AKANKAH robot mengambil alih dunia? Pertanyaan itu terasa aneh saat dilontarkan medio 90-an. Paling-paling yang mendengarnya bakal mencibir si penanya terlalu banyak menonton film fiksi ilmiah (sci-fi).
Genre film sci-fi memang cukup populer kala itu. Salah satunya Terminator 2: The Judgment Day (1991).
Usai dianggap ‘kurang’ gara-gara Arnold Schwarzenegger diplot jadi T-800, robot jahat di film pertamanya (The Terminator), dalam sekuel ini perannya berubah.
Aktor kekar yang tujuh kali memegang gelar Mr Olympia ini jadi sosok protagonis. Datang dari masa depan, dia ditugaskan melindungi John Connor, calon pemimpin yang masih remaja. Robot kaku, sangar, tapi seolah punya kehangatan seorang ayah.
Misinya berhasil. John Connor selamat dari buruan T-1000, robot lain yang jauh lebih canggih. Namun kedatangan robot-robot dari masa depan ini justru memicu lahirnya Skynet, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang bakal memimpin Hari Penghakiman.
Waralaba ini berlanjut dan menjadi blockbuster dunia. Menelurkan sejumlah film lain. Termasuk terakhir, The Terminator: Dark Fate yang rilis 2019. Kali ini dengan Legion sebagai AI pengganti Skynet.
Peran Legion nyaris sama dengan The Entity dalam dua film terakhir Mission: Impossible. AI yang jadi otak terjadinya bencana.
Internet Makin Masif
Waktu berlalu. Abad berganti. Sekarang bisa jadi pandangan orang berubah. Apa yang 20–30 tahun lalu dikira fantasi belaka, kini jadi realita. Robot canggih dengan kecerdasan buatan tak lagi di awang-awang.
Banyak yang percaya hal itu begitu dekat. Sebagian menganggapnya sudah terjadi. Coba lihat Battlebots World Championship atau perkembangan robotik dan AI di Tiongkok yang begitu mutakhir.
Secara masal, masifnya internet jelas menjadi tanda nyata berkembangnya AI. Di tengah berbagai manfaatnya, internet telah merombak budaya dan perilaku manusia. Bila tak disikapi dengan bijak, teknologi dengan algoritma kecerdasan buatan ini justru bisa menjerumuskan.
Apalagi makin sulit mengontrol efek negatif internet pada lingkup komunal. Hal ini lantaran jaringan global ini termanifestasi ke dalam telepon seluler (ponsel). Alat sebesar genggaman yang dimiliki nyaris semua individu secara privat.
Tiap orang bisa memilih apa yang mereka dengar dan saksikan. Pun merespons dan bereaksi langsung melalui berbagai platform. Tanpa jeda.
Tanpa kontrol. Tanpa pembatas apa-apa. Secara umum, algoritma di tiap ponsel akan menyesuaikan kebiasaan penggunanya.
Hal inilah yang kadang menimbulkan polarisasi, bahkan ketimpangan. Mulai cara berpikir, pengetahuan, juga adab dan moral. Mereka yang sering menonton drama korea (drakor) pasti tahu.
Tanpa dicari, mesin pencari akan merekomendasikan asupan terkait apapun yang berbau Korea. Beda dengan penghobi sepak bola, basket, atau MMA. Ponselnya tentu tak akan menjamah drakor, melainkan tayangan olahraga yang sesuai.
Begitu pula bagi para penggemar game dan film. Konten yang disajikan adalah konten yang bakal menaikkan hormon endorfin masing-masing.
Manusia diarahkan. Dihegemoni. Tanpa sadar bahwa mereka sebenarnya sedang dimanipulasi, bila tidak mau disebut diperbudak, oleh AI dengan ‘robot’ bernama ponsel.
Jika tulisan ini sampai di hadapan Anda, tolong tanyakan seberapa sering Anda mengetik di mesin pencarian? Benar-benar mencari yang dibutuhkan daripada sekadar menggulirkan layar lalu mengklik yang disajikan? Jika jawabannya jarang atau hampir tidak pernah, maka fix, Anda telah diperalat oleh apa yang selama ini Anda sebut alat.
Siapa yang diuntungkan? Entahlah. Anda mungkin sudah tahu jawabannya. Atau memang tidak peduli.
Protokol yang Ketat
Kekhawatiran akan efek negatif AI sudah muncul di mana-mana. Geoffrey Hinton, Bapak Kecerdasan Buatan sampai memutuskan mundur dari Google pertengahan 2023 lalu. Dia ingin lebih bebas berbicara tentang risiko pengembangan AI.
Menurut Hinton, seperti dikutip BBC.com, dia menyatakan sejumlah hal tentang chatbot AI yang bisa saja melampaui kecerdasan manusia. Kemungkinan yang ’cukup menakutkan’ baginya.
Dengan kekhawatiran yang sama, Elon Musk dan sejumlah pakar sempat menyerukan penghentian pengembangan penerus GPT-4 untuk sementara. Maksudnya untuk memberi tenggat penyusunan protokol keamanan yang lebih ketat.
Lagi-lagi film bisa jadi analogi paling mudah. Kenal Jarvis? Ya, AI yang selalu membantu kerja Tony Stark alias Iron Man. Dia didesain untuk melakukan apa saja yang Tony inginkan.
Menata sistem keamanan Avengers Tower, membuat berbagai zirah super canggih, mengendalikan pesawat, dan lain sebagainya. Tapi Tony tidak puas. Dia bersama Bruce Banner merancang Ultron.
Sebuah AI baru sebagai protokol pertahanan yang lebih kuat. Idenya, jika ada bahaya, bahkan bila alien tiba-tiba menyerang, Ultron dengan tentara besinya akan aktif dan melindungi bumi.
Namun Ultron mengalami kecacatan sistem. Dia membelot. Jarvis dilenyapkan. Tony dan segala teknologinya lumpuh.
Melihat berbagai peristiwa di internet, Ultron memang tetap setia pada misinya menjaga perdamaian dunia. Hanya saja, caranya salah. Dia menganggap manusia harus dimusnahkan karena menjadi biang kehancuran.
Butuh sekampung Avengers yang terdiri dari dewa petir, makhluk rekayasa, penyihir, pelari, mata-mata cerdas, pemanah ulung, monster hijau, tentara super, perwira AU, hingga pria kaya berotak brilian untuk menghentikannya.Sokovia hancur. Banyak korban. Avengers terbelah setelahnya.
Apa iya kita punya Avengers di dunia nyata ini dan mampu melewati Civil War untuk menyadari dampak AI yang melampaui batas?
Atau kita memang lebih suka terlena dengan isu-isu yang dikemas bombastis, seperti skandal perselingkuhan pejabat atau ijazah palsu yang dibahas berjilid-jilid?
Daripada misalnya menanggapi positif meme mahasiswi seni rupa dan desain ITB. Bisa jadi meme itu merupakan sarkasme atau alarm peringatan atas pengembangan dan penggunaan AI yang kebablasan, kan? Alih-alih menangkap sang mahasiswi dan mempersekusinya. (*)
Editor : A. Nugroho