AKTOR film laga, produser, sutradara, penulis naskah, dan penyanyi asal Hongkong Jacky Chan pernah membandingkan cara penanaman disiplin pada anak zaman dulu dan sekarang. Saat masih remaja, dia terbiasa memulai latihan bela diri pada pukul 05.00 pagi. Guru atau pelatih meminta seluruh muridnya berlari selama satu jam. Sambil berlari, kedua tangan para murid dibentangkan dengan membawa dua gelas berisi air penuh. Tak boleh tumpah sedikit pun.
Pada saat yang sama, sang guru berada di tengah arena dengan membawa kayu. Memukul para murid agar mereka benar-benar serius berlatih. Kemudian latihan berlanjut dengan melakukan pukulan sebanyak seribu kali dan tendangan 500 kali. Setelah berhenti dalam posisi tangan memukul, sang guru meletakkan gelas penuh air di atas kepalan tangan murid. Tidak boleh bergerak selama satu jam dan tidak boleh tumpah.
”Anak-anak zaman sekarang sangat beruntung,” kata Jacky. Sebab, guru tak bisa lagi memukul murid. Kalau tetap dilakukan, sang murid bisa menuntut guru.
Penggalan kisah peraih Penghargaan Kehormatan Piala Oscar 2016 itu diceritakan dalam interview The One Show, sebuah program dari televisi BBC One yang ditayangkan pada 20 Mei 2025. Saat itu, The One Show menghadirkan tiga pemeran utama film Karate Kid: Legends. Yakni Jacky Chan, Ralph Macchio (juga pernah menjadi pemeran utama The Karate Kid tahun 1984), dan Ben Wang (pemeran Li Fong dalam Karate Kid: Legends).
Semua yang hadir dalam interview itu tertawa mendengar ”kecemburuan” masa remaja Jacky terhadap anak-anak zaman sekarang. Bahkan, dua host acara tersebut, Alex Jones dan Clara Amfo, berusaha menahan tawa sambil tertunduk. Tapi tetap saja terpingkal-pingkal.
”Jacky...... Lihat hasilnya pada Anda sekarang,” timpal Alex Jones. Jacky Chan pun tersipu malu. Kedua bahunya diangkat. Seolah mengatakan bahwa sukses yang dia raih saat ini adalah buah kerja keras dan disiplin yang dibiasakan sejak remaja.
Apa yang diceritakan Jacky Chan memang telah menjadi fenomena global. Tak terkecuali di negara kita. Sekarang begitu mudah menemukan video tentang perilaku murid yang kurang ajar terhadap guru. Menendang meja guru sambil berteriak-teriak. Sementara sang guru hanya berdiri terpaku. Serba salah. Tak tahu apa yang harus dilakukan pada murid itu.
Di Kabupaten Malang, akhir tahun lalu ada dua guru yang dilaporkan ke polisi gara-gara memukul murid. Dalam proses mediasi terungkap bahwa yang dilakukan guru bertujuan mendisiplinkan siswa. Tapi, orang tua murid menganggap pendisiplinan itu berlebihan, sehingga harus dibawa ke ranah pidana.
Mendisiplinkan anak di sekolah sekarang seperti persoalan yang amat pelik. Lembaga pendidikan kedinasan sudah pasti lebih mudah melakukannya. Tapi tetap saja ada celah yang kadang-kadang mengarah kepada perilaku bullying. Bahkan sampai ada korban yang trauma dan meninggal dunia.
Begitu juga di pesantren. Cerita bullying atau bahkan penyiksaan dengan alasan pendisiplinan masih saja terdengar. Meski kadang tidak diakui dan disembunyikan.
Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi sampai harus mengambil kebijakan ”kontroversial” dengan mengirim pelajar bandel ke barak militer. Mungkin itu terpaksa di lakukan karena mayoritas sekolah umum sudah angkat tangan dalam mendisiplinkan pelajar bandel.
Kini muncul sekolah rakyat yang awalnya ditujukan untuk membantu anak-anak dari kelompok masyarakat miskin. Sempat dipertanyakan mengapa harus ada sekolah rakyat karena biaya pendidikan dasar sudah digratiskan. Tapi, proyek yang digagas Kementerian Sosial itu tetap berjalan.
Model asrama yang diterapkan memberikan kemudahan bagi pengelola sekolah untuk mengajarkan disiplin pada para siswa. Pukul 05.00 pagi sudah memulai aktivitas fisik dengan senam pagi. Dilanjutkan dengan sarapan bersama. Setidaknya cara itu bisa memupuk rasa sosial dan kebersamaan yang saat ini seperti terkikis di kalangan remaja gara-gara gadget.
Keberadaan wali asuh sebagai pengganti orang tua di asrama membawa misi agar kehidupan para siswa sekolah rakyat tetap terkontrol. Setidaknya, pembagian waktu belajar, bermain, dan beristirahat bisa lebih tertata. Terdengar sangat ideal bagi konsep pendidikan bagi anak dan remaja saat ini.
Tak salah kalau ada harapan sekolah rakyat bukan sekadar kebijakan menolong anak-anak dari kalangan masyarakat miskin. Toh jaring pengaman sosial untuk kelompok masyarakat seperti itu sudah berlapis-lapis. Apalagi kalau hanya untuk biaya pendidikan dasar.
Sebisa mungkin sekolah rakyat juga menjadi uji coba model pendidikan yang memiliki formula tepat bagi pembangunan karakter bocah-bocah kekinian. Mengembalikan sikap disiplin, tata krama, dan membiasakan kembali tradisi bersosialisasi di kalangan anak yang sudah menipis. Tentu semuanya harus berjalan dengan tetap mengedepankan kualitas pendidikan.
Siapa tahu, suatu saat sekolah rakyat tidak melulu lekat dengan label anak miskin. Tapi lebih terkenal karena melahirkan formula pendidikan yang tidak terpengaruh sisi negatif perkembangan zaman. Sekaligus mampu melahirkan lulusan yang memiliki kualitas moral dan akademik di atas sekolah umum. Semoga.(*)
Editor : A. Nugroho