Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bangsa Oplosan

Aditya Novrian • Minggu, 16 Maret 2025 | 18:40 WIB
Opini oleh Bayu Mulya Putra
Opini oleh Bayu Mulya Putra

Kata oplosan sudah telanjur memiliki konotasi negatif.

Banyaknya bad news yang menggunakan diksi itu turut andil di dalamnya.

Minuman keras (miras) oplosan dan yang lagi trending, yakni BBM oplosan, menambah kesan negatif dari istilah tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oplosan adalah hasil dari mengoplos.

Bisa berupa campuran maupun larutan.

Dalam dunia sastra, diksi oplosan bisa memiliki banyak makna.

Tak melulu hal yang negatif.

Bisa juga dijadikan majas hiperbola untuk menggambarkan kecintaan terhadap sesuatu.

Namun, kata itu memang lebih tepat menggambarkan sesuatu yang negatif.

Dugaan kecurangan PT Pertamina (Persero) yang kini didalami Kejaksaan Agung (Kejagung) RI menjadi contoh barunya.

Kabarnya, BBM jenis Pertalite dicampur atau dioplos dengan Pertamax, lalu dijual seharga Pertamax.

Ada pula dugaan mengoplos BBM jenis Premium dengan Pertamax.

Semua praktik itu diduga dilakukan dalam rentang waktu 2018–2023.

Tambahan informasi dari Kejagung RI itu membuat rakyat gempar.

Banyak yang menggerutu.

Banyak yang menyampaikan sumpah serapahnya kepada para terduga pelaku.

Sebab, Pertamina tidak lagi menjual BBM jenis Premium sejak 1 Januari 2023.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu tengah menghadapi trust issue.

Meski sulit mengembalikan kepercayaan publik, BBM yang mereka jual bakal tetap laku.

Sebab, itu sudah menjadi kebutuhan dasar warga.

Di negeri ini, sudah cukup lazim bila sesuatu yang negatif bisa terus-menerus dilakukan selama ada celah.

Lama-lama orang yang tahu dan mendengarnya bakal terbiasa.

Contoh lainnya yakni kasus miras oplosan.

Hampir tiap tahun ada korbannya.

Jumlah pastinya di Indonesia sulit diketahui.

Namun, yang pasti selalu ada tiap tahun.

Pusat Studi Kebijakan Indonesia (PSKI) sempat melakukan survei antara tahun 2013 dan 2016.

Mereka menyimpulkan bahwa warga yang meninggal karena keracunan miras meningkat 226 persen.

Pada 2018, ada sekitar 500-an orang yang dilaporkan meninggal setelah minum miras yang mengandung metanol dalam jumlah besar.

Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM) juga sempat mengeluarkan data.

Tiap tahun, mereka mengestimasi ada 18 ribu orang yang meninggal akibat miras oplosan.

Bila angka itu benar atau mendekati benar, maka patut diwaspadai.

Sebab, angkanya tak terlampau jauh dari jumlah korban kecelakaan lalu lintas.

Pada 2022 lalu, Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sempat menyebut bahwa angka fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia rata-rata mencapai 30 ribu jiwa per tahun.

Dari total itu, 74 persen fatalitas kecelakaan melibatkan sepeda motor.

Itu menjadi dua contoh kasus yang identik dengan istilah oplosan berkonotasi negatif.

Selanjutnya, ada istilah oplosan untuk sesuatu yang positif.

Indonesia sudah banyak dikenal sebagai negara dengan banyaknya suku bangsa di dalamnya.

Menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010 lalu, terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air.

Bisa tetap berada dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sudah sepatutnya kita mengapresiasi para pemimpin di negeri ini.

Hasil oplosan banyaknya suku bangsa itu menjadi ciri khas tersendiri bagi Indonesia.

Contoh selanjutnya yakni Timnas Indonesia, yang akan kembali berlaga dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.

Pertandingannya tinggal empat hari lagi.

Komposisi skuadnya kini banyak dihuni pemain naturalisasi.

Total sudah ada 16 pemain yang masuk dalam komposisi 27 penggawa yang dipanggil pelatih Patrick Kluivert.

Itu belum termasuk tambahan tiga penggawa yang baru dinaturalisasi pada 10 Maret lalu, yakni Dean James, Joey Pelupessy, dan Emil Audero.

Mereka bisa dinaturalisasi karena ada percampuran darah dari keturunan-keturunan terdahulu.

Istilah umumnya blasteran.

Istilah yang jarang digunakan tentu perkawinan oplosan dengan warga negara lain.

Ada juga yang statusnya blijvers, seperti nenek dari Maarten Paes.

Istilah blijvers merujuk pada orang-orang Belanda atau Eropa yang menetap di Indonesia sebelum kemerdekaan.

Istilah itu berasal dari bahasa Belanda, yang bermakna orang yang tinggal atau yang menetap.

Banyak pemain naturalisasi tentu sah-sah saja.

Timnas Prancis sudah lebih dulu melakukannya.

Hal yang sama juga dilakukan Timnas Maroko, yang berhasil mencapai babak semifinal Piala Dunia 2022 Qatar.

Dari contoh itu, bisa disimpulkan bahwa istilah oplosan sebenarnya tidak selalu merujuk pada sesuatu yang negatif.

Semua tergantung penggunaannya.

Namun, khusus untuk kasus BBM oplosan, selain negatif, itu juga bermakna tercela.

Bakal sulit dimaafkan rakyat. (*)

Editor : Aditya Novrian
#gas oplosan #minyak oplosan #bbm oplosan #oplosan #opini