Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Teman yang Menginspirasi

A. Nugroho • Rabu, 21 Mei 2025 | 03:15 WIB

Teman yang Menginspirasi oleh Wahyu Hidayat
Teman yang Menginspirasi oleh Wahyu Hidayat
 

Tahun ini bukan tahun yang ringan untuk dihadapi. Bukan saja oleh dunia usaha, tapi bahkan juga oleh pemerintah daerah dan masyarakat secara umum. Keterbatasan anggaran adalah salah satu faktornya. Karena itu, siapa pun harus pandai-pandai mengelola keuangannya agar tetap mampu bertahan. Syukur-syukur bisa mengembangkannya di tengah situasi yang serba-menantang ini.

Bagi pemerintah daerah, tantangan itu muncul sejak awal tahun ketika secara nasional harus dilakukan efisiensi anggaran. Pemerintah Pusat telah memberikan petunjuk dan panduan tentang bagaimana anggaran musti dikelola. Harus ada prioritas untuk program-program dasar. Khususnya, di bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur yang mendesak. Lainnya bisa dilakukan penyesuaian.

Tentu saja sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah daerah untuk mematuhinya. Sebab, kebijakan nasional memang harus selaras dengan kebijakan di daerah. Tapi, justru di tengah keterbatasan itu pemerintah daerah musti bisa lebih kreatif untuk mencari sumber pendanaan lain. Agar program-program penting yang lain tetap bisa dilaksanakan.

Maklum, efisiensi yang dilakukan secara nasional cukup besar. Ini bukan hanya berdampak bagi aparatur pemerintah di daerah yang dituntut untuk lebih efektif dan efisien dalam mengelola anggaran serta lebih kreatif dalam mencari sumber pendanaan, tapi juga ke sektor swasta. Sebab, belanja pemerintah ikut memengaruhi perputaran ekonomi di wilayahnya yang di situ tentu saja sektor swasta banyak terlibat.

Tantangan lain datang dari dunia global. Ketika perang Rusia vs Ukraina belum usai, sudah terjadi perang dagang Amerika dengan China. Lalu, perang India vs Pakistan. Hal itu tentu memengaruhi rantai pasok barang di dunia dan pada gilirannya memengaruhi perekonomian di banyak negara. Tak terkecuali di Asia Tenggara dan tentu saja Indonesia. Bagaimana dengan Malang Raya? Tentu ikut terdampak juga. Apalagi banyak komoditas ekspor dari wilayah ini.

Berbagai tekanan ekonomi itu, tidak bisa dihindari, akhirnya berdampak pula kepada masyarakat secara luas. Tentu, sudah menjadi tugas pemerintah untuk menjaga agar semua tetap bisa berjalan dengan baik. Agar pengusaha tidak merugi, agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), dan agar kebutuhan dasar masyarakat berupa pangan, kesehatan, dan pendidikan tetap terpenuhi.

Yang terbaru, misalnya, Pemerintah Kota Malang akan menurunkan batas bawah omzet resto atau rumah makan yang terkena pajak. Yaitu, dari Rp 5 juta menjadi Rp 10 juta per bulan. Walau dengan risiko kehilangan pendapatan yang tidak sedikit, itu akan tetap dilakukan untuk menyelamatkan para pelaku UMKM khususnya di bidang makanan.

Namun, upaya-upaya seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah sendirian. Dibutuhkan kerja sama dari semua stakeholder. Mentalitas tahan banting, ulet, tidak mudah menyerah, dan selalu optimistis, wajib dimiliki oleh semua di situasi seperti sekarang. Dan, di sinilah terdapat peran penting pers, khususnya Jawa Pos Radar Malang.

Seperti diketahui, Jawa Pos Radar Malang adalah koran lokal –yang kini telah berkembang menjadi media multiplatform—yang terbukti setia menemani perjalanan otonomi daerah di Malang Raya selama 26 tahun. Koran ini lahir pada 1999 ketika bangsa ini berada pada masa-masa pemulihan pasca-krisis ekonomi dan politik 1998.

Dalam situasi tersebut, Jawa Pos Radar Malang terus menumbuhkan optimisme di tengah masyarakat lewat jurnalisme positifnya. Jurnalisme yang membangun. Seperti doktrin yang saya dengar dari teman-teman, Jawa Pos (dan tentu saja Radar Malang) “haram” menampilkan berita tentang kekalahan manusia. Yang diangkat haruslah berita tentang kemenangan manusia. Keberhasilan manusia.

Mengapa? Ini rasionalisasinya. Berita kekalahan manusia hanya akan menimbulkan pesimisme dan itu tidak baik karena sehari-hari masyarakat kita sudah harus bergelut dengan kesulitan. Sebaliknya, berita tentang kemenangan manusia akan memunculkan optimisme. Masyarakat kita butuh banyak inspirasi untuk bisa lepas dari segala kesulitan kehidupannya.

Saya rasa, doktrin itu sangat tepat. Memang begitulah tugas pers. Menjadi suluh di tengah kegelapan. Selalu menumbuhkan harapan di tengah kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat sekitarnya.

Peran demikian terus dimainkan pula oleh Jawa Pos Radar Malang saat terjadi krisis ekonomi 2008. Yaitu, ketika terjadi resesi dunia dan berdampak pada ekonomi nasional. Begitu pula ketika terjadi krisis pandemi covid-19 belum lama ini.

Maka, ketika hari-hari ini kita kembali mendapatkan tantangan ekonomi yang tak mudah, Jawa Pos Radar Malang adalah teman yang kita harapkan kehadirannya. Dengan berita-beritanya yang selalu menginspirasi dan menumbuhkan optimisme. Di berbagai platformnya, koran maupun digital. Agar kita tetap mampu untuk berdiri tegak menjalani hari demi hari.

Selamat berulang tahun yang ke-26. Jawa Pos Radar Malang, More Than Newspaper!

Dr Ir Wahyu Hidayat MM, Arek Mbareng, Wali Kota Malang 2025-2030

Editor : A. Nugroho
#Jawa Pos #wahyu hidayat #radar malang #Pemerintah #efisiensi