Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pagu di SD Negeri dan Kontroversi Childfree

A. Nugroho • Minggu, 22 Juni 2025 | 17:36 WIB
Perspektif.
Perspektif.

Tidak terpenuhinya pagu di SD negeri sudah menjadi fenomena tahunan. Di Kota Malang, kabar terbaru menyatakan bahwa pagu di 96 SD belum terpenuhi. Semua jalur dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) via online sudah berlangsung. 

Satu-satunya jalan keluar untuk memenuhi kekurangan yakni lewat SPMB offline. Seperti tahun-tahun sebelumnya, jalur itu juga tidak banyak membantu. Bisa dipastikan selalu ada sekolah yang pagunya tidak terpenuhi. 

Bila itu terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan, biasanya bakal muncul opsi merger sekolah. Di Kota Malang memang belum ada wacana yang mengarah ke sana. Namun di Kabupaten Malang dan Kota Batu sudah berembus pada tahun ini. 

Di Kabupaten Malang, Pemkab sedang mengkaji opsi merger di 40 SD negeri. Di Kota Batu, ada 9 SD negeri yang masuk rencana.

Pilihan itu seakan menjadi win-win solution untuk menangani fenomena tidak terpenuhinya pagu di sekolah-sekolah negeri. Selain alasan efisiensi, langkah tersebut juga dianggap tepat karena banyak sekolah yang lokasinya berdekatan. 

Menurut pandangan banyak pihak, ada beberapa hal yang menjadi penyebab sulitnya SD negeri memenuhi pagu. Sedikitnya ada dua alasan utama.

Yang pertama yakni makin banyaknya pilihan sekolah swasta dan sekolah berbasis agama. Tak sedikit orang tua yang memilihnya untuk lanjutan studi putra-putrinya.

Alasan berikutnya yakni menurunnya angka kelahiran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) di Malang Raya menunjukkan tren itu dalam satu dekade terakhir. Contohnya di Kabupaten Malang.

Pada 2014 lalu ada 43.353 anak yang lahir. Sedangkan pada 2023, angka kelahirannya turun jadi 35.912 anak.

Pun begitu dengan Kota Malang. Pada 2014 ada 13.269 anak yang lahir. Sementara pada 2023 ada 11.322 anak. Sedangkan di Kota Batu, pada 2014 ada 3.226 anak yang lahir. Pada 2023, jumlahnya menyusut jadi 2.739 anak. Ada beberapa faktor yang memengaruhi angka-angka itu. 

Seperti penggunaan alat kontrasepsi hingga terjadinya pandemi Covid-19 pada awal 2020 sampai 2022. Penyebab berikutnya, bisa jadi karena berkembangnya fenomena childfree, atau pasangan suami istri yang memilih tidak mempunyai anak.

Sejumlah literasi menyebut bahwa fenomena itu mulai berkembang di Indonesia antara 2018 sampai 2020.

Laporan BPS RI pada 2023 mencatat, sebanyak 8 persen atau 71 ribu perempuan di Indonesia yang berusia 15 sampai 49 tahun tidak ingin memiliki anak. BPS menganalisis fenomena childfree itu menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS).

Data SUSENAS mencatat, prevalensi childfree pada 2019 sebesar 7 persen. Angka tersebut sempat menurun pada 2020 menjadi 6,3 persen. Kemudian meningkat pada tahun 2021 menjadi 6,5 persen, dan melonjak jadi 8,2 persen pada 2022. 

Negara lain seperti Jepang sudah mengalami fenomena itu dalam dua dekade terakhir. Tak sedikit perempuan di Jepang yang memilih untuk tidak memiliki anak karena beberapa alasan.

Seperti tekanan ekonomi dan kesulitan dalam menyeimbangkan karier dengan keluarga. Data di beberapa media menunjukkan sekitar 27 persen perempuan berusia 50 tahun di Jepang tidak memiliki anak. 

Istilah childfree sendiri pertama muncul pada awal 1900-an. Istilah itu menjadi lebih umum digunakan mulai tahun 1970-an. Utamanya dalam gerakan feminis.

Ellen Peck, editor dari New York Times menjadi salah satu sosok yang mempromosikan ide tersebut. Pada 1972, dia mendirikan National Organization for Non-Parents. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran terhadap pilihan hidup tanpa anak.

Sejarah menunjukkan bahwa asal muasal istilah itu sudah muncul sejak beberapa periode sebelumnya. Seperti disampaikan Rachel Chrastil, profesor sejarah di Xavier University, Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat.

”Kenyataannya, tidak memiliki anak, baik karena sifat, keadaan atau pilihan, telah ada pada wanita di Amerika Serikat dan di seluruh Eropa barat laut, Kanada, dan Australia selama berabad-abad,” tulis dia dalam buku berjudul ”How to Be Childless: A History and Philosophy of Life Without Children” 

Dalam buku itu juga dijelaskan bahwa pada awal tahun 1500-an, banyak wanita di kota dan desa-desa di barat laut Eropa mulai menunda pernikahan hingga pertengahan usia 20-an.

Donald T. Rowland dalam jurnal yang berjudul ”Historical Trends in Childlessness” terbitan 2007 menyebut, pilihan tidak memiliki anak tidak menjadi kontroversi pada tahun 1800 sampai 1900-an. Sebab, masyarakat saat itu tinggal di dalam lingkungan keluarga besar yang selalu ramai.  

Kontroversi baru tercipta dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah pihak menyebut bahwa childfree tidak selaras dengan budaya ketimuran.

Dari sisi medis, kabarnya perempuan yang sudah pernah hamil dan menyusui memiliki risiko lebih rendah terkena beberapa kanker ketimbang perempuan yang tidak pernah hamil. 

Kanker yang dimaksud seperti kanker payudara, endometrium (rahim), dan ovarium (indung telur). Tampaknya, sampai beberapa tahun ke depan fenomena childfree bakal tetap menjadi kontroversi.

Pilihan kembali ke pribadi masing-masing. Yang pasti, sejarah mencatat bahwa Indonesia bukan tempat pertama dari munculnya fenomena itu. Tidak asli Indonesia. (*)

Editor : A. Nugroho
#childfree #SPMB #Perspektif #pagu