TALI jagat adalah simbol Nahdlatul Ulama (NU) yang dibuat oleh KH Ridwan Abdullah atas permintaan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Sebuah simbol yang bisa diartikan sebagai semangat organisasi ini untuk menjaga dan merawat peradaban di muka bumi. Semangat yang sepanjang sejarah organisasi ini berdiri selalu terbukti kebenarannya.
Terlebih-lebih bagi bumi Nusantara, Indonesia Raya. Sejak masa-masa prakemerdekaan, masa revolusi, Orde Lama, Orde Baru, hingga kini, NU selalu menemani bangsa ini dengan segala dinamikanya. Menjaga dan merawatnya agar tidak tercerai-berai.
Sejumlah pengamat asing bahkan sering bilang, seandainya tidak ada NU (dan juga Muhammadiyah), bangsa dan negara ini sudah lama tercabik-cabik. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap utuh bertahan sampai sekarang, salah satunya berkat peran organisasi keislaman yang moderat ini.
Begitu pula yang saya rasa kan di Kota Malang ini. Dengan tingkat heterogenitas masyarakatnya yang tinggi, kota ini tetap ter pelihara kondusivitasnya. Ini salah satunya berkat peran NU yang selalu mendinginkan.
Pengalaman keagamaan saya yang lahir dan besar di Malang, banyak diwarnai oleh tokoh-tokoh NU. Saya belajar ngaji dari guru/ustaz yang berlatar NU. Saat kanak-kanak, sering menghabiskan waktu Ramadan di masjid Mbareng yang juga diasuh kiai-kiai NU.
Sepanjang pengalaman saya itu, pemahaman keagamaan yang disampaikan oleh tokoh-tokoh NU selalu bersifat menyejukkan. Tidak menghakimi salah benar, melainkan memberikan perspektif di balik pendapat-pendapat itu. Mengapa ini boleh dan mengapa itu tidak boleh. Dan, bingkai besarnya adalah persatuan. Kemaslahatan umum.
Sepanjang tidak terkait dengan hal-hal yang prinsip tentang akidah, pemahaman keagamaan yang disampaikan bersifat lentur. Konon, ini tercermin dari simbol tali jagat itu yang ikatannya tidak kencang, melainkan longgar. Ini mencerminkan bahwa ulama NU tidak boleh kaku.
Mengapa bisa begitu? Penjelasan yang saya dapat dari para kiai, ini karena NU punya empat prinsip dalam ahlussunnah wal jamaah (as waja). Yaitu, tasamuh, tawazun, ta wasuth, dan i’ti dal. Artinya, moderat/toleran, berimbang, berada di tengah, dan tegak lurus.
Bagi Kota Malang yang masyarakatnya sangat beragam, prinsip-prinsip yang diajarkan oleh kiai-kiai NU itu sangat dibutuhkan. Bisa dibayangkan, dalam satu kampus saja, jumlah etnisnya bisa mencapai 30-an. Sementara, jumlah perguruan tinggi di kota ini, baik negeri maupun swasta mencapai lebih dari 50 kampus. Belum lagi masyarakat dari luar yang sengaja datang untuk mengadu nasib di kota ini.
Keragaman yang begitu tinggi itu, jika tidak bisa dikelola dengan baik, sangat rawan memicu perpecahan dan konflik sosial. Sebab, tidak mudah hidup berdampingan dengan orang lain yang mempunyai banyak perbedaan dengan kita. Prinsip tepa selira, saling menghormati dalam budaya Jawa benar-benar diperlukan. Begitu pula dengan prinsip-prinsip aswaja yang dikembangkan oleh NU seperti di atas.
Perbedaan bukan untuk dihilangkan atau dileburkan. Akan tetapi, untuk dibiarkan hidup sesuai dengan cirinya masing-masing. Dengan begitu, kita bisa saling bekerja sama dan saling melengkapi. Bukankah begitu pula negara ini didirikan di atas luasnya wilayah dan beragam suku, agama, dan golongan penduduk yang berdiam di atasnya? Bhinneka Tunggal Ika.
Maka, menjadi relevan tema peringatan satu abad NU yang jatuh 31 Januari 2026. Yaitu, Mengawal Indonesia Merdeka menuju Peradaban Mulia. NU selalu berdiri di garda terdepan dalam mengawal persatuan bangsa ini sehingga NKRI yang didirikan para founding fathers tidak terpecah belah. Dan, itu adalah modal utama membangun peradaban.
Bangsa yang barbar, saling meniadakan dan saling bunuh adalah bangsa yang tidak punya peradaban. Beruntung lah kita punya NU yang nilai-nilainya mampu menjaga kerukunan masyarakat.
Organisasi ini juga punya kontribusi besar untuk mencerdaskan bangsa lewat berbagai lembaga pendidikannya, baik tradisional maupun modern. Bangsa yang cerdas lebih punya harapan untuk membangun peradaban tinggi.
Karena itu, sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada organisasi ini. Sebagai wali kota Malang dengan penduduknya yang sangat heterogen, saya berterima kasih pula karena telah menjaga kondusivitas kota ini.
Kepada para nadhliyin dari seluruh kota/kabupaten se-Jawa Timur yang hari ini memadati Kota Malang untuk merayakan seabad NU, selamat menikmati suasana di kota ini. Mohon maaf, jika ada kekurangan dalam penyambutan.
Kepada warga Kota Malang, mari berikan penyambutan yang terbaik. Mohon maaf dan mohon bisa dimaklumi, jika harus ada perubahan arus lalu lintas di beberapa ruas jalan. Setidaknya, itu menjadi bagian dari upaya kita bersama untuk ikut merayakan seabad NU sekaligus memberi penghargaan terhadap peran-perannya untuk bangsa ini. Yaumul milad. Selamat berharlah. Selamat berulang tahun.
Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela
Editor : Aditya Novrian