Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gaya Koboi

Mahmudan • Minggu, 28 September 2025 | 16:20 WIB
Mahmudan, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Mahmudan, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

KETIKA Purbaya Yudhi Sadewa dilantik menjadi Menteri Keuangan (Menkeu) RI beberapa hari lalu, salah satu narasi yang paling menonjol di media massa adalah julukan ”gaya koboi”. Tentu dia bukan satu satunya pejabat koboi di Indonesia. Di pemerintah daerah (pemda) juga ada pejabat bergaya koboi, termasuk di Malang raya.

Secara etimologi, diksi ”koboi” berasal dari bahasa Inggris cow (sapi) dan boy (anak laki-laki). Jika digabung menjadi cowboy alias anak laki-laki penggembala sapi. Lidah orang Indonesia menyesuaikan bunyinya: cow menjadi ko dan boy berubah jadi boi. Serapan tersebut membuat lebih ringkas, gampang diucapkan, dan melekat dalam percakapan sehari-hari. Hal itu menunjukkan bahwa bahasa sangat lentur dan selalu mencari cara agar terasa akrab. Ferdinand de Saussure yang dinobatkan sebagai bapak linguistik modern berpandangan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang terus bergerak mengikuti kebutuhan sosial. Salah satunya adalah diksi ”koboi”.

 

Koboi yang kita pahami belakangan ini mengalami pergeseran makna. Dari semula dimaknai sebagai penggembala sapi di Amerika, kini menjelma menjadi simbol keberanian, arogansi, sedikit nekat, dan terkadang bertindak di luar norma. Dalam konteks linguistik, pergeseran makna disebut sebagai generalisasi semantik. John Saeed menjelaskan bagaimana makna sebuah kata bisa meluas dari arti harfiah (menggembala sapi) menjadi makna yang lebih luas dan figuratif (pribadi yang berani, terkadang nekat, dan sesekali bertindak di luar norma).

 

Beberapa kali media massa menyuguhkan berita tentang aksi koboi jalanan. Tentu bukan berarti ada penggembala sapi berkeliaran di jalan raya. ”Aksi koboi jalanan” merupakan metafora untuk menggambarkan orang yang bertindak semaunya di jalanan. Misalnya ugal-ugalan, menembak seenaknya, dan berbuat semaunya sendiri.

 

George Lakoff dan Mark Johnson menekankan bahwa metafora bukan sekadar hiasan, tapi cara memandang dunia. Metafora koboi jadi bingkai untuk menilai sikap seseorang yang bebas, keras kepala, bahkan berbahaya.

 

Pergeseran makna itu wajar. Dalam kajian semantik dikenal dengan istilah perluasan makna. Kata yang mulanya bermakna sempit, lama-lama meluas menyesuaikan budaya. Pakar semiotika asal Prancis, Roland Barthes menyebut fenomena itu sebagai “mitos”. Koboi awalnya cuma penggembala sapi, tapi belakangan ini naik kelas menjadi simbol individualisme, maskulinitas, dan gaya hidup khas Amerika.

 

Di era modern, istilah koboi juga dipakai sebagai kritik sosial. Saat aparat menembak di luar prosedur, media massa menyuguhkan berita berjudul ”gaya koboi aparat”. Kata tersebut langsung masuk ke benak pembaca karena singkat, jelas, sekaligus emosional. Sangat efektif untuk mempersuasi publik. Filsuf Yunani Aristoteles menyebut ada tiga komponen yang efektif untuk melakukan persuasi terhadap publik, baik pendengar maupun pembaca. Satu dari tiga komponen tersebut adalah pathos alias emosi.

 

Diksi ”koboi” juga punya sisi paradoks. Di satu sisi melambangkan keberanian, petualangan, dan romantisme padang rumput seperti yang terlihat dalam film-film Amerika. Namun di sisi lain menjadi simbol sindiran untuk perilaku liar, egois, dan sewenang-wenang. Dengan kata lain, koboi dapat dimaknai positif sekaligus negatif. Tergantung dari sudut pandang mana dilihat. Juga tergantung siapa yang melihat.

 

Paradoksal bahasa tersebut menunjukkan bahwa makna kata tidak bebas nilai. Tidak netral. Makanya dapat berubah-ubah menyesuaikan konteks. Saat kata ”koboi” dipakai jurnalis untuk menyindir aparat, kata tersebut berfungsi sebagai senjata retorika. Sebaliknya, saat dipakai anak muda untuk menyebut gaya nekat atau berani, kata ”koboi” menjadi simbol identitas.

 

Lalu, apa makna koboi bagi kita hari ini? Jangan-jangan kata tersebut merupakan cermin dari kerinduan kita pada sosok yang berani melawan arus, tapi juga peringatan terhadap sikap semaunya sendiri. Menkeu Purbaya yang sudah telanjur dilabeli sebagai pejabat koboi bisa menjadi harapan tumbuhnya ekonomi lantaran keberanian dia membuat terobosan. Di sisi lain, gaya koboi Purbaya juga bisa menjadi ancaman ekonomi akan semakin terpuruk karena dianggap nekat dan tidak prudent. Tapi ini bukan tentang ekonomi. Ini tentang bahasa. Tentang makna diksi koboi.(*)

Editor : A. Nugroho
#Perspektif #Koboi