Dari Ruang Kelas ke Ruang Sosial: Menyemai Generasi Al-Ma’un dari Sekolah Dasar Muhammadiyah
Aditya Novrian• Senin, 5 Januari 2026 | 15:37 WIB
Photo
Oleh:
Galih Waskito
Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar UMSIDA
Di sudut-sudut kampung di Madiun dan Malang Raya, masih mudah kita jumpai anak-anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan cukup, lansia yang menjalani hari dalam sunyi, atau keluarga yang harus berhitung ketat demi biaya pendidikan. Di tengah geliat pembangunan daerah, potret ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada angka rapor dan hasil asesmen. Pendidikan sejati diuji dari seberapa jauh ia hadir menjawab persoalan sosial di sekitarnya.
Tahun 2025 menandai arah baru pendidikan dasar Indonesia. Melalui Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025, pemerintah menetapkan Delapan Profil Lulusan Sekolah Dasar sebagai orientasi utama pembelajaran. Profil ini menegaskan bahwa sekolah dasar harus melahirkan anak-anak yang beriman, bernalar kritis, mampu berkolaborasi, mandiri, sehat, dan komunikatif. Namun, tanpa konteks sosial yang nyata, delapan profil ini berisiko menjadi sekadar slogan kebijakan.
Di sinilah sekolah-sekolah Muhammadiyah menemukan relevansinya. Dengan warisan nilai Al-Ma’un, Muhammadiyah memiliki fondasi ideologis yang kuat untuk menjembatani kurikulum nasional dengan realitas sosial lokal. Surat Al-Ma’un (QS. 107:1–7) mengajarkan bahwa keimanan tidak berhenti pada ritual, tetapi terwujud dalam keberpihakan nyata kepada kaum lemah. Inilah nilai yang seharusnya hidup di ruang kelas, bukan hanya di mimbar ceramah.
Sayangnya, dalam praktik pendidikan dasar hari ini, nilai Al-Ma’un masih sering dimaknai sebagai kegiatan amal sesaat. Padahal, Kurikulum Merdeka justru membuka ruang luas untuk mengintegrasikan kepedulian sosial ke dalam proses belajar sehari-hari. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mendesain pembelajaran yang lebih kontekstual dan berdampak.
Salah satu ikhtiar yang relevan dengan konteks Madiun dan Malang Raya adalah menghadirkan Projek “Kecil-kecil Peduli”. Projek ini merupakan pembelajaran berbasis proyek yang menautkan kompetensi akademik dengan aksi sosial sederhana, namun bermakna. Anak-anak tidak hanya belajar tentang kepedulian, tetapi mempraktikkannya secara langsung.
Melalui projek “Warung Pangan Sehat Berbagi”, misalnya, siswa diajak mengelola warung kecil di sekolah yang menyediakan makanan sehat dengan harga terjangkau. Hasilnya dimanfaatkan untuk membantu pemenuhan gizi anak dari keluarga prasejahtera di sekitar sekolah. Dari sini, siswa belajar empati, kerja sama, literasi keuangan sederhana, sekaligus kesadaran akan isu kesehatan masyarakat.
Projek “Dokumen Cerita Nenek-Kakek” mengajak siswa mendampingi lansia di lingkungan sekitar, mendengarkan kisah hidup mereka, lalu mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan atau media visual. Aktivitas ini menumbuhkan empati lintas generasi, keterampilan komunikasi, serta penghargaan terhadap nilai-nilai lokal yang mulai tergerus zaman.
Sementara itu, melalui “Bank Sampah Berbagi Beasiswa”, siswa dilatih mengelola sampah anorganik menjadi sumber dana untuk membantu kebutuhan belajar teman sebaya yang kurang mampu. Selain membangun kepedulian lingkungan, projek ini melatih tanggung jawab, kemandirian, dan rasa keadilan sosial sejak dini.
“Klinik Literasi” menjadi ruang berbagi ilmu, ketika siswa kelas atas menjadi tutor sebaya bagi adik kelas atau anak-anak di sekitar sekolah yang mengalami kesulitan belajar. Di sinilah anak-anak belajar bahwa pengetahuan bukan untuk disimpan sendiri, melainkan untuk memberi manfaat.
Pendekatan pembelajaran semacam ini sejalan dengan agenda Revolusi Mental dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Berbagai riset pendidikan karakter menunjukkan bahwa nilai-nilai moral paling efektif ditanamkan ketika siswa terlibat langsung dalam pemecahan persoalan sosial yang nyata dan dekat dengan kehidupan mereka.
Sudah saatnya sekolah dasar Muhammadiyah di Madiun dan Malang Raya tampil sebagai episentrum pendidikan karakter sosial. Diperlukan keberanian kolektif dari kepala sekolah, guru, dan pemangku kepentingan untuk merancang panduan Projek “Kecil-kecil Peduli” yang kontekstual, sederhana, dan mudah diterapkan.
Madiun dan Malang Raya tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi generasi yang peka, berani peduli, dan mampu menerjemahkan iman ke dalam aksi nyata. Dari ruang kelas hingga ruang sosial, inilah jalan menyemai Generasi Al-Ma’un—berangkat dari langkah kecil anak-anak sekolah dasar, untuk perubahan yang lebih besar bagi masyarakat.