Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kalkulasi Risiko

A. Nugroho • Minggu, 16 November 2025 - 22:00 WIB
Adi Nugroho, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Adi Nugroho, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

Peluang Max Verstappen mengejar juara world drivers championship (WDC) F1 memang belum sepenuhnya tertutup. Pembalap asal Belanda itu masih berpeluang menyalip Norris atau Piastri yang menguasai persaingan tangga juara.

Namun realistis saja, sulit membayangkan duo McLaren itu terpeleset dalam tiga lomba terakhir. Meski begitu, menarik ditunggu pertunjukan apa lagi yang bakal disajikan Max dalam balapan selanjutnya di Las Vegas, Qatar, dan Abu Dhabi.

Pertunjukan yang teaser-nya sudah kita saksikan bersama saat GP Sao Paulo, akhir pekan lalu. Max dan timnya benar-benar mengambil risiko kala memilih start dari pit lane.

Pilihan yang diambil karena buruknya kualifikasi Red Bull di sirkuit Autodromo Jose Carlos Pace atau yang lebih dikenal dengan nama sirkuit Interlagos itu.

Dua pembalapnya, termasuk Max harus terhenti di Q1. Berada di barisan grid start belakang, tim akhirnya memilih mengganti setelan hingga mesin saat balapan. Sekalian saja.

Daripada harus bertarung di belakang dengan mesin ‘bekas’ mending ganti yang baru.

Konsekuensinya, sesuai aturan F1, Max harus start dari pit.
Spekulasi, kalau tidak mau disebut perjudian, itu berhasil.

Taktik yang tentu tak sekadar untung-untungan. Walau tetap ada faktor keberuntungan, namun banyak pertimbangan mengapa juara dunia empat kali itu sepakat dengan opsi tersebut.
Dengan mesin yang fresh, dia bisa ‘memakan’ pembalap lain di depannya di awal lomba. Pilihan logis. Meski anehnya tim dan Max justru memilih ban keras (hard) alih-alih medium seperti yang lain. Ban hard diketahui punya performa yang sedikit lambat di sirkuit ini.

Namun asumsi Red Bull, dengan ban yang lebih awet di Interlagos, Max bakal dipaksakan melakukan strategi satu stop dan selama mungkin berada di lintasan. Berharap perubahan cuaca atau kejadian luar biasa di sirkuit sehingga bisa mendapat pit stop gratisan.

Tapi tak disangka, ban Max ternyata bocor alus di awal lomba gara-gara serpihan mobil lain. Pembalap 28 tahun ini harus beradaptasi dengan situasi itu. Tim memintanya melakukan pit stop cepat dan mengganti bannya dengan tipe medium.
Berkah terselubunhg, ban ini ternyata membuat Max makin cepat.

Satu per satu posisi dia daki. Dia sudah masuk jajaran lima besar pada pertengahan lomba.

Seolah mencium bau kemenangan, Max terus ngegas. 8 lap sebelum finish, pembalap Marcedes, George Russell yang berada di posisi ketiga dia salip. Bahkan rekan Russell, Kimi Antonelli yang berada di posisi dua juga hampir saja dia libas. Tapi lap 71 selesai. Bendera finish dikibarkan. Lando Norris juara. Kimi runner up, sementara Max berada di posisi ketiga dengan jarak yang sangat tipis.

Harus diakui, spotlight berada di Norris. Sebagai calon kuat WDC musim ini, pembalap Inggris itu jelas jadi perbincangan. Begitu pula Kimi, pembalap 19 tahun yang baru lulus SMA ini berhasil meraih posisi terbaiknya usai sebelumnya di GP Kanada, Juni lalu menempati podium tiga.

Kendati begitu, sensasionalnya performa Max di balapan ini sangat menyita perhatian.

Bukan hanya dari pengamat, Max dan timnya sendiri merespons podium ketiga ini dengan suka cita dan pesta layaknya gelar-gelar juara sebelumnya.

“Saya ingin berterima kasih pada karena ini (balapan) yang berat, tapi kami semua bersatu, kamu tahu, kami tidak pernah menyerah. Kita mengambil risiko, tapi saya menyukainya. Dan, kami selalu berusaha lebih baik dan belum merasa puas sedetik pun,” ujar Max dalam wawancara usai balapan.

Risiko yang diambil Max dan Red Bull memang bukan pilihan mudah. Namun jika hal itu tak diambil, hasilnya tak akan semenakjubkan ini. Walau strategi ini tentu tak bisa diterapkan untuk semua tim.

Tim-tim besar tentu menganggap agresivitas semacam ini terlalu gegabah. Sangat berisiko.

Ya, kalau bisa mendapat hasil positif. Kalau mobil melintir, kecelakaan, atau terhambat deretan mobil lainnya, jelas akan dihujat sana-sini. Dibilang membagongkan, dibilang konyol, dikatain cupu, dan lain sebagainya.

Meski bagi tim-tim dengan misi mengejar ketertinggalan, prinsip nothing to lose demi mendobrak ketidakmungkinan jelas dibutuhkan.

Tim F1 seperti Alpine yang masih di dasar klasemen atau Haas yang punya pembalap tangguh seperti Esteban Ocon dan Oliver Bearman, punya potensi melakukan itu. Begitu pula Aston Martin yang punya sumber daya luar biasa tapi masih terseok-seok hingga kini.

Daripada setengah-setengah, sekalian saja melakukan strategi ekstrem. Apalagi musim akan segera berakhir. Kapan lagi?

Banyak pihak menyebut, keberanian untuk mengubah rencana taktis seperti ini hanya mengandalkan insting belaka. Tidak pakai dasar objektif.

Namun yang tahu jeroannya F1 pasti mengerti. Sekeras-kerasnya Andrea Stella atau Toto Wolff, tim balap dibangun bukan dari kehendak satu orang. Tim juga bukan disusun dari petuah cenayang. Mereka sangat kompleks dan bakal mengumpulkan banyak matriks data sebelum memutuskan hal penting. Apalagi itu berpengaruh dengan posisi mereka di klasemen konstruktor. Posisi yang implikasinya bisa bernilai puluhan bahkan ratusan juta dolar. Baik hadiah kejuaraan maupun sponsorship di musim berikutnya.

Bukan hanya selisih, 0,1 milimeter pada ketinggian moncong mobil atau lengkungan sayap belakang misalnya, tetapi juga arah angin, pengaruh 1 atau 2 derajat suhu lintasan, jarak antar pembalap, dan berbagai hal detail lain, diputuskan dengan data. Sistem dibuat cepat, tepat. Namanya juga lomba balap.

Biasanya, yang membedakan tim hebat dan tim biasa saja adalah bagaimana efektivitas sumber daya dan data seperti itu diolah, lantas dijadikan dasar pengambilan keputusan untuk jadi pemenang.

Manajemen risikonya jelas. Begitu pula tepat tidaknya diagnosa masalah. Supaya pilihan solusinya clear. Bagaimana suatu mobil, tidak hanya kencang dan bertenaga, tapi juga gampang dikendalikan oleh pembalapnya dan sesuai dengan karakter sirkuit. Penentuannya tidak awur-awuran atau sembrono. Gak sak karepe dewe, kata orang bilang.

Pertimbangan seperti ini pun kerap dipakai dalam mengambil keputusan-keputusan penting dan beranggaran besar di negeri ini. Ya, bangun infrastruktur, bentuk dan danai koperasi, makan bergizi gratis (MBG), nyampur etanol ke BBM, dan sebagainya.

Dalam negara republik yang demokratis, semua sudah melalui studi kelayakan yang terukur dan dimusyawarahkan. Tidak mungkin hanya karena keinginan satu orang, lalu dok, dilakukan. Bukan begitu? (penulis adalah jurnalis Jawa Pos Radar Malang dan bisa disapa via email adinugroho.ohorgunida@gmail.com)

Editor : A. Nugroho
#Risiko #f1 #max verstappen #Strategi