yang disebabkan karena virus.
Selanjutnya yakni meng gunakan antibiotik tanpa resep.
Poin keempat yakni menghentikan konsumsi antibiotik secara sembarangan.
Kelima, kurangnya edukasi tentang bahaya resistensi antibiotik.
Terakhir, menyimpan sisa antibiotik dan memberikannya kepada orang lain.
Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah anggapan bahwa setiap demam mem butuhkan antibiotik.
Padahal, tidak semua infeksi disebabkan oleh bakteri.
Beberapa kondisi, seperti infeksi telinga dan infeksi saluran kemih umumnya disebabkan oleh bakteri.
Sehingga bisa diobati dengan antibiotik.
Namun, penyakit seperti batuk, pilek, dan diare lebih sering disebabkan karena virus.
Sehingga tidak memer lukan antibiotik sama sekali.
Selain menghindari kesalahan penggunaan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memperlambat resistensi bakteri.
Seperti meng gunakan antibiotik hanya dengan resep dokter.
Berikutnya mengikuti atu ran pemakaian sesuai dengan dosis dan durasi yang dianjurkan.
Yang terakhir yakni mencegah infeksi lebih baik daripada meng obatinya.
Dengan cara menjaga kebersihan dan daya tahan tubuh.
Dengan dasar-dasar itu, antibiotik bisa menjadi teman dan juga musuh.
Jika digunakan dengan bijak sesuai dengan diagnosis, antibiotik bisa menjadi penyelamat.
Namun jika disalahgunakan, justru bisa mempercepat krisis kesehatan global.
Oleh karena itu, kesadaran mengguna kan antibiotik secara tepat sangatlah penting agar obat tetap bisa menjadi solusi, bukan sebaliknya. (*)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana