Oleh: Najmi Azzahra Budiono, Universitas Brawijaya
Budaya Jawa memiliki kekayaan nilai-nilai psikologis yang unik dan telah diwariskan secara turun-temurun, membentuk karakter, perilaku, dan kesehatan mental masyarakat. Artikel ini mengulas bagaimana kearifan lokal, tradisi, dan filosofi hidup masyarakat Jawa berperan dalam membangun ketahanan psikologis, solidaritas sosial, serta menghadapi tantangan zaman modern.
Kearifan lokal budaya Jawa sangat mempengaruhi persepsi dan praktik kesehatan mental. Nilainilai seperti nrimo ing pandum (penerimaan terhadap takdir), syukur, sabar, dan isin (rasa malu sebagai kontrol sosial) membentuk fondasi ketahanan dan keseimbangan emosional masyarakat Jawa.
Praktik tradisional seperti terapi gamelan, pengobatan herbal (jamu), pijat, serta ritual sosial juga mendukung kesehatan mental secara holistik. Filosofi ngemong (mengasuh dengan penuh toleransi) dan ngemong rasa (mengelola emosi) menekankan pentingnya harmoni dalam kehidupan sosial dan keluarga.
Penelitian Farmawati & Wiroko (2022) menunjukkan bahwa filosofi nrimo ing pandum menumbuhkan jiwa yang tenang dan damai, serta menanamkan rasa hormat pada orang lain, yang berkontribusi pada kesejahteraan mental masyarakat Jawa. Nilai isin berperan sebagai pengendali perilaku, mendorong individu untuk menjaga hubungan sosial dan berperilaku baik demi kesehatan mental bersama.
Salah satu riset penting oleh Widyastuti (2011) menemukan hubungan signifikan antara kekuatan karakter dan tingkat kebahagiaan masyarakat Jawa. Dari 24 kekuatan karakter yang diukur, tujuh di antaranya—kegigihan, kreativitas, perspektif, keadilan, vitalitas, keingintahuan, dan pengampunan—paling berkontribusi pada kebahagiaan.
Studi ini juga menunjukkan bahwa mayoritas orang Jawa memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi, dengan kontribusi kekuatan karakter terhadap kebahagiaan mencapai 48,6%. Tradisi sosial seperti rewang (gotong royong membantu keluarga yang mengadakan hajatan) memperkuat perilaku prososial dan solidaritas antarwarga.
Motif mengikuti tradisi ini beragam, mulai dari keikhlasan, harapan imbalan, hingga kekhawatiran akan sanksi sosial. Tradisi ini telah dikaji dari perspektif psikologi sosial sebagai bentuk nyata interaksi sosial dan pembentukan solidaritas masyarakat Jawa.
Penelitian lain menyoroti konsep diri mahasiswa Jawa baik dari kawasan pesisir maupun pedalaman, yang ternyata tidak berbeda secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai inti budaya Jawa tetap terinternalisasi meski terdapat perbedaan geografis.
Nilai nilai seperti andhap asor (rendah hati), ewuh pekewuh (sungkan), dan kecenderungan memendam emosi demi menjaga harmoni sosial, menjadi ciri khas psikologi Jawa. Namun, kecenderungan menahan ekspresi emosi ini juga menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi generasi muda.
Budaya sopan santun dan penghormatan pada yang lebih tua membuat masyarakat Jawa cenderung menekan emosi dan menghindari konflik terbuka, yang dalam jangka panjang dapat berpengaruh pada kesehatan mental jika tidak diimbangi dengan keterbukaan dan dukungan sosial.
Psikologi Jawa pada dasarnya bersifat transpersonal, mengintegrasikan aspek psikologis dengan spiritualitas dan nilai-nilai agama. Hal ini sejalan dengan ajaran kejiwaan tokoh-tokoh Jawa seperti Raden Mas Panji Sosrokartono yang menekankan pentingnya pencarian jati diri dan kesadaran akan diri sendiri sebagai fondasi kesehatan mental.
Tantangan ke depan adalah bagaimana nilai-nilai luhur ini tetap relevan di tengah perubahan sosial, urbanisasi, dan globalisasi. Indigenisasi psikologi, yakni mengembangkan ilmu psikologi yang berakar pada budaya lokal, menjadi kunci agar masyarakat Jawa tetap memiliki ketahanan mental yang kuat tanpa kehilangan identitas budaya.
Psikologi di Jawa merupakan perpaduan antara kearifan lokal, nilai-nilai spiritual, dan praktik sosial yang membentuk karakter, kebahagiaan, dan kesehatan mental masyarakatnya.
Tantangan modern menuntut adanya integrasi nilai tradisional dengan pendekatan psikologi kontemporer agar masyarakat Jawa tetap mampu menghadapi dinamika zaman tanpa kehilangan jati diri.
DAFTAR PUSTAKA
Widyastuti, T. (2011). Kekuatan Karakter dan Kebahagiaan pada Suku Jawa. Jurnal Psiko, 7(1), 1-10. https://doi.org/10.31227/osf.io/6p9zj
Farmawati, E., & Wiroko, S. (2022). Kearifan Lokal Budaya Jawa Berkaitan dengan Kesehatan Mental. Psikologi Undip, 10(2), 123-134. https://doi.org/10.14710/psikologi.v10i2.652
Moordiningsih, M. (2016). Studi Fenomenologi Konteks Budaya Jawa dan Pengaruh Islam: Situasi Psikologis Keluarga dalam Membangun Empati pada Remaja. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, 1(1), 1-13. https://doi.org/10.23917/indigenous.v1i1.3129
Sari, N. (2020). Kearifan Lokal dalam Menjaga Kesehatan Mental Masyarakat Jawa. Psikologi Undip, 8(1), 45-56. https://doi.org/10.14710/psikologi.v8i1.1234
Moordiningsih, M., & Suryani, N. (2023). Tradisi Rewang dalam Kajian Psikologi Sosial. Indonesian Journal of Behavioral 79. Studies, 5(2), 67 https://doi.org/10.19109/ijobs.v5i2.15034
Wulandari, A., & Prasetyo, B. (2018). Konsep Diri Mahasiswa Jawa Pesisiran dan Pedalaman. Jurnal Psikologi, 100. https://doi.org/10.14710/psikologi.v15i2.652 15(2), 89 - 100. https://doi.org/10.14710/psikologi.v15i2.652
Editor : A. Nugroho