Apa bahasa universal yang bisa menyatukan banyak perbedaan selain seni dan budaya? Olahraga adalah jawabannya. Jika tidak percaya, datanglah ke lapangan-lapangan basket, voli, bulutangkis, tenis, apalagi sepakbola. Gemuruh suporter seolah menenggelamkan perbedaan yang sebelumnya melekat pada mereka sebelum masuk lapangan. Setiap diri melebur dalam euforia yang sama: mendukung tim atau atlet idolanya. Itu berlaku untuk seluruh cabang olahraga.
Karena itu, jika hari ini Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025 secara resmi akan dibuka di Stadion Gajayana, Kota Malang, maka itu adalah momentum untuk merayakan keragaman masyarakat Jawa Timur. Sekaligus meleburnya dalam semangat yang sama, yaitu sportivitas: kesediaan untuk menerima kemenangan maupun kekalahan. Sebab, pertandingan hanyalah di dalam arena. Di luar arena, semua tetap kembali menjadi saudara.
Selamat datang Gubernur Jawa Timur. Selamat datang teman-teman bupati dan wali kota se-Jawa Timur. Selamat datang pula kontingen porprov dari seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur yang sebagian sudah mulai bertanding sejak beberapa minggu lalu.
Berbicara keragaman, sebagai kota urban, Malang tersusun dari berbagai individu dan kelompok masyarakat dengan beragam suku dan etnis. Sejak beratus tahun lalu. Mereka terbiasa hidup berdampingan dalam perbedaan. Meski terkadang saling berkompetisi, mereka punya kesadaran yang sama: bahwa mereka mencari penghidupan di atas tanah yang sama. Karena itu, kedamaian tetap di atas segalanya.
Maka, sekali lagi, selamat datang tanpa perlu ada rasa khawatir di Kota Malang. Kami dan segenap masyarakat Kota Malang siap menyambut dengan segala keramahan dan keterbukaan khas kota ini. Di sela-sela pertandingan yang menguras energi dan emosi, nikmatilah semua yang ada di kota ini. Di bulan yang sedang sejuk-sejuknya ini.
Ini adalah kota modern peninggalan masa kolonial yang jejak arsitekturalnya masih sangat mudah dijumpai di mana-mana. Bahkan lanskapnya masih tetap dipertahankan, meski ada sejumlah penyesuaian dengan zaman. Dari balai kota dan Alun-Alun Tugu hingga kawasan Jl Ijen. Dari kawasan Kayutangan hingga Pasar Besar. Cobalah ke sana untuk menelusuri lorong waktu hingga ratusan tahun ke belakang. Anda sekaligus bisa membayangkan jadi para pembois masa itu.
Coba pula berbelanja ke pasar tradisional nan bersih: Pasar Oro-Oro Dowo dan Pasar Klojen. Anda sekaligus bisa menikmati aneka jajanan tradisional di sana. Mulai dari mendol dan tempe kacang sampai weci. Mulai dari wedang ronde sampai cwie mie.
Bakso? Rawon? Sambil merem pun, Anda bisa mendapatkannya di berbagai sudut kota ini. Dari yang legend sampai yang baru. Lengkap dengan tempe goreng Malang yang kata artis penyanyi Anang Hermansyah “gak pernah salah.” Pun demikian dengan oleh-oleh khasnya: keripik tempe, pia, dan aneka kerajinan yang banyak diproduksi para pelaku UMKM.
Maka, mari kita berkompetisi dalam porprov kali ini dengan penuh kegembiraan. Ini pesta olahraga terbesar di Jawa Timur yang diselenggarakan di Malang Raya. Wilayah yang dikenal kesejukan udaranya dibanding wilayah-wilayah lain di Jawa Timur. Sangat disayangkan jika tidak dirayakan bersama.
Seluruh stakeholders di Kota Malang sendiri harus bisa bersinergi untuk memanfaatkan momentum ini. Total lebih dari 22 ribu orang tercatat sebagai kontingen Porprov IX, menjadi yang terbesar selama ini. Itu belum termasuk suporter yang ikut datang untuk memberi dukungan. Mereka adalah tamu yang perlu kita sambut dan layani. Ini penting karena cerita tentang Malang akan mereka bawa pulang untuk dikenang.
Sementara, bagi kontingen Kota Malang, tetap gas pol untuk meraih prestasi. Sebagai tuan rumah, jangan pernah kasih kendor ke lawan. Meski, usai pertandingan, mereka tetap saja kawan yang perlu diajak untuk jalan-jalan. Sebab, seperti pembuka tulisan ini, olahraga adalah bahasa universal yang bisa menyatukan berbagai perbedaan. Osi, Ker?
Dr Ir Wahyu Hidayat MM
Arek Mbareng,
Wali Kota Malang 2025-2030
Editor : A. Nugroho