KOMPETISI Liga 4 seharusnya menjadi panggung perkembangan bakat muda dan panggung pembelajaran disiplin serta sportivitas. Namun kenyataannya musim 2025/2026 iniyang berlangsung di berbagai zona regionaljustru semakin sering diselimuti oleh aksi keras. Bahkan jauh dari semangat permainan fair play.
Yang terbaru, pada 22 Januari lalu saat Persekam Kabupaten Malang berhadapan dengan Triple S Kediri. Kiper Persekam Juntak Wahyu “terpaksa” mengeluarkan jurus kungfu unruk menghentikan lawan.
Sehari sebelumnya, pada 21 Januari dalam laga antara PSIR Rembang dan Persikaba Blora di Liga 4 Jawa Tengah juga demikian. Terjadi insiden mengerikan berupa tendangan kungfu. Dalam video yang beredar luas di media sosial terlihat jelas bagaimana kiper PSIR RembangRaihan Alfariq mengangkat kaki terlalu tinggi saat berupaya menghentikan serangan lawan.
Kakinya menghantam dada pemain PersikabaRizal Dimas Agestahingga membuat korban langsung terkapar dan harus dilarikan ke instalasi gawat darurat untuk perawatan medis lanjutan. Insiden ini pun viral dan menuai kecaman keras dari publik sepak bola lokal.
Aksi seperti ini bukan fenomena tunggal. Sebelumnya di Liga 4 Jawa Timur, pemain Muhammad Hilmidari Putra Jaya Pasuruan juga melakukan tendangan keras bergaya serupa terhadap rivalnya hingga menyebabkan cedera serius. Kasus itu mencuat di media nasional, dan berujung pada sanksi tegas dari klub yang memecatnya serta tekanan dari Komite Disiplin PSSI untuk pengenaan hukuman berat.
Insiden-insiden seperti tendangan kungfu, tekel berlebihan, bahkan pukulan tak jarang mengundang sorotan tajam dari kalangan pengamat dan penggemar sepak bola. Mereka mempertanyakan bagaimana kompetisi yang berada di level paling bawah piramida sepak bola Indonesia ini bisa menjadi sangat kasar. Seakan tanpa kendali dan tanpa rasa hormat terhadap keselamatan sesama pemain.
Sebagian besar kasus ini memang terjadi di liga amatir yang minim pengawasan. Level kompetisi yang lebih rendah sering kali berarti wasit dan perangkat pertandingan yang juga masih dalam tahap pengembangan. Bukan tidak mungkin, kurangnya pengalaman dan ketegasan dalam mengambil keputusan justru memberi ruang bagi tindakan tidak sportif terus berkembang.
Di laga PSIR vs Persikaba, misalnya, ada kritik tajam bahwa keputusan wasit yang tidak langsung menilai pelanggaran besar itu sebagai tindakan yang layak diberikan kartu langsung memperburuk situasi.Namun akar permasalahan sesungguhnya lebih dalam daripada sekadar kesalahan individu.
Ada fenomena budaya kompetitif di level akar rumput yang terkadang mendorong pemain untuk bermain di luar batas aturan demi “menang dengan cara apa pun”. Termasuk aksi yang membahayakan lawan. Alih-alih mendidik generasi baru yang menghormati etika permainan, ini justru mencemari masa depan sepak bola nasional.
Dampaknya pun luas. Insiden kekerasan bisa memicu cedera serius, bahkan mengancam karier muda yang seharusnya baru mulai berkembang. Ini juga memunculkan tekanan emosional bagi klub yang harus mempertanggungjawabkan perilaku anggotanya.
Selain itu, citra kompetisi yang keras dan tidak disiplin tidak menarik bagi sponsor dan penonton.Dua elemen penting dalam mendukung keberlanjutan sepak bola di level lokal.
Perlu Aturan Tegas
Lalu bagaimana solusi yang bisa ditawarkan? Pertama, harus ada penegakan aturan yang tegas dan konsisten di semua level kompetisi, tak terkecuali Liga 4. PSSI dan Asprov harus memastikan seluruh perangkat pertandingan punya kompetensi untuk mengambil keputusan yang tepat. Termasuk memberikan hukuman setimpal ketika ada pelanggaran berbahaya yang jelas mengancam keselamatan pemain.
Sanksi berat seperti larangan bermain seumur hidup yang sudah dijatuhkan kepada kiper PSIR Rembang oleh Komite Disiplin PSSI Jawa Tengah merupakan langkah penting untuk memberi efek jera.
Kedua, klub dan pelatih harus lebih menekankan pendidikan disiplin pada pemain sejak awal. Mental sportif bukan sekadar jargon, melainkan prinsip yang wajib ditanamkan secara sistematis. Sesi latihan tak hanya soal teknik dan strategi, tetapi juga soal etika bermain, pengendalian emosi, dan memahami batas-batas legal permainan.
Ketiga, pengawasan kompetisi amatir perlu diperkuat dengan teknologi dan pengawasan independen. Misalnya penggunaan video assistant atau review pasca-laga pada insiden yang kontroversial.
Sehingga Komdis memiliki cukup bukti objektif untuk memberikan hukuman yang adil. Hal ini akan membantu mengurangi keputusan wasit yang semata-mata berdasarkan perspektif satu kejadian di lapangan.
Terakhir, masyarakat sepak bola juga memiliki peran. Suporter, media, dan komunitas sepak bola lokal wajib menolak normalisasi tindakan tidak sportif. Pujian atau sorak ketika ada pelanggaran keras justru memperkuat persepsi bahwa sepak bola adalah ajang adu kekuatan fisik semata, bukan pertarungan keterampilan, kecerdasan, dan sportivitas.
Sepak bola Indonesia memiliki potensi besar di semua level. Namun potensi itu bisa tergerus jika kompetisi akar rumput terus dicap sebagai ajang kekerasan. Liga 4 seharusnya menjadi batu loncatan bagi pemain muda untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi, bukan tempat di mana tendangan kungfu, tekel berlebihan, atau aksi yang membahayakan menjadi tontonan biasa.
Saatnya federasi, klub, perangkat pertandingan, pelatih, pemain, dan suportermengambil tanggung jawab bersama. Memperbaiki kultur permainan dari akarnya demi masa depan sepak bola yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih bermartabat.(*)
Editor : Aditya Novrian