Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ironi Prestasi, Anomali Anggaran

A. Nugroho • Minggu, 21 Desember 2025 | 20:23 WIB

Galih R Prasetyo, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Galih R Prasetyo, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

PRESTASI cabang olahraga sepak bola kembali ke setelan pabrik. Begitu kata teman saya saat mengomentari capaian Timnas Sepak Bola Indonesia di SEA Games 2025, Thailand. Menelaah omongan itu memang banyak benarnya.

Pada SEA Games 2023 lalu, Garuda Muda berhasil meraih emas. Prestasi itu sekaligus mengakhiri puasa juara di ajang multi cabor bergengsi di Asia Tenggara itu selama 32 tahun. Sebelumnya, Tim Sepak Bola Indonesia meraih emas di SEA Games Manila pada tahun 1991.

Sekarang, untuk lolos dari fase grup saja sangat susah. Kalah dari Timnas Sepak Bola Filipina pada babak awal. Akibatnya, perlu menang dengan banyak gol saat melawan Timnas Myanmar untuk lolos ke semifinal. Tapi, hal itu tidak bisa diwujudkan.

Skuad Garuda Muda saat ini sejatinya tidak terlalu buruk dibandingkan dua tahun lalu. Ivar Jenner, Mauro Zijlstra, Rafael Struick, Dony Tri Pamungkas, Dion Markx, Kadek Arel beberapa pemain bagus yang ada di tim. Staf pelatih berisi para legend yang berpengalaman menangani tim merah putih di SEA Games.

Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Indra Sjafri. Sosok yang di balik keberhasilan Garua Muda meraih emas dua tahun lalu. Jika melihat bio Instagram Indra Sjafri, eks juru taktik Bali United itu punya empat prestasi di turnamen Asia Tenggara.

Terakhir kali Tim Sepak Bola Indonesia gagal mencapai babak semifinal atau hanya sampai fase grup terjadi pada SEA Games 2009. Setelah itu, meraih perak, perak, menempati urutan keempat, meraih perunggu, perak, perunggu, dan emas di SEA Games 2023 lalu.

Kondisi tersebut menjadi sebuah ironi dan anomali. Ironi karena dana Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Tim Sepak Bola Putra dan Putri sebelum SEA Games 2025 menjadi tertinggi dibandingkan cabor lain. Berdasar informasi dari berbagai sumber, mencapai Rp 199,7 Miliar.
Sebelum SEA Games 2025 bergulir, sepak bola masuk cabor strategis. Hal itu, membuat PSSI mendapatkan bantuan pendanaan Pelatnas tahap pertama. Sejajar dengan 12 cabor yang sukses mengirim atlet ke Olimpiade Paris 2024. Di antaranya, panjat tebing, angkat besi, bulu tangkis, judo, dayung (rowing), menembak, gimnastik, panahan, selancar ombak, atletik, akuatik, dan balap sepeda.

Salah satu aspek yang jadi pertimbangan besaran dana bantuan untuk Pelatnas adalah prestasi. Pada April lalu, Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo mengatakan, sepak bola merupakan cabor berpotensi tinggi meraih prestasi. Menpora juga berpatokan dengan Inpres No.3 Tahun 2019 tentang percepatan sepak bola nasional.

Saat SEA Games dari 13 cabor tersebut, hanya sepak bola yang pulang dengan tangan kosong. Sedangkan cabor badminton, wushu, panjat tebing berhasil jadi juara umum. Lifter Indonesia Rizki Juniansyah, mencatatkan sejarah dengan memecahkan rekor dunia pada kelas 79 kilogram di SEA Games 2025.

Melihat hasil itu, apakah Kemenpora telah melakukan investasi bodong? Saya rasa banyak versi jawaban terkait pertanyaan itu. Tapi, hasil tersebut menjawab atau mungkin mematahkan pernyataan tentang diperlukannya sokongan dana besar untuk menciptakan prestasi.

Menelusuri persiapan cabor peraih medali yang jadi wakil Indonesia di SEA Games 2025, ternyata cukup banyak yang harus putar otak. Tidak sedikit juga harus tambal sulam demi program latihan berjalan dengan maksimal. Namun, berkat pembinaan yang selalu diupayakan berjalan baik dan continue selama bertahun-tahun, tantangan mampu mereka hadapi.

Satu contohnya adalah cabor panjat tebing. Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia Yenny Wahid sempat mengatakan, dalam tanda kutip kekuatan panjat tebing Indonesia diancam. Itu akibat, sempat ada penolakan untuk tim Panjat Tebing Indonesia menurunkan atlet andalan dengan prestasi dunia.

Karena itu, bertanding dengan skuad muda. Meski begitu, berhasil meraih empat emas dari enam nomor yangu dipertandingkan. Para atlet junior mampu unjuk gigi saat Veddriq Leonardo, Kiromal Katibin, Desak Made Rita Kusuma Dewi hingga Rajiah Salsabillah tidak bisa tampil. Cabor tersebut, memang secara continue menghadirkan berbagai kejuaraan berjenjang mulai tingkat daerah dan nasional.

Contoh lainnya bulu tangkis, proses masuk Pelatnas yang ketat dan berliku membuat kemampuan atlet benar-benar diuji. Perlu mengumpulkan banyak poin di Kejuaraan Sirkuit Badminton (Sirnas) untuk mendapat tiket seleksi nasional. Sekali Sirnas perlu merogoh saku dalam.

Setelah masuk Pelatnas, para pebulu tangkis menjalani latihan intensif dengan disiplin tinggi. Untuk bisa masuk tim SEA Games harus bersaing ketat dengan atlet potensial dari penjuru daerah di Indonesia yang ada di Pelatnas.

Sebetulnya, sepak bola sudah melakukan pembinaan dengan menghadirkan kompetisi berjenjang seperti cabor lain. Bahkan memanggil pemain terbaik untuk SEA Games tahun ini. Manajer Timnas Indonesia U-22 Sumardji mengklaim Garuda Muda punya persiapan dan skuad bagus. Di tambah dapat support luar biasa.

Perbedaan capaian antar cabor itu memang jadi tanda tanya besar. Terlebih Indonesia tidak kekurangan pesepak bola yang bagus. Setiap tahun, selalu ada wonderkid yang muncul di kompetisi. Fasilitas penunjang latihan juga jauh lebih bagus sekarang.

Problem tersebut tidak bisa diabaikan. Meski bukan ajang agenda FIFA, kegagalan di SEA Games harusnya jadi peringatan. Sepak bola nasional masih harus terus berbenah. Federasi dan masyarakat juga perlu menyadari hampir lolos ke Olimpiade Paris 2024 dan Piala Dunia 2026 hanya fatamorgana prestasi. Karena saat ini, hanya untuk bersaing di level sepak bola Asia Tenggara masih kesulitan.

Kalau PSSI mau, perbaikan bisa dimulai dengan menanggalkan gengsi. Mengakui kekurangan. Bukan sebuah masalah saat mereka ingin belajar dari cabor lain. Toh, cabor-cabor yang berprestasi lebih terbukti mampu membangun fondasi pembinaan yang kuat. (*)

Editor : A. Nugroho
#bola #indonesia #prestasi